La Douce Folie

11.52 0 Comments

PROLOG

dok. internet

Neir, apa engkau pernah dengar cerita wanita gagu dan selongsong bedil dengan satu peluru? Kurasa ini cocok ku ceritakan dalam suratku kali ini. tapi aku masih bingung, darimana aku menceritaknnya. Apa aku mulai dari ia diranjang kala ia masih memimpikan sebuah kebun yang indah-indah, tentunya dengan palawija yang serupa  parasmu Neir, tampak hijau dan segar saat ku pandang? Atau aku akan memualainya langsung pada titik ia mendengus mencari jalan, saat pelariaannya? Kayaknya aku harus mulai dari itu, mungkin engkau juga suka. Jadi akan ku mulai dari situ saja Neir.
Ia belum sempat berkemas Neir. Kakinya mulai melompati ke semak-semak serta malam yang hampir merenggut mata indahnya. Ia terus mendengus, dan hampir-hampir saja ia terjungkal. Sekarang matanya merah seperti lukisanku yang kukirim sepekan yang lalu Neir. Tidak sama seperti biasanya Neir, biasanya ia bermata biru tua dan hijau.
Tangannya yang munggil serta putih itu kini sedang gemetar. Meremas senapan kecil dengan satu peluru. Ia terus saja berlari, seperti kesukaannya dulu ketika dipantai. Ia sangat suka berlari Neir, memecahkan ombak dan mengaburkan pasir pantai. Kau tahu Neir, apa yang membuatnya berhenti? Pelukan ayahnya yang hangat itu. Sama sepertimu.
Kita kembali pada tokoh kita Neir. Matanya sedang kalap sekarang. Ia sudah tak peduli siapa sejatinya ia. Ia seorang anak perempuan yang selalu anggun atau apalah saat para menir belanda menyebutnya, yang terpenting saat ini ia akan terus berlari. Sedangkan di otaknya masih semrawut. Kadang terlintas sebuah kuda putih berlumuran darah dan malam yang penuh senapan. Dari belakangnya ia mendengar langkah sepatu tentara memburunya. Menembaki langit, mungkin yang mereka harapkan dari langit adalah senantiasa memerah seperti halnya matanya dan berusaha mematikan bintang-bintang, agar malam semakin gelap.
Sepasang sepatunya sengaja ia lepaskan kali ini Neir. Dibuangnya jauh ke belakang. Tapi ia tetap seperti orang yang di kejar malaikat maut. Matanya tergesah-gesah mencari jalan sedangkan kakinya terus berlari. Mungkin engkau perlu tahu juga hatinya. Mungkin Pelru juga ku ceritakan bagaimana isi hatinya saat ia berlari?
Mungkin ia sama halnya engkau Neir. Benar-benar ketakutan dan gemetar. Seperti engkau kala melihat laba-laba. Kembali sajalah pada tokoh kita. Masih ia berlari sampai bukit-bukit. Jika ia sempat menghitungnya, hampir tiga bukit kecil yang ada dibelakang rumahnya. Setelah melewati pohon-pohon  pisang dan ketela, ia berfikir akan lebih tenang.
Suara-suara sepatu itu sudah mulai redam. Bahkan sudah tak terdengar olehnya. Ia putuskan bersembunyi di balik pohon jambu yang tampak kecil dan gelap, karena pohon itu terdekap dengan serdu. Ia meremas dadanya, menghirup nafas sebanyak yang ia bisa. Dan ia juga bisa berdoa kali ini.
Selagi beristirahat. Otaknya tak pernah padam dengan bayang-banyang ayahnya, lelaki penjaga gerbang rumahnya serta adik bungsunya yang ngotot tetap disana. Tetapi jantungnya, agak melambat. Ia terus membagi pelukan dengan serdu. Mendelikkan matanya yang merah dan memasang telinga. Ia tak lagi ingin bicara apapun. Meskipun hanya kepada angin dan malam. Mungkin disitulah Neir, ia putuskan untuk bungkam. Untuk selamanya.
Selama ia disana Neir, ia terlelap sambil sendeku sendirian. Sekarang hatinya lebih tenang. Punya mimpi juga. “Wajah ayahnya?” mungkin itu yang akan kau pertanyakan bukan? Tidak Neir, tapi ibunya yang telah lama meninggalkannya. Aduh.., kurasa ceritaku semakin nglantur. Ku teruskan saja Neir. Ia bermimpi sangat panjang. ia bermimpi bahwa ibunya datang membawa seorang lelaki besar. Dengan jubah. Terlihat seperti ayahnya, tapi sedikit lebih gemuk.
***
Ruh malam telah menggati mantel hitamnya dan menaruhnya rapi diatas gantungan. Dan perempuan dengan bedil dan selongsong itu kini terbangun, tepat ditengah ladang ketela dan pisang. Ia kembali bangun dan berlari dari sana neir, cepat sekali.

Dalam perjalanan ia tak ingin mengulang-ulang apa yang ada di otaknya kemarin malam. Ia hanya ingin bertanya soal hal-hal yang sederhana saja. Apalagi soal tentara, ia tak ‘kan angkat bicara. Ia sekarang lebih suka menamai dirinya dengan nama Fou si gila, tentu ia punya maksut tersendiri Neir. Pada malam-malam selanjutnya ia hanya ingin menghabiskan waktu di trotoar jalan, menunggu seseoang memeberi makanan atau sekedarnya saja. ....

afifi

Some say he’s half man half fish, others say he’s more of a seventy/thirty split. Either way he’s a fishy bastard. Google

0 komentar: