Gang Buntu dalam Prosa

12.04 0 Comments



Mar, dengar. Kata sepaham  apakah yang harus ku ungkapkan? Bukankah sudah ku katakan dengan gamblang dan kutulis sangat jelas di bibir bukuku “hatiku seperti apel merah yang jatuh dipisaumu, terbelah-bagi menjadi beberapa bentuk, lantas berdarah? Apa engkau punya penawarnya?,” Ketika perjalanan malam itu, aku tetap dibelakangmu. Menjalarkan senyuman yang tak ubahnya orang  kehilangan. Aroma melati didekat gang buntu, engkau selalu petik setiap malamnya. Hingga aku temukan sebuah keberadaanmu. Bersendeku dalam kedinginan tubuh.
Haruskah pada pertigaan aku memasang tulisan “jangan pernah melangkah” agar hatiku tak selalu sepelik ini. hujan diselamkan kedalam rongga mata, diselaput bening retinaku. Aku punya jiwa yang serrasa hanya sepotong sejak aku lahir, selalu merasa sepi, dendam dan beraneka ragam.
Mar, sepakatkah engkau. Bila dalam kenangan engkau kan jadi jasad yang abadi. Menelan sunyi bersamaku, menantikan bulan sirna dalam bukit-bukit jauh atau menunggu kabut laksana kain perca, hinggap didaun-daun kamboja yang kita tanam.
“Maaf” puisiku ke 42, aku berniat memasukkan dalam antalogiku yang kau sebut-sebut “biru” itu. Disana kutulis aku meminta maaf atas kehadiranmu, didalam daun, pohon, serta ranting yang ku tanam. Meminta maaf atas segala tuba yang meracun dalam keningku.
Dan pada akhirnya aku menulis “sajak teruntuk penyair perempuan” nun setia dalam bunga melati malam itu. Bersemayam dengan keluh sepinya.




ilustrasi: https://lukisanmoses.files.wordpress.com/2014/04/005-20140331_210556-cc.jpg?w=373&h=265

afifi

Some say he’s half man half fish, others say he’s more of a seventy/thirty split. Either way he’s a fishy bastard. Google

0 komentar: