Sebuah Kata

00.25 0 Comments

Pada musim diam. Aku tak punya hiburan lain selain berdiam diri, melepaskan segala malam yang cukup runtuh dalam dadaku. Aku lebih memilih kursi paling sunyi pada tempat serupa dirimu. Rumus apa yang pantas aku gunakan kala harus mulai perbincangan ini?
Tepatnya aku punya sebuah buku, merah tanpa tanda apapun. Titik dan koma, karena kau beralasan bahwa tanda-tanda itu akan mulai menghentikan nafasmu kala membaca. Sedangkan aku terus saja bersajak malam-malam yang tak pernah sampai pada telinga.
Rumahku seolah buku, dengan atap sobekan kertas, berdinding kata-kata yang tak pernah terjemahkan dan tercipta dari bahasa jauh dan paling asing. Aku sungguh tak punya pilihan untuk menghibur diriku sendiri dengan berbagai hal, selain berenang pada ponselmu, bercocok tanam pada matamu, dan menumbuhkan buku-buku di belakang rumahku seolah perpustakaan. Kau tahu? Bahwa perpustakaan adalah sejarah yang tak pernah aku selesaikan saat ini, sejarah kegelapan negriku dan tubuh sendiri.
Pada musim selanjutnya, berupa musim kepustakaan yang mulai putus asa. Sekarang, engkau akhirnya tumbuh dan tiba-tiba jatuh. Engkau diam saja, tanpa bersuara. Sedang di tubuhmu, huruf-huruf tanpa spasi, titik dan tanda lainnya tertera. Kau tak bertanya, “Siapa aku?”. Tapi engkau juga tak memperkenalkan dirimu.
Aku cukup kebingungan. “Siapa kau?” ucapku dengan berbagai perkakas alat tulis untuk mencatat bahasa apa yang akan kau lontarkan.  “aku sebuah kata yang tak pernah kau selesaikan....” ucapmu dalam bentuk senyuman yang serupa pagi. Akhirya dalam halaman berikutnya aku akan terus bersahaja menulismu sebagai kata-kata yang paling asing dan diksi yang paling jauh, terjemahannya juga tak luput, aku tak ingin memberi sebuah spasi atau tanda lainnya. Agar nafasmu tak berhenti, itu saja.



Aziz Afifi, April 16

afifi

Some say he’s half man half fish, others say he’s more of a seventy/thirty split. Either way he’s a fishy bastard. Google

0 komentar: