Kepadamu yang Abu-Abu

01.24 0 Comments

....andaikan saja, surat masih terbilang romantis, mungkin aku lebih suka memberimu surat yang berlembar-lembar. Entah bagaimana kata-kata itu selalu muncul ketika membincang perihal surat. Apalagi ketika surat itu bernuansa romantis, ah...pasti tak akan ada habisnya membincang perkara tersebut. Pengkategoriaan surat romantis biasa langsung menjurus pada surat cinta, surat dengan bahasa yang sebaik mungkin,  dalam artian dengan ramuan diksi yang tak biasa digunakan. tentu dengan harapan untuk mengesankan pembaca, pemilihan diksi pada surat cinta bisa berarti sebuah ungkapan atau kekaguman seorang penulisnya dan gambaran psikologi si penulis itu sendiri.
Selain pemilihan diksi, dalam surat cinta kita dapat memaparkan apapun menjadi hal-hal yang tiba-tiba melambung (metafor, maksudnya). Contoh saja ketika kita membicarakan soal wanita dalam surat cinta kita, pasti tak terkira, bagaimana kita membicarakan matanya bisa berpuluh-puluh perumpamaan disana. Misal saja, bintang, kejora dan lain sebagainya sebagai padanan.
Jika kebanyakan orang membuat surat cinta untuk kekasih, tetapi berbeda dalam #WC kesepuluh ini, dari rapat kecil-kecilan antar anggota, telah memutuskan bahwa yang diangkat sebagai tema yaitu surat cinta untuk UIN Walisongo atau FITK, yaitu kampus tempat saya belajar. Mungkin ini tidak terlepas perkara kemarin, mimbar bebas yang katanya menggugat sistem birokrasi. tapi apa dayaku cuman bisa nulis surat abu-abu. Kata abu-abu disini bukan dalam artian “anak SMA” melainkan surat yang bingung akan isinya. Nah beginilah surat cintaku padamu, kutulis dalam suka-citaku:
....aku lebih mengisahkanmu sebagai hal yang sulit, perbincangan pada sore dengan secangkir kopi atau segelas teh hangat bisa saja menjadi pembuka antar kita. Para nabi palsu dan kaumnya yang terus menuntut soal argumen bahwa “itu benar” dibawah rindang pohon, ah...apalagi perihal beberapa hawa yang memakai krudung, tak menguatkan imanku.
Hendak kusampaikan juga persoalanku denganmu, mengenai dosen-dosen yang mulai tak bisa diperkirakan tingkahnya. Memang baru kemarin saja, ketika kuliah bahasa inggris. Tak perlulah aku menyebut namanya, dalam pengajarannya ia hanya membacakan teks yang berbahasa asing itu. tentu beberapa kawanku pasti berfikiran “yang makin pintar dosennya”. perkara aneh juga perihal alasan yang tidak dapat ku mengerti. “hari ini aku presentasi, jadi tak apakan bila aku harus buru-buru dan hanya begini saja saat mengajar” katanya. Tidak hanya disitu saja, jauh-jauh hari sebelumnya ia sudah melobi mahasiswanya agar masuk tidak semestinya. Jam setengah dua belas, bayangkan saja, betapa panasnya.
Tapi tak apalah, baru hari ini juga aku mendapat pelajaran yang cukup berharga. Dosen lain pula yang memberikan. katanya begini “bersabarlah...!” beliau juga kasih keterangan, bahwa sabar mampu menyelesaikan segala hal. Entahlah, persoalan mengenai dosen di kampus ini seolah tak ada titik temunya, selalu ada yang bertingkah tak mudah ditebak, mulai dari menjual buku dengan dalil pendidikan. Jangan lupakan juga perkara nilai buruk ketika tidak membeli bukunya. Ada pula yang pulang-pergi, entah kemana dengan dalih penelitian tapi nyatanya mahasiswa, aduh biyung....lagi-lagi jadi korban.
Biarlah, tapi hal yang membuatku semakin rindu padamu perkara kawan-kawanku disana. Meski uang tak ada tapi kami terus saja bergumam. Kalau boleh aku ambil dari Wiji Thukul “bahwa gumam adalah mantra-mantra dari dewa-dewa, sebab gumam akan bisa menjadi gelombang salju yang besar” sebut saja para Pandhawa atau Kurawa, aku tak tahulah, yang penting heppy. Ku kira begitu. Dan kerinduanku juga terhadap para senior, taruhlah mas Fahmi, dua kembar dan sebagainya. Ku kira kerinduanku semakin menjadi ketika beberapa kawan-kawanku mengajak diskusi tentang isi buku, bukan hanya soal masalah yang copy paste.
Tak luput juga adalah kursi-kursi berat yang merusak lantai, perihal kamar mandi yang butuh disiram.  Tak luput juga perihal pak satpam yang selalu klepek-klepek saat aku lewat, mereka berteriak seolah baru saja bertemu idola...., adu mamasayange.
Pada akhirnya aku dapat katakan, bahwa surat ini benar-benar abu-abu. Pun dengan apa yang ku surati, sama abu-abunya. Dengan kebijakkan yang tak banyak disukai mahasiswa. Bagaimana tidak, beberapa kali kawan-kawan terusir kala diskusi. Tentu dengan dalil bahwa “waktu kunjungan kampus sudah berakhir”.
Kembalilah jingga, menjadi penutup suratku yang abu-abu ini. jingga yang pasrah dan selalu menjadi primadona diantara tongkat-tonkat selfi, diantara kamera ber-fles dalam pangkuan Juras (jurang asmara) katanya. Lembayung senja yang mengingatkanku pada kesaksian sebuah perpisahan Hayati dan Zainuddin, atau puitisnya kematian Romeo dan Juliet seperti yang dikabarkan Saut Sitomorang. Meskipun sebuah kisah cinta yang sangat munafik.
            Begitulah kiranya tulisan saya, dengan diksi seadanya dan jauh dari kata romantis dalam sebuah surat cinta yang ditulis dari beberapa orang kala begitu menggebu cintanya, kukira “jika kita sudah mencintai sesuatu, meskipun kita tahu betapa buruknya, kita tak akan pernah lari dari dia”. Kata-kata ini aku dapat dari seorang senior, dan saya bahasakan ala saya. 

afifi

Some say he’s half man half fish, others say he’s more of a seventy/thirty split. Either way he’s a fishy bastard. Google

0 komentar: