Angin dan Api Lilin

23.57 0 Comments


Dok. Internet
Malam ini kau semacam api pada lilin, ku goda hingga merah pipimu. Sebelumnya ku perkenalkan diriku. Aku adalah angin yang jauh dari barat, kau tak mau bertanya darimana saja aku? Ah ku rasa itu tak penting buatmu. Tapi tetap akan ku ceritakan padamu.
Aku pernah menghantar Colombus menjelajah dunia, aku telah menyiulkan suara yang dilantunkan oleh Rumi dan kini bisakah kau lihat dia. Bertapa ia sahdu dalam nyanyiannya dihadapan Tuhan. atau aku adalah yang mengajari pangeran terbang di sekitar  langit, walaupun aku tak bisa menghantarnya ke putri yang ia impikan. Karena aku sungkan menembus langit yang berlapis itu.
Tapi pernah kau percaya? Bahwa angin dan api pernah bersatu, menghantarkan permohonan seorang hamba pada Tuhannya. Ku ceritakan padamu, pada hari-hari Waisak, akan ada beberapa orang  dibelahan dunia ini menghantar doanya dalam lampion-lampion. Aku menghantarnya pada ujung langit dunia saja tapi tidak sampai ujung langit tempat Tuhan mereka bersemayam. Jangan kau tanya mengapa? Karena aku sudah menjelaskannya padamu tadi. Aku tak sanggup menembus langit dunia.
Yakinlah, ku rasa doa mereka terkabul, bukankah Tuhan pendengar yang baik? Aku angin, tapi bolehkah ku dengar sedikit tentang ceritamu. Api lilin- ah.., selain itu orang-orang akan memadamkanmu juga menggunakan udara, pada pucuk-pucuk kue ulang tahun. Kurasa kau sama denganku, berbeda saja, kau menyembunyikan diri dalam padammu, kala menyampaikan doa mereka kepada Tuhan. sedangkan aku, menampak diri bahwa aku ada. Bukan masalah pamer, bukankah itu adalah waktuku membuktikan bahwa aku ada.
Malam selajutnya akan sama dengan malam ini, kupastikan begitu. Aku siap menggodamu dengan sepunyanya aku. Puisi? gampanglah itu, nanti ku bawakan kau dari Nerudo “Tuhan memainkan dadu”. Chairil “Bersandar pada tari warna pelangi, kau depanku bertudung sutra senja”. Sapardi “aku ingin mencintaimu dengan sederhana” itu saja. nah-nah bisa kau rangkai sendirikan sair-sair itu. Anggap saja semacam bunga, dan taruhlah cintaku adalah “fas” yang selalu ku hantar, meski berupa pecahan-pecaha mozaik. Dan pada puisi terakhir, pecahan itu akan utuh dengan sendirinya.  

afifi

Some say he’s half man half fish, others say he’s more of a seventy/thirty split. Either way he’s a fishy bastard. Google

0 komentar: