La Dauce Folie (bagian 1)

12.00 0 Comments

Dok. Internet
Bagian I
Sepasang matanya terus saja menyisir diatas debu trotoar kota ini. banyak yang pantas direkam, itulah yang kemudian ia fikirkan setiap saat. Jam 10 ini, sudah mengelilingi tiga blok. Tentu dengan pakaian yang tak dapat dicurigai orang. Fou biasa orang memanggilnya, umurnya sekitar dua puluh atau sembilan belas tahun. Bahkan tubuhnya seharusnya tak terbiasa dengan pakaian seperti itu- tidak untuk pakaian yang compang-camping.
Ia selalu kembali duduk di depan gedung terbesar dikota ini. setelah penjelajahannya usai. Tepat didepannya, ia mampu melihat lelaki bongsor dan necis berkunjung di tempat itu setiap hari. entah mengapa ia lebih suka lelaki itu, padahal banyak lelaki yang lebih ideal.  Ah.., ia kan tidak waras seperti orang-orang lain.
Matanya lantas menyipit dan dilebarkan sesukanya. Seperti mata elang yang sedang mengawasi mangsa. Aku suka mengawasinya juga, saat ia begitu tenang di depan gedung itu. tapi biasanya polisi daerah itu lantas mengusirnya, hari  ini seolah pengecualian. Dalam perjalanan pulang aku selalu sempatkan duduk di kafe belakang Fou, wanita yang di juluki si gila dari antabrata itu.  dengan segelas kopi dan bacaan buku ringan ku fikir itu cukup menghilangkan kepenatan, dan juga aku berharap dapat hal yang menarik dari dia, si gadis malang itu.
Hampir seminggu ini aku mengawasinya, mencatat dengan teliti kapan dia akan duduk dan kapan ia akan berangkat dari tempat itu. dan baru seminggu juga aku di kota ini, hawa panas dan gersang membuatku sedikit kurang nyaman. Sampai-sampai aku belum mendapatkan pekerjaan sampai hari ini, hanya gara-gara cuaca yang membuatku malas keluar rumah.
Aku terpaksa pindah dari asalku, hanya masalah sepele. Keluargaku. Ibuku terlalu otoriter, ia masih suka mengaturku. Apapun. Ku fikir dengan meninggalkannya jauh, ku rasa dapat menenangkan diri sendiri dari segala aturan dan membuatnya sedikit kehilangan...
“Pesan apa pak?” seorang berwajah jelita memotong pandanganku terhadap fou. Seorang pelayan tepatnya. Dengan porsi yang pas ia mencoba menawari hal yang mereka sediakan untukku.
“Secangkir kopi” jawabku dengan singkat. Karena hari ini aku tak ingin basa-basi seperti biasanya.
Ia masih disana-Fou. Biasanya ia akan duduk sampai jam 12. Sebenarnya aku suka memandanginya kala berjalan, anggun sekali untuk ukuran wanita yang mempunyai keterbelakangan mental. Ku rasa itu juga yang dari awal membuatku tertarik pada gadis itu.

afifi

Some say he’s half man half fish, others say he’s more of a seventy/thirty split. Either way he’s a fishy bastard. Google

0 komentar: