Pendemo bodoh
(aziz
afifi)
“cepat
laksanakan eksekusi!” ujarnya sambil menghirup cerutu beraroma menyengat.
“siap
tuan” saut lelaki tegab dengan seragam penuh dengan gelar.
Diatas meja bundar baru saja keputusan berdarah
ditiup. Semua manusia berdaki mengkilap
dan dipenuhi kepongahan tiba-tiba berkoar setuju. Sambil menyalakan api dimulut
mereka yang penuh kebohongan agar tak tercium aromanya. Biar nanti hilanglah
jejak sebuah kenistaan dalam pengkuluman asap. Selagi berasap ria, tak
ketinggalan barter tawa juga mereka
lempar untuk mengusir canggung.
“tuan,
pasukan telah siap” laporan lelaki tegap dengan seragam yang penuh pangkat.
“segera laksanakan!” tegas sang pimpinan.
“tapi
tuan diluar, gerombolan manusia semakin sesak dan semua ingin mendesak masuk”
“bodoh,
halang mereka dengan tembakan” kali ini suaranya semakin garang lantas disertai
hentakan kaki.
“tapi
tuan”
“aku
bilang laksanakan saja, buat apa kau punya pangkat dan bintang begitu banyak,
bila hanya seperti itu kau tak pecus”
“baik
tuan” kakinya mulai bertolak dari tempat ia bertutur.
***
Diatas
bukit ada lelaki berbaju kuning yang dibungkus kepalanya dengan goni. Tangannya
terikat dibalik punggung. Ada beberapa serdadu perang mengepungnya, membawa
senapan laras panjang. Mereka sudah siap siaga dan ganas. Hari makin gerah dan
angin tampak ber malas-malasan dikaki bukit.
Sedang
dalam bukit yang berbeda semua orang bermata saga penuh dendam mulai membuat
barisan. Mereka sama ganasnya. Tak kalah hebatnya, mereka berseragam penuh
bendera sebagai lencana. Mereka saling berkoar bergantian. Membusungkan dada
lantas mengibarkan bendera berharap dapat menangkap angin.
Tak
ada senyap. Semua hampir berkoar-koar. Seolah benderang perang. Suara yang
mengangkasa itu tertangkap lantas dilempar lagi keangkasa dan ditangkap lagi
sampai tak ada habisnya. semua tangan tiba-tiba menyatu, menjadi rantai hangat
dan panas. “kami tak berdosa, kami hanya menuntut kami punya” suara itu
mengudara tegas.
“halang
mereka” orang berseragam dan belencana bintang memberi aba-aba. “pukul mundur
mereka” tegasnya lagi dengan lantang. Mata yang panas makin merah. Hujan
terganti dengan batu. Air tiba-tiba menjadi perih dan panas.
“kami
menuntut hak kami” suara itu terus menaung. Sedang senapan panjang sudah dihulu
leher, siap mencengkram dan menghentikan raungan.
“kau
boleh bunuh saya, tapi idiologi sudah menjadi firus dari kepala ke kepala” ucap
lelaki diatas bukit
Laras panjang semakin
ditarik pelatuknya. ‘kau pecahkan kepalaku, tapi tak kan bisa pecahkan
pemikiran yang telah menyebar” semakin kuat suaranya. Laras panjang semakin
tertarik dalam dan siap menghujam
“kau
dengar dibawah sana, dibawah kaki bukit yang landai, betapa lantanggnya mereka
menentangmu dan diatas bukit betapa sepinya suara yang memujamu, apa mungkin
mereka juaga ingin seperti orang dibawah? tapi dengan lencanya mereka terpaksa
bungkam hanya untuk aman dan agar anak cucu mereka tidur dengan pulas ”
Suara riuh kian mengema.
Laras panjang kian tegak. Mata manusia berlencana makin meradang dan tangannya
semakin geram. “apa yang kau perjuangkan untuk perkara bodoh macam ini” ucapnya
sembari membenarkan topi.
Angin
makin malas. Udara tambah panas. Hujan batu kini telah menghadirkan banjir
darah. Ditepian penampang empang yang jernih airnya para tuan berdaki dan
berjidat pongah sedang menatap kearah bukit. Seraya menghirup aroma yang tak
henti-hentinya nikmat. ”ini tontonan yang menggembiraka, lebih menyenangkan
dari pada goyangan penyanyi yang kita sewa” celoteh lelaki berwajah gempal.
Sedang yang lain sesegera menimpali dengan tertawa yang keras.
“tuan,
apa kita lakukan sekarang?” tanya lelaki tegap dengan seragam dan lencana
bintang.
“silakan!,
lakukan sebaik mungkin, buat kami puas dengan kerjamu” perintah salah satu
lelaki berdaki.
Diatas
bukit, laras panjang mulai pelatuknya mulai menagatup kembali. Tembakan pertama
lelaki berseragam kuning bergeming “aku tak akan mati”. Darah telah mengucur
membasahi sebuah lambang dijantungnya. “aku tak akan mati” ujarnya semakin
keras ditembakan yang kedua. Seamakin menganga dan dalam lukanya. “aku tak akan
mati” ditembakan ketiga suaranya semakin lantang.
Lukanya
terlalu besar. Jeladri darah menggengang dikakinya. Tubuhnya kini telah
berpeluk dengan tanah. Kepalanya masih tertutup goni dan didelikannya tangan
dibalik punggung. Semua tercengang, suara yang mengudara yang riuh kini
mendadak sepi dan senyap. Semua tenggelam dan mata yang saga kini padam. kepala
mereka tertarik beban berat dan menyesakkan.Sedangkan di sebrang bukit, empang
yang jernih airnya ada gelagak tawa yang terus mengudara. Membumbung tinggi dan
melepas suara “pendemo bodoh”
Semarang. 22 maret ‘15
.png)

0 komentar: