Tampilkan postingan dengan label Esai. Tampilkan semua postingan

Pancasila Sebagai Jalan Keluar Pendidikan

Pada sebuah diskusi, salah seorang teman menanyakan perihal pendidikan di negara ini. “Bagaimana sistem pendidikan yang baik untuk dijadikan kiblat di negara ini?” kira-kira begitu pertanyaannya terlontar.
            Pertanyaan itu merupakan bentuk respon betapa amburadulnya pendidikan kita ini. Kesan yang muncul adalah sistem pendidikan yang ikut-ikutan. Mencomot sana dan mencomot sini. Dalam sudut lain tentang amburadulnya pendidikan negara ini berupa kebijakan yang gampang berubah menyesuaikan siapa berkuasa.
            Lantas bagaimana kita akan merumuskan pendidikan negara ini. Perkara yang dilematis berupa negara ini bukan negara yang homogen. Negara yang mempunyai kultur yang berbeda. Karakter yang hadir juga beragam.  Pertanyaannya kembali lagi bagaimana kita merumuskan pendidikan negara ini. Bagaimana menjaga nasionalisme tetapi juga tetap mempertahankan khasanah daerah masing-masing wilayah.
            Sedangkan dalam pemetaan sendiri, pandangan pendidikan hanya dibagi menjadi dua. Konserfatif dan liberal. Perbedaan ini dasarkan pada penafsiran dan pembacaan yang berbeda mengenai apa itu kebenaran? Bagaimana meletakan manusia –dalam arti sebagai subjek atau objek? Dan pembacaan mengenai sistem sosial yang ada? Dari perbedaan itulah kita dapat memetakan mana yang termasuk dalam kategori konserfatif dan liberal.
            Konserfatif mempunyai arti lebih pada tradisional ini, menawarkan pandangan bahwa pendidikan tetap pada nilai-nilai, moral dan ilmu pengetahuan. Dalam lingkup nilai dan moral. Pendidikan bisa mengacu pada agama. Seperti yang selalu dilakukan oleh pesantren. Dimana tujuan utamanya dalah selalu dekat dengan tuhan. Meskipun dengan begitu, tidak lantas kita katakan bahwa pendidikan semacam ini tidak mementingkan pengetahuan. Justru di sinilah letak bagaimana pengetahuan di peroleh tanpa sadar oleh para pelaku pendidikan disana.
            Pandangan yang kedua adalah pandangan liberal. Pandangan ini adalah lebih melihat sisi berbeda dan bebas dari seorang individu. Maka tidak mengherankan jika teori dalam pendidikan ini lebih menonjolkan bagaiman pendidikan menjadi pembebasan dan alat penggerak sosial. Lantas pertanyaan kita bagaimana sistem negara kita bertempat? Dari kedua pandangan tersebut, sistem yang relevan untuk negara ini yang mana? Pertanyaan-pertanyaan tersebutlah yang lantas timbul dalam pemetaan saya.
Pendidikan bersistem gabungan
            Menjawab perihal bagaimana sistem pendidikan, tentu dengan melihat tujuan dan falsafah orang Indonesia itu sendiri. Dengan demikian maka pendidikan Indonesia adalah mengacu pada pancasila. Pancasila telah menjadi idiologi dalam segala lini, mulai dari politik, pandangan hidup dan lain sebagainya.
            Namun bagaimana sistem pancasila itu sendiri dalam pendidikan? Dalam sejarah memang pancasila sudah dibterapkan sebagai pendidikan yaitu pada orde baru. Namun pada era itu pendidikan berbasis pancasila hanya sebagai bentuk propaganda dan penguatan rezim saja. Siswa hanya diajarkan pada permukaan saja. Alhasil siswa hanya menghafal secara text tanpa mengetahui apa yang ada lebih jauh dari nilai sila-sila yang ada.
            Pancasila pada era ini- dalam konteks pendidikan- harus dimaknai lebih dari sekedar itu. Siswa harus dituntut menghayati apa yang ada didalam. Hal ini akan terealisasi jika pengajar dan masyarakat mendukung dalam pengajaran. Seperti pada trisentra yang dikemukakan Ki Hajar Dewantara. Bahwa pendidikan itu bukan hanya melibatakan satu unsur dalam membentuk karakter siswa, melainkan melalui keluarga, masyarakat dan sekolah  itu sendiri.
            Jadi pendidikan yang berbasis pada pancasila mampu menjembatani kedua pandangan tersebut keduanya liberal dan konserfatif. Pendidikan ini mampu mengkofer konserfatif karena pendidikan pancasila menberi “bentuk” nilai atau moral dalam sistemnya, karena ini didasarkan pada bentuk sila pertamanya yang berupa ketuhanan.
            Sedang sisi lain adalah mampu mengadopsi sisi liberal juga. Yaitu tercermin pada sila terakhirnya. Dimana pendidikan ditujukan untuk membentuk lingkungan sosial. Dimana ciri ini mewakili pendidikan liberal itu sendiri.
            Maka kenapa harus mencari sistem negara lain. Karena pada masalah pendidikan memang tidak bisa dihadapi dengan cara kaku, berupa menerapkan satu sistem saja. Melainkan kita harus flaksibel. Karena Indonesia adalah negara yang kompleks. Dengan sistem pancasila, secara tidak langsung pendidikan sudah memetakan mana ranah lokal dan nasional. Disanalah keberhasilan sebuah bentuk pendidikan.


                                                                                                                        Maret, 2017

Sebelum Mengenang Chairil

dok. internet
Aku Bukan Binatang Jalang, begitulah Chairil Anwar memperkenalkan dirinya pada kita saat masih di SMA. Dengan puisi sederhana dan lugas inilah, guru Bahasa Indonesia lebih memilihnya sebagai praktik bersastra ria di dalam kelas. Dengan karakter yang tegas dan lugas tentu tidak perlu susah menerjemahkannya. Selain itu pula, bangku SMA terutama dalam dunia perfilman, juga memperkenalkan Chairil lewat film yang berjudul Ada Apa Dengan Cinta (AADC). Bukan lewat tokoh Rangga, melaikan lewat buku yang berjudul Aku. Buku yang seolah menjadi tokoh lain itu secara tidak langsung mempunyai peran penting dalam memperkenalkan Chairil Anwar.
Buku yang bercerita mengenai kehidupan Chairil beserta puisi-puisinya itu merupakan karangan Sjuman Djaya (sutradara film era ’70-an). Mulai dari kisah masa kecil sampai kematian Chairil. Selain itu, jauh sebelum lewat buku Aku dan AADC, Chairil sudah dikenalkan oleh HB. Jassin sebagai “paus sastra” pada masanya.       
Chairil Anwar, pelopor angkatan ’45. Begitulah HB. Jassin memperkenalkan Chairil bersama Asrul Sani dan Rivai Apin pada dunia kesusastraan Indonesia. Perkenalan ini tidak semata-mata omong kosong belaka. Kritikus sastra ini memperkeanlkan Chairil karena sajak-sajak yang mampu mendobrak kesusastraan Indonesia. Gaya sajak ala Chairil berupa hentakan-hentakan kecil, memberi warna baru dizamannya. Persajaakan modern, begitulah kemudian “batas” yang ditimbulkannya.
Meskipun terbilang singkat, Chairil sudah mampu menjadi pengubah sebuah era persajaakan di Indonesia. Hanya tujuh tahun, adalah waktu yang ditempuh Chairil berkecimpung dalam dunia sastra. Karena pada tahun ’49, Chairil telah menghadapi ajalnya. Dalam rentan waktu itu, HB. Jassin menjumlah ada 94 tulisan. Adapun tulisan itu berupa prosa dan puisi (terjemahan maupun asli). Tebilang sedikit memang untuk ukuran seorang sastrawan yang termasyhur sampai sekarang.
Penjumlahan ini berdasarkan tahun yang tertera pada setiap puisi Chairil. Pada tahun ’42 puisi “Nisan” menjadi puisi pertamanya, sekaligus menjadi puisi yang menyetorkan namanya kejajaran para sastrawan di negeri ini. Pada ’43 dan’46, dengan masing-masing 31 dan 13 sajak adalah masa tersubur Chairil Anwar dalam membuat sajak. Sedangkan pada tahun lainnya ia hanya mampu mengeluarkan sekitar 2-4 sajak saja.
Hal ini pulalah yang menjadi sorotan paling menarik dari diri Chairi Anwar. Chairil bukanlah orang yang pandai membuat puisi sekali duduk. Dalam buku HB. Jassin, Chairil Anwar Pelopor Angkatan ‘45, menunjukkan bahwa banyaknya coretan yang terjadi pada sajak Chairil adalah salah satu buktinya. Sedangkan dalam pembuatan sajaknya, Chairil membutuhkan waktu berhari-hari bahkan sampai berbulan-bulan. Pertimbangan ulang yang dilakukan oleh Chairil inilah yang melatarbelakangi lamanya pembuatan. Meskipun sajak itu sudah terbit sebelumnya. Wajar bila dalam satu sajak Chairil banyak kita temukan perbedaan atau tambahan dari sajaknya tersebut.

Kontrofersi

Lingkungan dan buku merupakan salah satu pembentuk tekstur dari sebuah sajak. Begitupun yang terjadi pada sajak Chairil Anwar. Sifat berontak yang ditunjukkkan pada sairnya merupakan bentukan dari masa kecilnya. Begitu pula dengan buku atau refrensi sajak yang telah dibaca. Diantara penyair yang mempengaruhi gaya berpuisi Chairil adalah Slaerhouff dan Marsman. Selain itu aktifitasnya sebagai penerjemah, tak menutup kemungkinan mempengaruhi bentuk atau corak dari puisinya.   
Tak khayal memang kalau Chairil mempunyai banyak kesamaan dengan kedua penyair tersebut dan juga penyair lainnnya. Kesamaan itu berupa bahasa dan gaya hentakan yang menonjol pada puisi-puisinya. Dari kesamaan ini pula banyak menimbulkan kritik bahwa Chairil melakukan plagiat.
Dalam bukunya HB. Jassin kita bisa melihat banyaknya kesamaan tersebut. Contoh dalam puisi Marsman “In Memoriam Mijzelf” dengan puisi Chairil “Kepada Kawan”, yang mempunyai kesamaan sebagaian isi pikiran tetapi maksudnya berbeda. Contoh lain yang dipaparkan oleh HB. Jassin yakni mengenai puisi Charil yang hampir persis dengan puisi Lorca. Puisi itu hampir mempunyai tekanan yang sama.
Dalam puisinya, Lorca mengatakan “Wahai! Amat panjangnya jalan!”. Puisi ini lantas dibandingkan dengan puisi Chairil yang berbunyi “Amboi! Jalan sudah bertahun-tahun kutempuh!”. Tapi dalam komentarnya HB. Jassin juga memberi pembelaan, bahwa puisi itu jelas-jelas tak ada hubungannya. Lain halnya dengan Buyung Shaleh yang berkomentar bahwa Chairil dengan sengaja memindahkan suasana Spanyol ke suasana kepulauan Indonesia.
Selain itu kasus plagiat yang dilakukan bukan semata-mata dari Chairi Anwar sendiri. Tetapi  tak jarang, kasus seperti ini akibat dari kesalahan cetak oleh penerbit. Seperti sajak “Kuda Jalang” yang dicetak dengan nama Chairil, tetapi sebenarnya puisi itu milik Rustandi Kartakusuma. Hal ini sesuai pengakuan oleh New Haven, pada 22 februari 1959 pada pendahuluan cetakan kedua.

Siapa di balik Chairil?

Kasus plagiasi adalah hal yang paling mencoreng nama Chairil. Lantas bagaimana nama Chairil tetap saja diperbincangkan sebagai pelopor. Kenapa tidak Asrul Sani dan Rivai Apin, yang juga disebut-sebut oleh “paus sastra” sebagai sang pelopor juga.
Layaknya sebuah perahu, begitulah sejarah. Siapa yang memegang kendali perahu, itulah yang akan melabuhkan kemana perahu itu bertepi. Begitupun dengan nama Chairil yang diperkenalkan oleh sebuah sejarah. Tentu kita akan bertanya, siapa yang menggendalikan perahu (sejarah) saat itu?
Mengenai hal ini, tak salahnya sedikit menyinggung borok lama negara ini. Tepatnya pada era ’65. Dimana Manifes Kebudayaan (Manikebu) menjadi nahkoda sejarah saat itu. Menyusul kemenangannya terhadap Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat), karena dituding sebagai lembaga milik PKI oleh Soeharto.
Dengan konsep Humanisme Universal inilah, Manikebu mampu merebut hati Soeharto. Konsep yang mengusung bahwa sastra harus bebas dari segala belenggu muatan ideologi dan politik manapun. Dengan konsep ini pula, Manikebu menjadi lembaga budaya yang tidak berbahaya bagi kedudukan Soeharto pada saat itu.
Dalam lembaga itu pulalah seorang HB. Jassin bernaung dan mampu membesarkan nama Chairil Anwar. Meskipun HB. Jassin juga memperkenalkan Asrul Sani dan Rivai Apin, tetapi kedua tokoh sastra itu mempunyai latar belakang politik. Secara tidak langsung, kedua orang itu tersisih dalam perkembangan sejarang. Apalagi Rivai Apin yang bernaung didalam Lekra, Tentu kiprahnya tak banyak dikenal di indonesia.
Tentu dengan kontroversi dan orang dibalik Chairil itulah. Kita harus senantiasa menimbang kembali perihal Chairil. Sebelum kita mempringati kematiaannya yang jatuh pada bulan ini juga. Selain itu, sekolah-sekolah tidak semata-mata hanya memperkenalkan Chairil sebagai pelopor. Tokoh lainnya pun harus ikut ditelaah bersama, guna memperkembang kesusastraan yang sudah hampir dilupkan itu. Hal lain juga, agar perkenalan itu terasa berimbang.             
Lepas dari itu, Chairil Anwar tetap harus juga dicatat beserta sajak-sajaknya, sebagai pelopor. Tidak dipungkiri bahwa dengan dobrakannya melalui puisi yang bebas dan mempunyai hentakan itu, perkembangan puisi Indonesia menjadi dinamis. Corak puisi Indonesia tidak lagi menuntut pakem berupa kesaman rima atau lain sebagainya, seperti pada masa puisi pujangga lama dan baru.


Bar tau neng  www.lpmedukasi.com


    

Cinta?


rumpun dimana aku berteduh
terbakar menjadi unggun
dengan api merah jambu

mati dan hidup tipis dimata
hanya kabut biru tua menjelma
mengeja
menuliskan
dan bertanya: cinta?