Kepadamu yang Abu-Abu
....andaikan
saja, surat masih terbilang romantis, mungkin aku lebih suka memberimu surat
yang berlembar-lembar. Entah bagaimana kata-kata itu selalu muncul ketika
membincang perihal surat. Apalagi ketika surat itu bernuansa romantis,
ah...pasti tak akan ada habisnya membincang perkara tersebut. Pengkategoriaan
surat romantis biasa langsung menjurus pada surat cinta, surat dengan bahasa
yang sebaik mungkin, dalam artian dengan
ramuan diksi yang tak biasa digunakan. tentu dengan harapan untuk mengesankan
pembaca, pemilihan diksi pada surat cinta bisa berarti sebuah ungkapan atau
kekaguman seorang penulisnya dan gambaran psikologi si penulis itu sendiri.
Selain
pemilihan diksi, dalam surat cinta kita dapat memaparkan apapun menjadi hal-hal
yang tiba-tiba melambung (metafor, maksudnya). Contoh saja ketika kita
membicarakan soal wanita dalam surat cinta kita, pasti tak terkira, bagaimana kita
membicarakan matanya bisa berpuluh-puluh perumpamaan disana. Misal saja, bintang,
kejora dan lain sebagainya sebagai padanan.
Jika
kebanyakan orang membuat surat cinta untuk kekasih, tetapi berbeda dalam #WC
kesepuluh ini, dari rapat kecil-kecilan antar anggota, telah memutuskan bahwa
yang diangkat sebagai tema yaitu surat cinta untuk UIN Walisongo atau FITK,
yaitu kampus tempat saya belajar. Mungkin ini tidak terlepas perkara kemarin,
mimbar bebas yang katanya menggugat sistem birokrasi. tapi apa dayaku cuman
bisa nulis surat abu-abu. Kata abu-abu disini bukan dalam artian “anak SMA”
melainkan surat yang bingung akan isinya. Nah beginilah surat cintaku padamu,
kutulis dalam suka-citaku:
....aku
lebih mengisahkanmu sebagai hal yang sulit, perbincangan pada sore dengan
secangkir kopi atau segelas teh hangat bisa saja menjadi pembuka antar kita.
Para nabi palsu dan kaumnya yang terus menuntut soal argumen bahwa “itu benar”
dibawah rindang pohon, ah...apalagi perihal beberapa hawa yang memakai krudung,
tak menguatkan imanku.
Hendak
kusampaikan juga persoalanku denganmu, mengenai dosen-dosen yang mulai tak bisa
diperkirakan tingkahnya. Memang baru kemarin saja, ketika kuliah bahasa
inggris. Tak perlulah aku menyebut namanya, dalam pengajarannya ia hanya
membacakan teks yang berbahasa asing itu. tentu beberapa kawanku pasti
berfikiran “yang makin pintar dosennya”. perkara aneh juga perihal alasan yang
tidak dapat ku mengerti. “hari ini aku presentasi, jadi tak apakan bila aku
harus buru-buru dan hanya begini saja saat mengajar” katanya. Tidak hanya
disitu saja, jauh-jauh hari sebelumnya ia sudah melobi mahasiswanya agar masuk
tidak semestinya. Jam setengah dua belas, bayangkan saja, betapa panasnya.
Tapi
tak apalah, baru hari ini juga aku mendapat pelajaran yang cukup berharga.
Dosen lain pula yang memberikan. katanya begini “bersabarlah...!” beliau juga
kasih keterangan, bahwa sabar mampu menyelesaikan segala hal. Entahlah,
persoalan mengenai dosen di kampus ini seolah tak ada titik temunya, selalu ada
yang bertingkah tak mudah ditebak, mulai dari menjual buku dengan dalil
pendidikan. Jangan lupakan juga perkara nilai buruk ketika tidak membeli
bukunya. Ada pula yang pulang-pergi, entah kemana dengan dalih penelitian tapi
nyatanya mahasiswa, aduh biyung....lagi-lagi jadi korban.
Biarlah,
tapi hal yang membuatku semakin rindu padamu perkara kawan-kawanku disana.
Meski uang tak ada tapi kami terus saja bergumam. Kalau boleh aku ambil dari Wiji
Thukul “bahwa gumam adalah mantra-mantra dari dewa-dewa, sebab gumam akan bisa
menjadi gelombang salju yang besar” sebut saja para Pandhawa atau Kurawa, aku
tak tahulah, yang penting heppy. Ku kira begitu. Dan kerinduanku juga terhadap
para senior, taruhlah mas Fahmi, dua kembar dan sebagainya. Ku kira kerinduanku
semakin menjadi ketika beberapa kawan-kawanku mengajak diskusi tentang isi
buku, bukan hanya soal masalah yang copy
paste.
Tak
luput juga adalah kursi-kursi berat yang merusak lantai, perihal kamar mandi
yang butuh disiram. Tak luput juga
perihal pak satpam yang selalu klepek-klepek saat aku lewat, mereka berteriak
seolah baru saja bertemu idola...., adu mamasayange.
Pada
akhirnya aku dapat katakan, bahwa surat ini benar-benar abu-abu. Pun dengan apa
yang ku surati, sama abu-abunya. Dengan kebijakkan yang tak banyak disukai
mahasiswa. Bagaimana tidak, beberapa kali kawan-kawan terusir kala diskusi.
Tentu dengan dalil bahwa “waktu kunjungan kampus sudah berakhir”.
Kembalilah
jingga, menjadi penutup suratku yang abu-abu ini. jingga yang pasrah dan selalu
menjadi primadona diantara tongkat-tonkat selfi, diantara kamera ber-fles dalam
pangkuan Juras (jurang asmara) katanya. Lembayung senja yang mengingatkanku
pada kesaksian sebuah perpisahan Hayati dan Zainuddin, atau puitisnya kematian Romeo
dan Juliet seperti yang dikabarkan Saut Sitomorang. Meskipun sebuah kisah cinta
yang sangat munafik.
Begitulah kiranya tulisan saya,
dengan diksi seadanya dan jauh dari kata romantis dalam sebuah surat cinta yang
ditulis dari beberapa orang kala begitu menggebu cintanya, kukira “jika kita
sudah mencintai sesuatu, meskipun kita tahu betapa buruknya, kita tak akan
pernah lari dari dia”. Kata-kata ini aku dapat dari seorang senior, dan saya
bahasakan ala saya.
.png)

0 komentar: