Sebuah Kata
Pada musim diam. Aku tak punya hiburan lain selain berdiam diri,
melepaskan segala malam yang cukup runtuh dalam dadaku. Aku lebih memilih kursi
paling sunyi pada tempat serupa dirimu. Rumus apa yang pantas aku gunakan kala
harus mulai perbincangan ini?
Tepatnya aku punya sebuah buku, merah tanpa tanda apapun. Titik dan
koma, karena kau beralasan bahwa tanda-tanda itu akan mulai menghentikan
nafasmu kala membaca. Sedangkan aku terus saja bersajak malam-malam yang tak
pernah sampai pada telinga.
Rumahku seolah buku, dengan atap sobekan kertas, berdinding
kata-kata yang tak pernah terjemahkan dan tercipta dari bahasa jauh dan paling
asing. Aku sungguh tak punya pilihan untuk menghibur diriku sendiri dengan
berbagai hal, selain berenang pada ponselmu, bercocok tanam pada matamu, dan
menumbuhkan buku-buku di belakang rumahku seolah perpustakaan. Kau tahu? Bahwa
perpustakaan adalah sejarah yang tak pernah aku selesaikan saat ini, sejarah
kegelapan negriku dan tubuh sendiri.
Pada musim selanjutnya, berupa musim kepustakaan yang mulai putus
asa. Sekarang, engkau akhirnya tumbuh dan tiba-tiba jatuh. Engkau diam saja,
tanpa bersuara. Sedang di tubuhmu, huruf-huruf tanpa spasi, titik dan tanda
lainnya tertera. Kau tak bertanya, “Siapa aku?”. Tapi engkau juga tak
memperkenalkan dirimu.
Aku cukup kebingungan. “Siapa kau?” ucapku dengan berbagai perkakas
alat tulis untuk mencatat bahasa apa yang akan kau lontarkan. “aku sebuah kata yang tak pernah kau
selesaikan....” ucapmu dalam bentuk senyuman yang serupa pagi. Akhirya dalam
halaman berikutnya aku akan terus bersahaja menulismu sebagai kata-kata yang
paling asing dan diksi yang paling jauh, terjemahannya juga tak luput, aku tak
ingin memberi sebuah spasi atau tanda lainnya. Agar nafasmu tak berhenti, itu
saja.
Aziz Afifi, April 16
.png)


0 komentar: