Kopi itu
Kolong
langit tetap seperti ini. Gelap dan rinai hujan tetap ada. Neon jingga
menggelayut diatas ubun, kita masih juga seperti ini. Duduk mengaduk kopi yang
baru saja turun dari tangan pramusaji. Antara kita kata juga belum memecah,
kita saling menatap, memandang, mencuri cerita retina dan menggoda dengan
melalui masing-masing senyum.
“minumlah,
mungkin bisa menenangkan kegelisahanmu” ucapmu sembari menatapku seperti apa
adanya aku.
“apa
yang kau temukan dalam retinaku Dee?” tanyaku sembari mengecup kopi yang baru
saja tersaji
“aku
hanya ingin membaca fikiranmu Sa”
“ah,
paranormal” jawabku, dan kau terkekeh polos
Setelah
itu, sepontan bisu turun diantara kita, masing-masing kerling terpaut pada secangkir
kopi yang dihidangkan. Entah bagaimana engkau mengerti aku. Memang sudah tiga
bulan ini aku sering kekedai kopi ini. Tempat dimana aku dapat membaca lalu
lalang orang dan kendaraan. Atau sekedar menghilangkan kegelisahan yang
menghantuiku. Aku akan datang mencari kursi paling ujung dimana segala cahaya
lampu trotoar tampak jelas. Tak peduli kapan itu waktunya.
Musik
yang selalu kita dengar masih sebuah alunan rima yang indah. Terdengar sayu
melelehkan diantara perbincangan kita. kau sering menegur sapa lagu yang kau
hafal sembari tanganmu nun lentik itu berkutat dengan secangkir kopi itu.
Ditempat
bolam sekepalan tangan bergelantung kau sering menemaniku ngobrol, meski itu
hanya sekedar beberapa menit saja. Masih teringat betul waktu itu, pertama kali
aku kesini. engkau selalu bersikap dingin seperti halnya minuman yang ku pesan,
es kopi. engkau saat itu hanya menanyakan
apa yang ku pesan, tak seperti sekarang. Engkau menurutku sekarang lebih bawel
dari ibuku yang mati dibakar dendamnya itu. tapi seiring berjalannya waktu aku
mulai mengerti, betapa hangatnya kau, jadi ku putuskan untuk memesan secangkir capucino
hangat. Sebagai penanding hangatnya dirimu.
Hari
ini aku memaksamu keluar. Larut malam memang. Aku membacanya dari mimik parasmu tak nyaman dengan waktu yang
sedemikian lindap apalagi hanya beberapa orang yang ada disini. Tampak sepi
seperti kedai-kedai lainnya saat malam hari. Hanya beberapa pelayan dan penjaga
kasir yang tampak terlihat. Sama halnya ditrotoar tempat tontonanku saben
malam, sudah begitu lengangnya.
“ingin
pulang bukan?” tanyaku dan setelah itu seperti biasa kau hanya menghela nafas
sembari senyum kecut. “Aku tau kau ingin
mengucapkan perkataan itu, bukan? Tenanglah nikmati dulu, aku jamin nantinya
kau ketagihan dengan ini” tegasku. Kau semakin membungkam kata-kata pada
parasmu dengan tertawa kecil. Entah sebuah kekecewaan atau semacam caramu bersabar
menghadapiku.
Malam
tambah lindap dengan segala aksennya, berteman angin atau rinai hujan. Masih
seperti biasa. Aku masih menatapmu canggung. Dan saat itu pula kau tau puisi
chairillah yang aku kenal mampus
dikoyak-koyak sepi. Itulah aku saat ini.
“sampai
kapan kau disini Sa?” ucapmu sembari tangan putihmu mengaduk kopi. hingga
berarus sederhana dan membawa beberapa aroma.
“kau
tau Dee? kau hadirkan aku secangkir kegelisahan yang tak pernah ku katakan
padamu” tegasku.
Kau
hanya menatapku dengan tercengang. Dan seperti biasa kau hanya diam sembari
mengaduk hingga nantinya kau punya aroma yang harus dikulum. Kursi semakin sepi
dan kita masih tetap duduk membisu tak menimpali satu katapun soal tadi.
“Dee?”
panggilku dan seketika itu pula kau celingukkan seperti biasa dengan wajah yang
benar-benar polos.
“kau
dengar bicaraku tadi?”
“dengar”
“jadi
apa keputusanmu?”
Diluar
kaca, bunga dedeleon tampak mulai mengabur, menyemai hasil cintanya dengan
angin. Dan beberapa belukar disamping jalan yang tampak gelap itu, tampak ada
beberapa air hujan yang menyusup. Mencari bunga yang ingin ia tunggu dan
menjadikannya menjadi embun. Dan engkau masih seperti patung depanku. Hanya
beberapa helas nafas dingin dan adukkan sendok yang sedikit menyentuh pinggiran
cangkir, yang tertangkap.
Entah
engkau telah dapat membaca fikirku atau? Tiba-tiba seluruh pertanyaan
menghujamku seperti itu.
“cinta
itu sungguh obat-obatan, ia adalah campuran dari dopamine, feniletilamin, dan
oksitosin di aliran darah yang mampu menghasilkan sensasi yang sering kita
sebut tergla-gila” ucapku sembari berharap keheningan diantara kita menjadi
lebur “itulah aku saat ini Dee”
“kau
harus menjadi gula Sa, saat kau ingin mencintai kopi”
“aku
akan jadi apa yang kau mau”
“bukan
itu Sa, kau harus menjadi gula pada sebuah kopi, kau menyatu dengannya tapi kau
tetap menjadi dirimu sendiri”
Kau
tiba–tiba beranjak menutupi pandanganku ke arah luar sana. Kau memandang
beberapa pohon yang sedang basah dan merasakan angin yang mencoba
mengulang-ulang perkataanmu ditelingaku. Dan itu hampir sepertiga jam. Kau
masih berdiri dijendela kaca.
Malah
yang semakin pekat, seperti halnya kopi kita. Engkau putuskan kembali duduk.
Menemaniku duduk dan bertukar kerling seperti setengah jam yang lalu. Kembali
tanganmu tak lepas dari sendok itu. mengaduknya hingga kau bau aromanya lagi.
“Dee,
apa yang kau temu dari kerling ku?” tanyaku sembari menatap lagi matamu yang
kecoklatan itu.
“sebuah
cerita tentang aku”
“jadi?”
“terimakasih”
Kolong
langit masih sama. Tampak seperti itu. dan aromanya basah masih seperti itu.
engkau dan aku juga masih seperti ini, kembali diam menawarkan cerita sama. Aku menciptakan pertemuan yang canggung untuk
saling membaca.
“kau
lihat batu kecil tengah jalan itu Dee” tanyaku sembari menunjuk ke arah jalan
yang banyak lalulalang kendaraan. Dan kau hanya berisarat dengan menggelengkan
kepala.
“meskipun
jauh dan kecil, aku akan tau Dee, sebab aku memperhatikannya seperti halnya aku
memperhatikanmu saat ini”
.png)


0 komentar: