Cerita Ringkas Bulan Juli

18.56 0 Comments



oleh: aziz afifi

“Bagaimana dengan malam ini?” Begitulah geliat fikirku saat berhadapan denganmu malam ini. Aku dan kau sekarang ini serupa angin dan daun-daun itu. saling menyentuh dan memahami satu sama lain.  “adakah selain ini, kita dapat memahami satu sama lain?” pertanyaan itu serupa humus yang tetimbun didasar hati lantas meledak menyembur dipermukaan jiwamu.
Tiada kata, tak siapapun yang dapat menjawabnya. Tak juga dengan air laut atau ombak yang menghapus jejak angin. Kita sama terdiam, mersakan satu pertanyaan kepertanyaan lain. Selagi kita masih dapat mengeja bibir dan rahang kita yang mulai menggigil oleh angin dari botol senja tadi.
“pantaskah kita menanyakan ini?” kembali pertanyaanku terlontar. Tiba-tiba mimikmu tersa hambar da ragu-ragu. Entahlah, dari pertanyaan yang barusan aku seolang seseorang yang tak pernah percaya padamu. Semakin beku kita disana. “biarlah pertemuan yang ini angin ikut andil dalam memeluk kita”
Semalaman kita hanya duduk, menikmati kopi, angin dan debur ombak, tak luput serta secangkir kecanggungan. Kita yang saling memandang tapi hampa. Dan disanalah angganku kembali pada masa bulan juli. Ya, dari bulan itulah semua berasal dan semua telah terlahir, mulai dari beberapa puisi yang kau basahi dengan isak tangis sampai perasaanmu yang kau tumpahkan kedalam cerpen sederhana. Mungkin semua pembaca akan menganggapmu aneh dan terlalu mengambil resiko dengan segala ceritamu. Aku saja tak dapat menyangkal pertanyaan yang ada dalam otakku tentang  kau adalah orang yang tak ingin lepas dari kesepianmu.
Bahkan sekarang saja aku mampu menangkap segala cerita dengan gamblang?. Siapa tokoh atau beberapa sindiran yang kau haturkan kepada seseorang yang mungkin jauh darimu dan itu bukan aku. Aku tahu semuanya. Bagaimana tidak, dibalik sifatmu yang tenang dan jarang bicara. Terkadang kau dengan sembunyi-sembunyi mencuri pandang pada setiap detail dari ruangan ini. Bisa saja kau anggap aku  hanya bergurau. Tapi itulah yang kau lakukan  saat ini. Ketika kau sedang berharap akan menemukan sebuah tokoh dan cerita yang benar-benar  utuh dan bulat dalam panggung yang kau hadirkan saat ini. Panggung yang terlepas soal aku dan kemudian kau sebut sebuah ide gila. Kegilaan yang telah menjunjung sajak dan cerpenmu.
Nostalgia kecil memang. Saat beberapa waktu lalu kau terus memuji dan menanamkannya dalam dirimu. Adakah yang lebih sederhana dari itu?  ketika kau berhadapan dengan tokoh yang selau kau hadirkan dalam ceritamu dan sekali lagi ku pertegas itu bukan aku. kau lebih memilih menundukkan kepala dan tersipu saat kau menghitung namanya dalam anganmu. Dan dari situlah aku dapat menarik ceritamu yang pernah kau lontarkan padaku, bahwa didalam tubuhmu ada tiga karakter yang bersemayam. Kau juga menyebutnya satu persatu.
Ketika kau pendiam dan malu-malu seperti ini kau sebut dirimu Tiwi. Ketika kau lebih ceroboh dan cengar-cengir tidak jelas, engkau akan berkata saat ini aku sedang dalam penguasaan  Dian. Bagaimana dengan selanjutnya, tokoh ketiga itu. Si Pra?. aku belum paham betul. Menurutku saat ini aku hanya merasakan sama saja, hanya satu orang. Tak pernah ada yang lain selain Dian Pratiwi.
Dari situ aku bisa saja mengambil engkau adalah orang yang benar-bear bernyali besar. Bernyali untuk mengambil resiko dan memancing orang akan berkata padamu bahkan menggerutu “orang aneh”. begitulah engkau dalam gambaran cerita-ceritamu. Cerita yang  saat ini sedang engkau layangkan didalam beberapa lembar majalah. Tapi sejauh ini tak ada yang pernah berbicara padamu bahwa engkau aneh selain aku.
Dan juga dalam beberapa ceritamu, aku mampu menangkap engkau lebih suka berbicara sendiri. Berbicara dengan mesin ketikmu atau berbicara dengan empedumu. Aku tak lebih mengerti dan tak lebih tertarik cerita ringkas, jika itu bukan ceritamu. Entahlah? Dan pada waktu tertentu aku akan mulai mendebat tulisan-tulisan sederhana yang kau hadirkan itu. tapi pada akhirnya aku akan mulai meng-iyakan satu persatu teorimu. “Entahlah?” Sekiranya begitu saat aku mulai setuju denganmu dan mulai tertarik padamu secara utuh. Dengan ceritamu pula, seolah aku mampu merengkuhmu dengan mudah. Dengan segala atma dan segala perasaan kesetiaanku, meski tubuh yang kau hadirkan dalam penokohan ceritamu bukan aku.
***
            Hampir setengah jam dan kita masih membisu bukan? Seperti orang bengong dan orang tolol yang baru saja menjalani kisah hidupnya. “tapi masih bisa bukan, kau untuk meremas tanganku?” hitung anganku yang tak berkesudahan menyakinkan diriku sendiri bahwa engkau masih untukku.
Aku tak mau itu terbuang sia-sia, gara-gara hal sepele. Gara-gara aku tak ada dalam segala cerita ringkasmu. Aku tahu soal etika itu, bahwa seorang penulis apalagi pencerita ringkas sepertimu. Menulis masa lalu merupakan ide yang tak gampang hilang dalam perjalanan pengetikan. Dari pengalaman itu pula akan  menghadirkan rasa yang dalam untuk pembaca, bukan begitu? Aku juga pernah dengar celoteh kawanku soal sastra, bahwa sastra yang baik adalah sastra yang jujur.
Jika tadi kusebut engkau dalah wanita yang nekat untuk mengambil resiko. Aku juga merasakan hal sama dengan diriku sendiri. Aku juga telah memutuskan untuk menyanjung seorang pemuisi yang harus jujur dengan dirinya sendiri dan masa lalunya. Dan bukankah itu resiko yang harus ku terima sejak awal ketika aku mulai menyematkan sebuah ikrar. Entahlah, jika sekarang aku cemburu hanya perihal penokohan dalam  cerita ringkasmu maka bisa saja aku memaki diriku sendiri sebagai pengecut. Orang yang tak mampu menerima segala etika yang baru saja kusebut itu.
***
Bukit-bukit tenggara cafe yang memutar lagu kesukaan kita, tampak sedang bermandikan cahaya purnama. Dan kebekuan masih menjadi kita. Kita yang seharusnya menjadi pecandu malam, kini telah menguap kantuk untuk saling merebahkan keegoisan masing-masing ditempat berbeda.
“Jika aku tak bertanya bagaimana aku mengetahuinya?” Itulah fikiranku saat ini. Tapi bukankah kepercayaan itu kuncinya. Pada akhirnya pandangan kita bertemu, pada arus kopi yang teraduk perlahan, pada aroma teh yang kau hirup perlahan.
Maka malam ini aku putuskan, untuk menjadi sempurna. kembalikan dan sandarkanlah dendammu pada tanah yang terdasar dari lubuk hati, dan biarkan tumbuh menjadi pohon gandaria yang penuh keharumman kesetian.  Tetap saja aku ingin menjadi tokoh yang sederhana, namun tetap menemanimu dalam setiap dongeng dalam kertasmu. Bukan hanya itu saja, keinginanku hari ini_ saat menikmati kerling dan setuhan yang kau anggap pembicaraan ini _ serasa aku ingin menukar ruhku kedalam dirinya, itu saja. Agar engkau lebih sendu dan merasakan aku yang bukan biasanya. Agar aku mampu menjadi pencipta senyummu dan  yang  kau pandang dengan tegak lantas kau akan berucap “engkaulah puisiku dan aku ingin hidup bersama puisi-puisiku”

 
Rembang, Juli 2015

afifi

Some say he’s half man half fish, others say he’s more of a seventy/thirty split. Either way he’s a fishy bastard. Google

0 komentar: