Gang Buntu dalam Prosa
Mar,
dengar. Kata sepaham apakah yang harus
ku ungkapkan? Bukankah sudah ku katakan dengan gamblang dan kutulis sangat
jelas di bibir bukuku “hatiku seperti apel merah yang jatuh dipisaumu,
terbelah-bagi menjadi beberapa bentuk, lantas berdarah? Apa engkau punya
penawarnya?,” Ketika perjalanan malam itu, aku tetap dibelakangmu. Menjalarkan senyuman
yang tak ubahnya orang kehilangan. Aroma
melati didekat gang buntu, engkau selalu petik setiap malamnya. Hingga aku
temukan sebuah keberadaanmu. Bersendeku dalam kedinginan tubuh.
Haruskah
pada pertigaan aku memasang tulisan “jangan pernah melangkah” agar hatiku tak
selalu sepelik ini. hujan diselamkan kedalam rongga mata, diselaput bening
retinaku. Aku punya jiwa yang serrasa hanya sepotong sejak aku lahir, selalu
merasa sepi, dendam dan beraneka ragam.
Mar,
sepakatkah engkau. Bila dalam kenangan engkau kan jadi jasad yang abadi. Menelan
sunyi bersamaku, menantikan bulan sirna dalam bukit-bukit jauh atau menunggu
kabut laksana kain perca, hinggap didaun-daun kamboja yang kita tanam.
“Maaf”
puisiku ke 42, aku berniat memasukkan dalam antalogiku yang kau sebut-sebut “biru”
itu. Disana kutulis aku meminta maaf atas kehadiranmu, didalam daun, pohon,
serta ranting yang ku tanam. Meminta maaf atas segala tuba yang meracun dalam
keningku.
Dan pada
akhirnya aku menulis “sajak teruntuk penyair perempuan” nun setia dalam bunga
melati malam itu. Bersemayam dengan keluh sepinya.
ilustrasi: https://lukisanmoses.files.wordpress.com/2014/04/005-20140331_210556-cc.jpg?w=373&h=265
.png)


0 komentar: