Pancasila Sebagai Jalan Keluar Pendidikan

09.52 0 Comments

Pada sebuah diskusi, salah seorang teman menanyakan perihal pendidikan di negara ini. “Bagaimana sistem pendidikan yang baik untuk dijadikan kiblat di negara ini?” kira-kira begitu pertanyaannya terlontar.
            Pertanyaan itu merupakan bentuk respon betapa amburadulnya pendidikan kita ini. Kesan yang muncul adalah sistem pendidikan yang ikut-ikutan. Mencomot sana dan mencomot sini. Dalam sudut lain tentang amburadulnya pendidikan negara ini berupa kebijakan yang gampang berubah menyesuaikan siapa berkuasa.
            Lantas bagaimana kita akan merumuskan pendidikan negara ini. Perkara yang dilematis berupa negara ini bukan negara yang homogen. Negara yang mempunyai kultur yang berbeda. Karakter yang hadir juga beragam.  Pertanyaannya kembali lagi bagaimana kita merumuskan pendidikan negara ini. Bagaimana menjaga nasionalisme tetapi juga tetap mempertahankan khasanah daerah masing-masing wilayah.
            Sedangkan dalam pemetaan sendiri, pandangan pendidikan hanya dibagi menjadi dua. Konserfatif dan liberal. Perbedaan ini dasarkan pada penafsiran dan pembacaan yang berbeda mengenai apa itu kebenaran? Bagaimana meletakan manusia –dalam arti sebagai subjek atau objek? Dan pembacaan mengenai sistem sosial yang ada? Dari perbedaan itulah kita dapat memetakan mana yang termasuk dalam kategori konserfatif dan liberal.
            Konserfatif mempunyai arti lebih pada tradisional ini, menawarkan pandangan bahwa pendidikan tetap pada nilai-nilai, moral dan ilmu pengetahuan. Dalam lingkup nilai dan moral. Pendidikan bisa mengacu pada agama. Seperti yang selalu dilakukan oleh pesantren. Dimana tujuan utamanya dalah selalu dekat dengan tuhan. Meskipun dengan begitu, tidak lantas kita katakan bahwa pendidikan semacam ini tidak mementingkan pengetahuan. Justru di sinilah letak bagaimana pengetahuan di peroleh tanpa sadar oleh para pelaku pendidikan disana.
            Pandangan yang kedua adalah pandangan liberal. Pandangan ini adalah lebih melihat sisi berbeda dan bebas dari seorang individu. Maka tidak mengherankan jika teori dalam pendidikan ini lebih menonjolkan bagaiman pendidikan menjadi pembebasan dan alat penggerak sosial. Lantas pertanyaan kita bagaimana sistem negara kita bertempat? Dari kedua pandangan tersebut, sistem yang relevan untuk negara ini yang mana? Pertanyaan-pertanyaan tersebutlah yang lantas timbul dalam pemetaan saya.
Pendidikan bersistem gabungan
            Menjawab perihal bagaimana sistem pendidikan, tentu dengan melihat tujuan dan falsafah orang Indonesia itu sendiri. Dengan demikian maka pendidikan Indonesia adalah mengacu pada pancasila. Pancasila telah menjadi idiologi dalam segala lini, mulai dari politik, pandangan hidup dan lain sebagainya.
            Namun bagaimana sistem pancasila itu sendiri dalam pendidikan? Dalam sejarah memang pancasila sudah dibterapkan sebagai pendidikan yaitu pada orde baru. Namun pada era itu pendidikan berbasis pancasila hanya sebagai bentuk propaganda dan penguatan rezim saja. Siswa hanya diajarkan pada permukaan saja. Alhasil siswa hanya menghafal secara text tanpa mengetahui apa yang ada lebih jauh dari nilai sila-sila yang ada.
            Pancasila pada era ini- dalam konteks pendidikan- harus dimaknai lebih dari sekedar itu. Siswa harus dituntut menghayati apa yang ada didalam. Hal ini akan terealisasi jika pengajar dan masyarakat mendukung dalam pengajaran. Seperti pada trisentra yang dikemukakan Ki Hajar Dewantara. Bahwa pendidikan itu bukan hanya melibatakan satu unsur dalam membentuk karakter siswa, melainkan melalui keluarga, masyarakat dan sekolah  itu sendiri.
            Jadi pendidikan yang berbasis pada pancasila mampu menjembatani kedua pandangan tersebut keduanya liberal dan konserfatif. Pendidikan ini mampu mengkofer konserfatif karena pendidikan pancasila menberi “bentuk” nilai atau moral dalam sistemnya, karena ini didasarkan pada bentuk sila pertamanya yang berupa ketuhanan.
            Sedang sisi lain adalah mampu mengadopsi sisi liberal juga. Yaitu tercermin pada sila terakhirnya. Dimana pendidikan ditujukan untuk membentuk lingkungan sosial. Dimana ciri ini mewakili pendidikan liberal itu sendiri.
            Maka kenapa harus mencari sistem negara lain. Karena pada masalah pendidikan memang tidak bisa dihadapi dengan cara kaku, berupa menerapkan satu sistem saja. Melainkan kita harus flaksibel. Karena Indonesia adalah negara yang kompleks. Dengan sistem pancasila, secara tidak langsung pendidikan sudah memetakan mana ranah lokal dan nasional. Disanalah keberhasilan sebuah bentuk pendidikan.


                                                                                                                        Maret, 2017

afifi

Some say he’s half man half fish, others say he’s more of a seventy/thirty split. Either way he’s a fishy bastard. Google

0 komentar: