Cerita Ringkas Bulan Juli
oleh: aziz afifi
“Bagaimana
dengan malam ini?” Begitulah geliat fikirku saat
berhadapan denganmu malam ini. Aku dan kau sekarang ini serupa angin dan
daun-daun itu. saling menyentuh dan memahami satu sama lain. “adakah selain ini, kita dapat memahami satu
sama lain?” pertanyaan itu serupa humus yang tetimbun didasar hati lantas meledak
menyembur dipermukaan jiwamu.
Tiada kata, tak
siapapun yang dapat menjawabnya. Tak juga dengan air laut atau ombak yang
menghapus jejak angin. Kita sama terdiam, mersakan satu pertanyaan kepertanyaan
lain. Selagi kita masih dapat mengeja bibir dan rahang kita yang mulai
menggigil oleh angin dari botol senja tadi.
“pantaskah kita menanyakan ini?” kembali
pertanyaanku terlontar. Tiba-tiba mimikmu tersa hambar da ragu-ragu. Entahlah,
dari pertanyaan yang barusan aku seolang seseorang yang tak pernah percaya
padamu. Semakin beku kita disana. “biarlah pertemuan yang ini angin ikut andil
dalam memeluk kita”
Semalaman kita hanya
duduk, menikmati kopi, angin dan debur ombak, tak luput serta secangkir
kecanggungan. Kita yang saling memandang tapi hampa. Dan disanalah angganku
kembali pada masa bulan juli. Ya, dari bulan itulah semua berasal dan semua
telah terlahir, mulai dari beberapa puisi yang kau basahi dengan isak tangis
sampai perasaanmu yang kau tumpahkan kedalam cerpen sederhana. Mungkin semua
pembaca akan menganggapmu aneh dan terlalu mengambil resiko dengan segala
ceritamu. Aku saja tak dapat menyangkal pertanyaan yang ada dalam otakku
tentang kau adalah orang yang tak ingin lepas dari kesepianmu.
Bahkan sekarang saja
aku mampu menangkap segala cerita dengan gamblang?. Siapa tokoh atau beberapa
sindiran yang kau haturkan kepada seseorang yang mungkin jauh darimu dan itu
bukan aku. Aku tahu semuanya. Bagaimana tidak, dibalik sifatmu yang tenang dan
jarang bicara. Terkadang kau dengan sembunyi-sembunyi mencuri pandang pada
setiap detail dari ruangan ini. Bisa saja kau anggap aku hanya bergurau. Tapi itulah yang kau lakukan saat ini. Ketika kau sedang berharap akan
menemukan sebuah tokoh dan cerita yang benar-benar utuh dan bulat dalam panggung yang kau hadirkan
saat ini. Panggung yang terlepas soal aku dan kemudian kau sebut sebuah ide
gila. Kegilaan yang telah menjunjung sajak dan cerpenmu.
Nostalgia kecil memang.
Saat beberapa waktu lalu kau terus memuji dan menanamkannya dalam dirimu.
Adakah yang lebih sederhana dari itu? ketika kau berhadapan dengan tokoh yang selau kau
hadirkan dalam ceritamu dan sekali lagi ku pertegas itu bukan aku. kau lebih
memilih menundukkan kepala dan tersipu saat kau menghitung namanya dalam
anganmu. Dan dari situlah aku dapat menarik ceritamu yang pernah kau lontarkan
padaku, bahwa didalam tubuhmu ada tiga karakter yang bersemayam. Kau juga
menyebutnya satu persatu.
Ketika kau pendiam dan
malu-malu seperti ini kau sebut dirimu Tiwi. Ketika kau lebih ceroboh dan
cengar-cengir tidak jelas, engkau akan berkata saat ini aku sedang dalam
penguasaan Dian. Bagaimana dengan
selanjutnya, tokoh ketiga itu. Si Pra?. aku belum paham betul. Menurutku saat
ini aku hanya merasakan sama saja, hanya satu orang. Tak pernah ada yang lain
selain Dian Pratiwi.
Dari situ aku bisa saja
mengambil engkau adalah orang yang benar-bear bernyali besar. Bernyali untuk
mengambil resiko dan memancing orang akan berkata padamu bahkan menggerutu
“orang aneh”. begitulah engkau dalam gambaran cerita-ceritamu. Cerita yang saat ini sedang engkau layangkan didalam
beberapa lembar majalah. Tapi sejauh ini tak ada yang pernah berbicara padamu
bahwa engkau aneh selain aku.
Dan juga dalam beberapa
ceritamu, aku mampu menangkap engkau lebih suka berbicara sendiri. Berbicara
dengan mesin ketikmu atau berbicara dengan empedumu. Aku tak lebih mengerti dan
tak lebih tertarik cerita ringkas, jika itu bukan ceritamu. Entahlah? Dan pada
waktu tertentu aku akan mulai mendebat tulisan-tulisan sederhana yang kau
hadirkan itu. tapi pada akhirnya aku akan mulai meng-iyakan satu persatu
teorimu. “Entahlah?” Sekiranya begitu saat aku mulai setuju denganmu dan mulai
tertarik padamu secara utuh. Dengan ceritamu pula, seolah aku mampu merengkuhmu
dengan mudah. Dengan segala atma dan segala perasaan kesetiaanku, meski tubuh
yang kau hadirkan dalam penokohan ceritamu bukan aku.
***
Hampir setengah jam dan kita masih
membisu bukan? Seperti orang bengong dan orang tolol yang baru saja menjalani
kisah hidupnya. “tapi masih bisa bukan, kau untuk meremas tanganku?” hitung anganku
yang tak berkesudahan menyakinkan diriku sendiri bahwa engkau masih untukku.
Aku tak mau itu
terbuang sia-sia, gara-gara hal sepele. Gara-gara aku tak ada dalam segala
cerita ringkasmu. Aku tahu soal etika itu, bahwa seorang penulis apalagi
pencerita ringkas sepertimu. Menulis masa lalu merupakan ide yang tak gampang
hilang dalam perjalanan pengetikan. Dari pengalaman itu pula akan menghadirkan rasa yang dalam untuk pembaca,
bukan begitu? Aku juga pernah dengar celoteh kawanku soal sastra, bahwa sastra
yang baik adalah sastra yang jujur.
Jika tadi kusebut engkau
dalah wanita yang nekat untuk mengambil resiko. Aku juga merasakan hal sama
dengan diriku sendiri. Aku juga telah memutuskan untuk menyanjung seorang
pemuisi yang harus jujur dengan dirinya sendiri dan masa lalunya. Dan bukankah
itu resiko yang harus ku terima sejak awal ketika aku mulai menyematkan sebuah
ikrar. Entahlah, jika sekarang aku cemburu hanya perihal penokohan dalam cerita ringkasmu maka bisa saja aku memaki
diriku sendiri sebagai pengecut. Orang yang tak mampu menerima segala etika
yang baru saja kusebut itu.
***
Bukit-bukit tenggara cafe yang memutar
lagu kesukaan kita, tampak sedang bermandikan cahaya purnama. Dan kebekuan
masih menjadi kita. Kita yang seharusnya menjadi pecandu malam, kini telah
menguap kantuk untuk saling merebahkan keegoisan masing-masing ditempat
berbeda.
“Jika aku tak bertanya
bagaimana aku mengetahuinya?” Itulah fikiranku saat ini. Tapi bukankah
kepercayaan itu kuncinya. Pada akhirnya pandangan kita bertemu, pada arus kopi
yang teraduk perlahan, pada aroma teh yang kau hirup perlahan.
Maka malam ini aku putuskan, untuk
menjadi sempurna. kembalikan dan sandarkanlah dendammu pada tanah yang terdasar
dari lubuk hati, dan biarkan tumbuh menjadi pohon gandaria yang penuh
keharumman kesetian. Tetap saja aku
ingin menjadi tokoh yang sederhana, namun tetap menemanimu dalam setiap dongeng
dalam kertasmu. Bukan hanya itu saja, keinginanku hari ini_ saat menikmati
kerling dan setuhan yang kau anggap pembicaraan ini _ serasa aku ingin menukar
ruhku kedalam dirinya, itu saja. Agar engkau lebih sendu dan merasakan aku yang
bukan biasanya. Agar aku mampu menjadi pencipta senyummu dan yang
kau pandang dengan tegak lantas kau akan berucap “engkaulah puisiku dan
aku ingin hidup bersama puisi-puisiku”
Rembang,
Juli 2015
.png)


0 komentar: