Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Kota


Tulislah tentang rentang jalan kota:
Ruang yang mengembalikan semua keramaian dan ingatan
Di gemilang mata lampu
Aku sakit: batuk dan asma
Ada kemacetan yang merapat didadaku dan mata merahku

aku ada, ingin reda;
Aku ingin kembali ke musim segar
Menuju nafas kita yang dikemas
Di kandangkan
Mendengar gema adzan sumbang dan rasa asin pada pasir pantai yang lupa kita simpan.
Aku ingin pulang tanpa kemacetan.
2017

Dengan Senja Yang Sama

Mungkin pada puisi di koran
Usia kita akan dikabarkan
Usia kita saling gugur sebelum gelap
Namun kapal kita dalam seteru badai pada langit dan gemintang indah

Pada pinggiran langit yang ranum buah melon
Kita gugurkan usia bersama seperti seorang gadis patah hati meratap hujan
Pada senja yang sama
Aku punya satu
Dan kau punya yang lain
Dan kita punya benda masing-masing

Pada senja yang sama
Mungkin akan diwartakan
Kita pengarang puisi yang berjatuhan pada masing-masing kota kita

                                                                2017

Otobiografi Jagung Bakar

Aku memanggang ini dalam bara puisi-puisi yang tak pernah jadi, bersamaan dengan teh hangat dan rengkuhan jalan raya yang bising. Mengisi dengan trauma sambal-sambal makan yang mencairkan tubuh masing-masing dari kita
Mungkin itu sebabnya kau memilih menjadi kecap yang berlendir hitam, ada juga sedikit rasa garam disana. Tapi tak pernah kau merasakan sebuah cerita dari jagung bakar tanpa saus yang meleleh pada piringmu. Ia sudah bunuh diri disana, menjadi buku yang tak bisa di terjemahkan.



                                                                                                                                                                                                                                                                                           2017

Evolusi batu-batu



“perubahan adalah sebuah kendaraan besar,
untuk siapapun yang tak mau jadi batu”

-- Afrizal Malna

Pikirlah, kita sebongkah batu, kita ingin jadi rumah-rumah, berdinding kaca, beratap malam dan langit tiba-tiba melengkung menimpa kita; Tanpa bintang.
Kita sebongkah batu, ingin menjadi jalan-jalan beraspal dan trotoar yang tiba-tiba senyap dari tukang kaki-lima. Pikirlah.
Kita sebongkah batu, menetap pada kepala kita akhirnya, melepas kisah yang aneh, bahwa kita semacam pendendam yang baik-baik.
Kita sebonngkah batu, tidurlah-tidurlah jadi batu-batu cadas,

Kita sebongkah batu, dan ini untukmu....batu yang sendu.
                                    
                                                                                                                          2017

Andai Puisiku Kotak makan

Andai puisiku

Andai puisi tempat makan
Aku akan mulai mengisinya dengan hal-hal sederhana
            :nasi yang mengenyangkan, menjadi sayur yang harum penuh daun bawang dan menjadi karamel manis saat kau di apit kegelisahan

Andai puisi ponsel: aku akan mengisinya dengan lagu yang bisa kau kemas setiap saat. Menemanimu berkeliling dengan rasa segar, menjadi pesan-pesan yang memberimu pesan “jangan melupakan bahwa kau belum bahagia, bahagialah”

Andai puisi ini adalah meja makan: maka akan kusiapkan diriku disana dengan pakaian yang paling formal, dasi dan kemeja, yang selalu membuatmu menjadi bocah.


Jika itu seandanya saja

Kau Kirim Hujan Lewat Ponselku


Andaikan saja kita tak pernah berurusan dengan waktu, jarak dan mimpi. Mungkin tiada dongeng yang membuat malam ini menjadi lama betul. Menumpuk buku dan langit menjadi satu hal terindah kala ketukan pintu itu menjadi sangat jelas.

Engkau lebih suka berdiri lama dihadapan pintu dan sesekali memukul-mukul rindumu yang tak pernah tenang.

Hari ini beberapa orang bisa saja mengubah wajahnya menjadi bunga yang rekah dan segar. Karena mereka tau hujan yang telah terkirim pada ponsel dan dering telpon mereka. semisalnya kopi malam ini, aku menenangkannya dan menambahkan gula agar engkau tak selalu hambar bagiku.

Bagaimana dengan senjanya? Apa engkau juga mengubahnya menjadi mawar yang baru saja di ceritakan oleh Aam.

Aku juga sama ubahnya orang-orang. Kau kirimi aku hujan lewat derit telponku saat pagi masih dengan tongkat tebutaan. Mungkin lebih menyusahkan malaikat kala doamu setinggi langitmu.
Masih dengan harga yang sama, aku adalah kabut serta darah yang kau ceritakan pada kemudian hari. Dan setia di batang pohon kala engkau pergi dengan cahaya langit yang sebentir matamu.

Jengah


Sumpah!
tumitku adalah rayap.
tak lantas diam pada sebuah tiang bendera
dengar pada batinku juga ada sebuah residu
mungkin sisa semalam, dari kopi dan sepotong korek
bagaimana jika bersabar?
kurasa tidak cukup
aku punya doa yang masih diambang semalam........
dan pada saat itu pula kau juga dengar
"lihat bulan bulat merah
penuh badan
kita kuyup dengan tawa"
harusnya itu jadi sair semalam
ingin dan saatnya pengen jadi nabi
mampu menyabarkan setiap abstraksi dalam dadanya.

iluatrasi: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgA4UcYtpQ_pmHBuuUkMwVNw6_PDW0DvGfHXX8gzEpCX2wCLbiEB3R_ilzoYKV4dzRX65reFzNkyF2Zj8pDqMz7B4IB6VKyPpBURLhtq4t5rKhYrBIcGFZ1omQ-63KFDAXTLE_517GxZ_ai/s1600/lukisan+abstrak.JPG

Sair Semalam

  Disini ada tiga pejalan kaki
-satu membawa tubuh apa adanya
dan dialah yang paling di depan
menyimpulkan setiap kisah dengan apa adanya

-kedua tak jauh dari jengkal tubuhku
bersimbah senyum simpuh pada penyimpulan yang pertama
dia jadi penikmat semuanya dan harus tetap terbiasa rasanya
-yang terakhir
jauh bersemayam menjadi darah
ia punya kesimpulan yang sangat rumit
ia berkata sambil terhuyung nyengir
"ada lampu yang selalu ada pada jalan"
lantas kami duduk dan menanak ketiga orang
di dasar yang sudah purba dan lama itu
dalam panci besar
seperti bosanku saat ini.
Ilustrasi: http://sketsapencil.co/wp-content/uploads/2013/05/membuat-sketsa-wajah-dwayne-johnson.jpg

dupa malam ku

malam-malam
aku sembahkan setumpuk al-kisah
diantara warna-warni darahku
diantara jatungku yang berdebar-debar

ah
bau tubuhmu dupa malam
matamu bulan dicambuk ilalang
nanti aku berdiri sendiri
menghayalmu dengan seluruh

lupakan-lupakan
karena aku ingin biasa saja
saat menghayatimu

dupa malamku
persembahan malamku
mimpi senjaku
dan engkau, aku ingin seluruh kisah-kisah sejenak yang dapat membisukanku
tapi tetap tentangmu

Seuntai Cinta untuk Menjangan

aku memang keras kepala
aku tak mungkin menghentikan pengejaranku: untuk sebuah rusa yang ku anggap molek

nanti biar aku lelah sendiri
tak usah kau bujuk-rayu rendah riuh itu pula
jika ku tak suka 
lari saja terus hingga kerlingku tak mungkin dapat menangkapmu
atau pilihan kedua
lari saja terus hingga nanti aku atau engkau yang tersesat didalam rimba pengejaran.

cintaku memang panas :
ceritanya adalah angin gurun yang turun pada lembah pasir
dan tak mungkin ada kemah sejuk disana
jadi tetap ku giring nafasku, deru jantungku, dan keras kepalaku
untuk mengejarmu.

nanti engkau kan mengerti
aku lebih keras kepala untuk ini.
karna hidupku tak ada yang senasib
kecuali mereka yang membuat kesepakatan untuk senasib
_begitu pula yang ku inginkan antara aku dan engkau
yang serupa menjangan yang kukejar oleh busur dan kunaiku.

Angin Gantung Diri

angin tak lagi semestinya
memijit kakiku dengan lembut seperti dahulu
atau membelai kepalaku yang pening ini

angin yang seharusnya singgah mengetuk pintu
kini kabur mencari diri sendiri dilembah-lembah terjal
di pantai dan ngarai landai
dan dipemakaman batu

dihutan tak bertuan
angin lelah, penat dalam kesendirian
tangannya merangkak pada dinding-dinding kebosanan
antara doanya ia menyebut dewa pembawa mala petaka

angin telah gantung diri pada anggannya
ia telah bosan dan penat berkelana mencari angin yang serupa
bahkan dewa dan iblis pun jadi sama saja
bagai tuan penghuni dirinya

angin mati bunuh diri
dirantai angan dan hayalnya
yang tak sesetanpun yang tau

dan aku disitu
berdoa dalam bosan dan penat pula 


Sudah Tak Majnun

"jika majnun kita tak lagi menjadi sendu sang laila"
M. Iqbal


nanti antara nyama dan atma setara  angin
engkau kujelmakan menjadi puisiku yang tak lagi lara
engkau akan ku jelmakan
nafasku yang tak lagi tersedak
dan engkau kan jadi biduri yang tak lagi punya sayap
pun aku yang tak lagi gila memburumu
yang tak lagi memamah apa yang tak mungkin ku pamah
karna cinta mu adalah obat-obatanku
yang ku sebut itu candu
dan kemudian itu candu menjadi jeladri tak lagi menggenang di kaki mejaku

Ajal

bila peluh jadi keruh
nanti mati juga sendiri dan peluh
memeluk batu berpanggut

kawanku akan bercerita
tentang engkau yang menybrang malam
antara kabut semak belukar itu

bila hening kau temu
aku tersendat malam tanpa suara
tanpa pula suka
dan engkau
rona ajalku, sayang

manuskrip sunyi

aku berbincang pada sunyi
meraba tembok kosong yang sepi
aku menalu, memukul air
dalam jambangan tempat ku mengusir gerah

aku berbicara pada sunyi
duduk dalam teras menemu ajal kan datang
sembari menunggu ku buat diriku berarti
seperti doa-doa biku yang tak menau akan melabu

aku berdiri diatas sunyi
dan engkau depanku akan menjadi api
pematik dan pembakar  puluhan sajakku
di laci , dan itu tak mungkin berarti

tanah biru
lumut hijau
dan bibirmu abu-abu
aku tak tau itu

dan akhir, doaku
aku bisu
dan mati rasa
seperti halnya engkau. telah hilang tiada kabar atau bara

sebuah foto diakhir minggu

"tataplah, hingga kau temukan kebosanan"
suaramu diakhir minggu ini
pada sebuah pigura foto--disana ada wanita berkerudung biru muda--

"pandanglah sampai engkau bosan, hingga foto itu tak lagi mengundangmu
untuk menerima kehadiranya seperti dahulu"
pintu kamarku semakin tergeser, oleh asin laut

"tahan langkahmu disitu, jangan pernah kau mendekat jendela, aku takut engkau akan menyingkab tirainya dan menatap senyumnya-ranum- itu lagi
dan burung merah jambu akan datang padamu beserta dewa Eros--
"pada sebuah foto itu, buatlah dirimu jemu sejemu-jemunya hingga engkau lupa hari ini pernah pertanyaanmu terjawab "terimakasih" di akhir minggu pula.

Mei Ini


subuh ini
aku benar-benar mengenalnya
dari arah pandangku--ada beberapa camar dari pelabuahan--ia mengusung sanak keluarganya
dan bau kopi tetangga belakang pintu rumahku benar-benar pekat

matari di sekitar ubun-ubunku
aku juga kenal sebelumnya--
nanti kau bisa temukan anak berlari menghindari angin dan koar orang tua mereka menahan langkah kakinya

dan sore ini
aku juga masih tak asing
ada mentari yang merapat di dermaga
beberapa induk semang ayam berkokok memanggil anaknya
bayang-bayang pun jadi begitu tambah  panjang untuk merengkuh tiang listrik yang jauh

tapi malam ini
aku mulai tak mengenalnya
tiba-tiba mawar yang kemarin kau pupuk dan kau siram dengan air jambangan
tiba-tiba kau petik kelopaknya --satu persatu-- dan kau tebarkan
berharap engkau akan dapat temui ia berjalan ke arahmu
--sambil mengatakan, aku berdiri dan menangis untukmu juga-- aku seperti halnya engkau

Dialog (malam)


(1)
 Pada suatu waktu aku berkata padamu
“Aku rindu”
Pada kala itu pula kau habisi aku dengan bahasamu
“Apa yang kau tukar, untuk rindu yang akan kulempar balikan itu?”
“Aku punya puisi dan kesetiaan” malam tambah lindap
“Tak cukup untuk membayar semua rindumu”
“Lalu?” dalam sempit secangkir kopi aku beranikan berenang
Meneguk penasaran
Sampai penghujung malam, cangkir mulai kosong
Dan sunyi kian menyereruak.
Dan akhirnya engkau diam membinasah.
(2)
Malam ini bulat dan telanjang
Si Nona depan mataku berbicara panjang lebar tentang dirinya
Dan tak ketinggalan, cintanya
Sendu rendah kali ini

“Cintaku tak mungkin terbawa lari”
“Kau harus putuskan Nona, taruh koper atau kemeja disini”
“Mantel siang hariku yang kehujanan”
“Apa kau akan bawa ke pelukan lain?”
 “Entah? bila itu dapat meredam dendam ini, mungkin iya” sambil mengisak redup mata

Semarang, April 15

Maukah?



Maukah engkau menjadi pemanis
Saat secangkir kopi ini terasa hambar?
Dan kita bisa ngobrol larut malam
Hingga tak ada diantara kita
Waktu yang tak merindu

Mau kah engkau menjadi
Sekuntum mawar merah
Kala dinding ini terasa membosankan?
Nanti kita dapat bersandar
Memeras indahnya ruangan yang teramat membosankan ini
Atau
Mengijinkan aku menjadi embun penantianmu
Menungmu turun perlahan di kebun teh dulu kita berbicara
Panjang lebar soal malam

Maukah engkau
Seperti itu, sayang 
Menambatkan dirimu disini
Dan miliki aku dengan keresahan dan kebodohan yang ku ciptakan untukmu?                                                                                                     
Semarang april 15

Secangkir Kopi


secangkir kopi
dengan penasaran
dengan kosong melompong
dengan nada garang
dengan kehangatan
dengan kerinduan
dengan dendam
dengan dongeng
dengan nama
dengan kamu
aku di hadapkan secangkir kopi kosong
dan harus bicara apa adanya

malam ini

masih dengan dongeng yang sama
dan hujan bagai bunga melati dalam sanggul pengantin
 jatuh betebaran

kita bahkan dengan wajah yang sama
senyum nan serupa
kerling kita saling berbicara
"ada sekuntum rindu tak teralamatkan"

ditengah hujan, kian genjar pula rinainya
kita beranjak, berdiri tegak
menatap angan hampa.

lekas kemudian reda ini hujan
ku persilahkan kita saling membubarkan diri
dan memanjat sarung-sarung kita
dengan alasan kehangatan sahabat