Pendemo bodoh

21.48 0 Comments



(aziz afifi)
“cepat laksanakan eksekusi!” ujarnya sambil menghirup cerutu beraroma menyengat.
“siap tuan” saut lelaki tegab dengan seragam penuh dengan gelar.
            Diatas meja bundar baru saja keputusan berdarah ditiup.  Semua manusia berdaki mengkilap dan dipenuhi kepongahan tiba-tiba berkoar setuju. Sambil menyalakan api dimulut mereka yang penuh kebohongan agar tak tercium aromanya. Biar nanti hilanglah jejak sebuah kenistaan dalam pengkuluman asap. Selagi berasap ria, tak ketinggalan barter tawa juga mereka lempar untuk mengusir canggung.
“tuan, pasukan telah siap” laporan lelaki tegap dengan seragam yang penuh pangkat. “segera laksanakan!” tegas sang pimpinan.
            “tapi tuan diluar, gerombolan manusia semakin sesak dan semua ingin mendesak masuk”
“bodoh, halang mereka dengan tembakan” kali ini suaranya semakin garang lantas disertai hentakan kaki.
“tapi tuan”
“aku bilang laksanakan saja, buat apa kau punya pangkat dan bintang begitu banyak, bila hanya seperti itu kau tak pecus”
“baik tuan” kakinya mulai bertolak dari tempat ia bertutur.
***
Diatas bukit ada lelaki berbaju kuning yang dibungkus kepalanya dengan goni. Tangannya terikat dibalik punggung. Ada beberapa serdadu perang mengepungnya, membawa senapan laras panjang. Mereka sudah siap siaga dan ganas. Hari makin gerah dan angin tampak ber malas-malasan dikaki bukit.
Sedang dalam bukit yang berbeda semua orang bermata saga penuh dendam mulai membuat barisan. Mereka sama ganasnya. Tak kalah hebatnya, mereka berseragam penuh bendera sebagai lencana. Mereka saling berkoar bergantian. Membusungkan dada lantas mengibarkan bendera berharap dapat menangkap angin.
Tak ada senyap. Semua hampir berkoar-koar. Seolah benderang perang. Suara yang mengangkasa itu tertangkap lantas dilempar lagi keangkasa dan ditangkap lagi sampai tak ada habisnya. semua tangan tiba-tiba menyatu, menjadi rantai hangat dan panas. “kami tak berdosa, kami hanya menuntut kami punya” suara itu mengudara tegas.
“halang mereka” orang berseragam dan belencana bintang memberi aba-aba. “pukul mundur mereka” tegasnya lagi dengan lantang. Mata yang panas makin merah. Hujan terganti dengan batu. Air tiba-tiba menjadi perih dan panas.
“kami menuntut hak kami” suara itu terus menaung. Sedang senapan panjang sudah dihulu leher, siap mencengkram dan menghentikan raungan.
“kau boleh bunuh saya, tapi idiologi sudah menjadi firus dari kepala ke kepala” ucap lelaki diatas bukit
Laras panjang semakin ditarik pelatuknya. ‘kau pecahkan kepalaku, tapi tak kan bisa pecahkan pemikiran yang telah menyebar” semakin kuat suaranya. Laras panjang semakin tertarik dalam dan siap menghujam
“kau dengar dibawah sana, dibawah kaki bukit yang landai, betapa lantanggnya mereka menentangmu dan diatas bukit betapa sepinya suara yang memujamu, apa mungkin mereka juaga ingin seperti orang dibawah? tapi dengan lencanya mereka terpaksa bungkam hanya untuk aman dan agar anak cucu mereka tidur dengan pulas ”
Suara riuh kian mengema. Laras panjang kian tegak. Mata manusia berlencana makin meradang dan tangannya semakin geram. “apa yang kau perjuangkan untuk perkara bodoh macam ini” ucapnya sembari membenarkan topi.
Angin makin malas. Udara tambah panas. Hujan batu kini telah menghadirkan banjir darah. Ditepian penampang empang yang jernih airnya para tuan berdaki dan berjidat pongah sedang menatap kearah bukit. Seraya menghirup aroma yang tak henti-hentinya nikmat. ”ini tontonan yang menggembiraka, lebih menyenangkan dari pada goyangan penyanyi yang kita sewa” celoteh lelaki berwajah gempal. Sedang yang lain sesegera menimpali dengan tertawa yang keras.
“tuan, apa kita lakukan sekarang?” tanya lelaki tegap dengan seragam dan lencana bintang.
“silakan!, lakukan sebaik mungkin, buat kami puas dengan kerjamu” perintah salah satu lelaki berdaki.
Diatas bukit, laras panjang mulai pelatuknya mulai menagatup kembali. Tembakan pertama lelaki berseragam kuning bergeming “aku tak akan mati”. Darah telah mengucur membasahi sebuah lambang dijantungnya. “aku tak akan mati” ujarnya semakin keras ditembakan yang kedua. Seamakin menganga dan dalam lukanya. “aku tak akan mati” ditembakan ketiga suaranya semakin lantang.
Lukanya terlalu besar. Jeladri darah menggengang dikakinya. Tubuhnya kini telah berpeluk dengan tanah. Kepalanya masih tertutup goni dan didelikannya tangan dibalik punggung. Semua tercengang, suara yang mengudara yang riuh kini mendadak sepi dan senyap. Semua tenggelam dan mata yang saga kini padam. kepala mereka tertarik beban berat dan menyesakkan.Sedangkan di sebrang bukit, empang yang jernih airnya ada gelagak tawa yang terus mengudara. Membumbung tinggi dan melepas suara “pendemo bodoh”

Semarang. 22 maret ‘15
 



afifi

Some say he’s half man half fish, others say he’s more of a seventy/thirty split. Either way he’s a fishy bastard. Google

0 komentar: