Angin dan Api Lilin
| Dok. Internet |
Aku pernah menghantar Colombus
menjelajah dunia, aku telah menyiulkan suara yang dilantunkan oleh Rumi dan
kini bisakah kau lihat dia. Bertapa ia sahdu dalam nyanyiannya dihadapan Tuhan.
atau aku adalah yang mengajari pangeran terbang di sekitar langit, walaupun aku tak bisa menghantarnya
ke putri yang ia impikan. Karena aku sungkan menembus langit yang berlapis itu.
Tapi pernah kau
percaya? Bahwa angin dan api pernah bersatu, menghantarkan permohonan seorang
hamba pada Tuhannya. Ku ceritakan padamu, pada hari-hari Waisak, akan ada beberapa
orang dibelahan dunia ini menghantar
doanya dalam lampion-lampion. Aku menghantarnya pada ujung langit dunia saja tapi
tidak sampai ujung langit tempat Tuhan mereka bersemayam. Jangan kau tanya
mengapa? Karena aku sudah menjelaskannya padamu tadi. Aku tak sanggup menembus langit
dunia.
Yakinlah, ku rasa doa
mereka terkabul, bukankah Tuhan pendengar yang baik? Aku angin, tapi bolehkah
ku dengar sedikit tentang ceritamu. Api lilin- ah.., selain itu orang-orang
akan memadamkanmu juga menggunakan udara, pada pucuk-pucuk kue ulang tahun. Kurasa
kau sama denganku, berbeda saja, kau menyembunyikan diri dalam padammu, kala
menyampaikan doa mereka kepada Tuhan. sedangkan aku, menampak diri bahwa aku
ada. Bukan masalah pamer, bukankah itu adalah waktuku membuktikan bahwa aku
ada.
Malam selajutnya akan
sama dengan malam ini, kupastikan begitu. Aku siap menggodamu dengan sepunyanya
aku. Puisi? gampanglah itu, nanti ku bawakan kau dari Nerudo “Tuhan memainkan
dadu”. Chairil “Bersandar pada tari warna pelangi, kau depanku bertudung sutra
senja”. Sapardi “aku ingin mencintaimu dengan sederhana” itu saja. nah-nah bisa
kau rangkai sendirikan sair-sair itu. Anggap saja semacam bunga, dan taruhlah
cintaku adalah “fas” yang selalu ku hantar, meski berupa pecahan-pecaha mozaik.
Dan pada puisi terakhir, pecahan itu akan utuh dengan sendirinya.
.png)

0 komentar: