Kopi itu

11.38 0 Comments

Kolong langit tetap seperti ini. Gelap dan rinai hujan tetap ada. Neon jingga menggelayut diatas ubun, kita masih juga seperti ini. Duduk mengaduk kopi yang baru saja turun dari tangan pramusaji. Antara kita kata juga belum memecah, kita saling menatap, memandang, mencuri cerita retina dan menggoda dengan melalui masing-masing senyum. 

“minumlah, mungkin bisa menenangkan kegelisahanmu” ucapmu sembari menatapku seperti apa adanya aku.

“apa yang kau temukan dalam retinaku Dee?” tanyaku sembari mengecup kopi yang baru saja tersaji

“aku hanya ingin membaca fikiranmu Sa”

“ah, paranormal” jawabku, dan kau terkekeh polos

Setelah itu, sepontan bisu turun diantara kita, masing-masing kerling terpaut pada secangkir kopi yang dihidangkan. Entah bagaimana engkau mengerti aku. Memang sudah tiga bulan ini aku sering kekedai kopi ini. Tempat dimana aku dapat membaca lalu lalang orang dan kendaraan. Atau sekedar menghilangkan kegelisahan yang menghantuiku. Aku akan datang mencari kursi paling ujung dimana segala cahaya lampu trotoar tampak jelas. Tak peduli kapan itu waktunya.

Musik yang selalu kita dengar masih sebuah alunan rima yang indah. Terdengar sayu melelehkan diantara perbincangan kita. kau sering menegur sapa lagu yang kau hafal sembari tanganmu nun lentik itu berkutat dengan secangkir kopi itu.

Ditempat bolam sekepalan tangan bergelantung kau sering menemaniku ngobrol, meski itu hanya sekedar beberapa menit saja. Masih teringat betul waktu itu, pertama kali aku kesini. engkau selalu bersikap dingin seperti halnya minuman yang ku pesan, es kopi.  engkau saat itu hanya menanyakan apa yang ku pesan, tak seperti sekarang. Engkau menurutku sekarang lebih bawel dari ibuku yang mati dibakar dendamnya itu. tapi seiring berjalannya waktu aku mulai mengerti, betapa hangatnya kau, jadi ku putuskan untuk memesan secangkir capucino hangat. Sebagai penanding hangatnya dirimu.

Hari ini aku memaksamu keluar. Larut malam memang. Aku membacanya dari mimik  parasmu tak nyaman dengan waktu yang sedemikian lindap apalagi hanya beberapa orang yang ada disini. Tampak sepi seperti kedai-kedai lainnya saat malam hari. Hanya beberapa pelayan dan penjaga kasir yang tampak terlihat. Sama halnya ditrotoar tempat tontonanku saben malam, sudah begitu lengangnya.

“ingin pulang bukan?” tanyaku dan setelah itu seperti biasa kau hanya menghela nafas sembari senyum kecut.  “Aku tau kau ingin mengucapkan perkataan itu, bukan? Tenanglah nikmati dulu, aku jamin nantinya kau ketagihan dengan ini” tegasku. Kau semakin membungkam kata-kata pada parasmu dengan tertawa kecil. Entah sebuah kekecewaan atau semacam caramu bersabar menghadapiku.

Malam tambah lindap dengan segala aksennya, berteman angin atau rinai hujan. Masih seperti biasa. Aku masih menatapmu canggung. Dan saat itu pula kau tau puisi chairillah yang aku kenal mampus dikoyak-koyak sepi. Itulah aku saat ini.

“sampai kapan kau disini Sa?” ucapmu sembari tangan putihmu mengaduk kopi. hingga berarus sederhana dan membawa beberapa aroma.

“kau tau Dee? kau hadirkan aku secangkir kegelisahan yang tak pernah ku katakan padamu” tegasku.

Kau hanya menatapku dengan tercengang. Dan seperti biasa kau hanya diam sembari mengaduk hingga nantinya kau punya aroma yang harus dikulum. Kursi semakin sepi dan kita masih tetap duduk membisu tak menimpali satu katapun soal tadi.

“Dee?” panggilku dan seketika itu pula kau celingukkan seperti biasa dengan wajah yang benar-benar polos.

“kau dengar bicaraku tadi?”

“dengar”

“jadi apa keputusanmu?”

Diluar kaca, bunga dedeleon tampak mulai mengabur, menyemai hasil cintanya dengan angin. Dan beberapa belukar disamping jalan yang tampak gelap itu, tampak ada beberapa air hujan yang menyusup. Mencari bunga yang ingin ia tunggu dan menjadikannya menjadi embun. Dan engkau masih seperti patung depanku. Hanya beberapa helas nafas dingin dan adukkan sendok yang sedikit menyentuh pinggiran cangkir, yang tertangkap.

Entah engkau telah dapat membaca fikirku atau? Tiba-tiba seluruh pertanyaan menghujamku seperti itu.

“cinta itu sungguh obat-obatan, ia adalah campuran dari dopamine, feniletilamin, dan oksitosin di aliran darah yang mampu menghasilkan sensasi yang sering kita sebut tergla-gila” ucapku sembari berharap keheningan diantara kita menjadi lebur “itulah aku saat ini Dee”

“kau harus menjadi gula Sa, saat kau ingin mencintai kopi”

“aku akan jadi apa yang kau mau”

“bukan itu Sa, kau harus menjadi gula pada sebuah kopi, kau menyatu dengannya tapi kau tetap menjadi dirimu sendiri”

Kau tiba–tiba beranjak menutupi pandanganku ke arah luar sana. Kau memandang beberapa pohon yang sedang basah dan merasakan angin yang mencoba mengulang-ulang perkataanmu ditelingaku. Dan itu hampir sepertiga jam. Kau masih berdiri dijendela kaca.

Malah yang semakin pekat, seperti halnya kopi kita. Engkau putuskan kembali duduk. Menemaniku duduk dan bertukar kerling seperti setengah jam yang lalu. Kembali tanganmu tak lepas dari sendok itu. mengaduknya hingga kau bau aromanya lagi.

“Dee, apa yang kau temu dari kerling ku?” tanyaku sembari menatap lagi matamu yang kecoklatan itu.

“sebuah cerita tentang aku”

“jadi?”

“terimakasih”

Kolong langit masih sama. Tampak seperti itu. dan aromanya basah masih seperti itu. engkau dan aku juga masih seperti ini, kembali diam menawarkan cerita sama.  Aku menciptakan pertemuan yang canggung untuk saling membaca.

“kau lihat batu kecil tengah jalan itu Dee” tanyaku sembari menunjuk ke arah jalan yang banyak lalulalang kendaraan. Dan kau hanya berisarat dengan menggelengkan kepala.

“meskipun jauh dan kecil, aku akan tau Dee, sebab aku memperhatikannya seperti halnya aku memperhatikanmu saat ini”









afifi

Some say he’s half man half fish, others say he’s more of a seventy/thirty split. Either way he’s a fishy bastard. Google

0 komentar: