La Douce Folie
PROLOG
| dok. internet |
Neir, apa engkau pernah dengar cerita wanita gagu dan selongsong bedil dengan satu peluru? Kurasa ini cocok ku ceritakan dalam suratku kali ini. tapi aku masih bingung, darimana aku menceritaknnya. Apa aku mulai dari ia diranjang kala ia masih memimpikan sebuah kebun yang indah-indah, tentunya dengan palawija yang serupa parasmu Neir, tampak hijau dan segar saat ku pandang? Atau aku akan memualainya langsung pada titik ia mendengus mencari jalan, saat pelariaannya? Kayaknya aku harus mulai dari itu, mungkin engkau juga suka. Jadi akan ku mulai dari situ saja Neir.
Ia belum sempat berkemas
Neir. Kakinya mulai melompati ke semak-semak serta malam yang hampir merenggut
mata indahnya. Ia terus mendengus, dan hampir-hampir saja ia terjungkal.
Sekarang matanya merah seperti lukisanku yang kukirim sepekan yang lalu Neir.
Tidak sama seperti biasanya Neir, biasanya ia bermata biru tua dan hijau.
Tangannya yang munggil serta
putih itu kini sedang gemetar. Meremas senapan kecil dengan satu peluru. Ia
terus saja berlari, seperti kesukaannya dulu ketika dipantai. Ia sangat suka
berlari Neir, memecahkan ombak dan mengaburkan pasir pantai. Kau tahu Neir, apa
yang membuatnya berhenti? Pelukan ayahnya yang hangat itu. Sama sepertimu.
Kita kembali pada tokoh kita
Neir. Matanya sedang kalap sekarang. Ia sudah tak peduli siapa sejatinya ia. Ia
seorang anak perempuan yang selalu anggun atau apalah saat para menir belanda
menyebutnya, yang terpenting saat ini ia akan terus berlari. Sedangkan di
otaknya masih semrawut. Kadang
terlintas sebuah kuda putih berlumuran darah dan malam yang penuh senapan. Dari
belakangnya ia mendengar langkah sepatu tentara memburunya. Menembaki langit,
mungkin yang mereka harapkan dari langit adalah senantiasa memerah seperti
halnya matanya dan berusaha mematikan bintang-bintang, agar malam semakin gelap.
Sepasang sepatunya sengaja
ia lepaskan kali ini Neir. Dibuangnya jauh ke belakang. Tapi ia tetap seperti
orang yang di kejar malaikat maut. Matanya tergesah-gesah mencari jalan
sedangkan kakinya terus berlari. Mungkin engkau perlu tahu juga hatinya.
Mungkin Pelru juga ku ceritakan bagaimana isi hatinya saat ia berlari?
Mungkin ia sama halnya
engkau Neir. Benar-benar ketakutan dan gemetar. Seperti engkau kala melihat laba-laba.
Kembali sajalah pada tokoh kita. Masih ia berlari sampai bukit-bukit. Jika ia
sempat menghitungnya, hampir tiga bukit kecil yang ada dibelakang rumahnya.
Setelah melewati pohon-pohon pisang dan
ketela, ia berfikir akan lebih tenang.
Suara-suara sepatu itu sudah
mulai redam. Bahkan sudah tak terdengar olehnya. Ia putuskan bersembunyi di
balik pohon jambu yang tampak kecil dan gelap, karena pohon itu terdekap dengan
serdu. Ia meremas dadanya, menghirup nafas sebanyak yang ia bisa. Dan ia juga
bisa berdoa kali ini.
Selagi beristirahat. Otaknya
tak pernah padam dengan bayang-banyang ayahnya, lelaki penjaga gerbang rumahnya
serta adik bungsunya yang ngotot tetap disana. Tetapi jantungnya, agak
melambat. Ia terus membagi pelukan dengan serdu. Mendelikkan matanya yang merah
dan memasang telinga. Ia tak lagi ingin bicara apapun. Meskipun hanya kepada angin
dan malam. Mungkin disitulah Neir, ia putuskan untuk bungkam. Untuk selamanya.
Selama ia disana Neir, ia terlelap
sambil sendeku sendirian. Sekarang hatinya lebih tenang. Punya mimpi juga.
“Wajah ayahnya?” mungkin itu yang akan kau pertanyakan bukan? Tidak Neir, tapi
ibunya yang telah lama meninggalkannya. Aduh.., kurasa ceritaku semakin nglantur. Ku teruskan saja Neir. Ia
bermimpi sangat panjang. ia bermimpi bahwa ibunya datang membawa seorang lelaki
besar. Dengan jubah. Terlihat seperti ayahnya, tapi sedikit lebih gemuk.
***
Ruh malam telah menggati
mantel hitamnya dan menaruhnya rapi diatas gantungan. Dan perempuan dengan
bedil dan selongsong itu kini terbangun, tepat ditengah ladang ketela dan
pisang. Ia kembali bangun dan berlari dari sana neir, cepat sekali.
Dalam perjalanan ia tak
ingin mengulang-ulang apa yang ada di otaknya kemarin malam. Ia hanya ingin
bertanya soal hal-hal yang sederhana saja. Apalagi soal tentara, ia tak ‘kan angkat
bicara. Ia sekarang lebih suka menamai dirinya dengan nama Fou si gila,
tentu ia punya maksut tersendiri Neir. Pada malam-malam selanjutnya ia hanya
ingin menghabiskan waktu di trotoar jalan, menunggu seseoang memeberi makanan
atau sekedarnya saja. ....
.png)

0 komentar: