Sebelum Mengenang Chairil

20.53 0 Comments

dok. internet
Aku Bukan Binatang Jalang, begitulah Chairil Anwar memperkenalkan dirinya pada kita saat masih di SMA. Dengan puisi sederhana dan lugas inilah, guru Bahasa Indonesia lebih memilihnya sebagai praktik bersastra ria di dalam kelas. Dengan karakter yang tegas dan lugas tentu tidak perlu susah menerjemahkannya. Selain itu pula, bangku SMA terutama dalam dunia perfilman, juga memperkenalkan Chairil lewat film yang berjudul Ada Apa Dengan Cinta (AADC). Bukan lewat tokoh Rangga, melaikan lewat buku yang berjudul Aku. Buku yang seolah menjadi tokoh lain itu secara tidak langsung mempunyai peran penting dalam memperkenalkan Chairil Anwar.
Buku yang bercerita mengenai kehidupan Chairil beserta puisi-puisinya itu merupakan karangan Sjuman Djaya (sutradara film era ’70-an). Mulai dari kisah masa kecil sampai kematian Chairil. Selain itu, jauh sebelum lewat buku Aku dan AADC, Chairil sudah dikenalkan oleh HB. Jassin sebagai “paus sastra” pada masanya.       
Chairil Anwar, pelopor angkatan ’45. Begitulah HB. Jassin memperkenalkan Chairil bersama Asrul Sani dan Rivai Apin pada dunia kesusastraan Indonesia. Perkenalan ini tidak semata-mata omong kosong belaka. Kritikus sastra ini memperkeanlkan Chairil karena sajak-sajak yang mampu mendobrak kesusastraan Indonesia. Gaya sajak ala Chairil berupa hentakan-hentakan kecil, memberi warna baru dizamannya. Persajaakan modern, begitulah kemudian “batas” yang ditimbulkannya.
Meskipun terbilang singkat, Chairil sudah mampu menjadi pengubah sebuah era persajaakan di Indonesia. Hanya tujuh tahun, adalah waktu yang ditempuh Chairil berkecimpung dalam dunia sastra. Karena pada tahun ’49, Chairil telah menghadapi ajalnya. Dalam rentan waktu itu, HB. Jassin menjumlah ada 94 tulisan. Adapun tulisan itu berupa prosa dan puisi (terjemahan maupun asli). Tebilang sedikit memang untuk ukuran seorang sastrawan yang termasyhur sampai sekarang.
Penjumlahan ini berdasarkan tahun yang tertera pada setiap puisi Chairil. Pada tahun ’42 puisi “Nisan” menjadi puisi pertamanya, sekaligus menjadi puisi yang menyetorkan namanya kejajaran para sastrawan di negeri ini. Pada ’43 dan’46, dengan masing-masing 31 dan 13 sajak adalah masa tersubur Chairil Anwar dalam membuat sajak. Sedangkan pada tahun lainnya ia hanya mampu mengeluarkan sekitar 2-4 sajak saja.
Hal ini pulalah yang menjadi sorotan paling menarik dari diri Chairi Anwar. Chairil bukanlah orang yang pandai membuat puisi sekali duduk. Dalam buku HB. Jassin, Chairil Anwar Pelopor Angkatan ‘45, menunjukkan bahwa banyaknya coretan yang terjadi pada sajak Chairil adalah salah satu buktinya. Sedangkan dalam pembuatan sajaknya, Chairil membutuhkan waktu berhari-hari bahkan sampai berbulan-bulan. Pertimbangan ulang yang dilakukan oleh Chairil inilah yang melatarbelakangi lamanya pembuatan. Meskipun sajak itu sudah terbit sebelumnya. Wajar bila dalam satu sajak Chairil banyak kita temukan perbedaan atau tambahan dari sajaknya tersebut.

Kontrofersi

Lingkungan dan buku merupakan salah satu pembentuk tekstur dari sebuah sajak. Begitupun yang terjadi pada sajak Chairil Anwar. Sifat berontak yang ditunjukkkan pada sairnya merupakan bentukan dari masa kecilnya. Begitu pula dengan buku atau refrensi sajak yang telah dibaca. Diantara penyair yang mempengaruhi gaya berpuisi Chairil adalah Slaerhouff dan Marsman. Selain itu aktifitasnya sebagai penerjemah, tak menutup kemungkinan mempengaruhi bentuk atau corak dari puisinya.   
Tak khayal memang kalau Chairil mempunyai banyak kesamaan dengan kedua penyair tersebut dan juga penyair lainnnya. Kesamaan itu berupa bahasa dan gaya hentakan yang menonjol pada puisi-puisinya. Dari kesamaan ini pula banyak menimbulkan kritik bahwa Chairil melakukan plagiat.
Dalam bukunya HB. Jassin kita bisa melihat banyaknya kesamaan tersebut. Contoh dalam puisi Marsman “In Memoriam Mijzelf” dengan puisi Chairil “Kepada Kawan”, yang mempunyai kesamaan sebagaian isi pikiran tetapi maksudnya berbeda. Contoh lain yang dipaparkan oleh HB. Jassin yakni mengenai puisi Charil yang hampir persis dengan puisi Lorca. Puisi itu hampir mempunyai tekanan yang sama.
Dalam puisinya, Lorca mengatakan “Wahai! Amat panjangnya jalan!”. Puisi ini lantas dibandingkan dengan puisi Chairil yang berbunyi “Amboi! Jalan sudah bertahun-tahun kutempuh!”. Tapi dalam komentarnya HB. Jassin juga memberi pembelaan, bahwa puisi itu jelas-jelas tak ada hubungannya. Lain halnya dengan Buyung Shaleh yang berkomentar bahwa Chairil dengan sengaja memindahkan suasana Spanyol ke suasana kepulauan Indonesia.
Selain itu kasus plagiat yang dilakukan bukan semata-mata dari Chairi Anwar sendiri. Tetapi  tak jarang, kasus seperti ini akibat dari kesalahan cetak oleh penerbit. Seperti sajak “Kuda Jalang” yang dicetak dengan nama Chairil, tetapi sebenarnya puisi itu milik Rustandi Kartakusuma. Hal ini sesuai pengakuan oleh New Haven, pada 22 februari 1959 pada pendahuluan cetakan kedua.

Siapa di balik Chairil?

Kasus plagiasi adalah hal yang paling mencoreng nama Chairil. Lantas bagaimana nama Chairil tetap saja diperbincangkan sebagai pelopor. Kenapa tidak Asrul Sani dan Rivai Apin, yang juga disebut-sebut oleh “paus sastra” sebagai sang pelopor juga.
Layaknya sebuah perahu, begitulah sejarah. Siapa yang memegang kendali perahu, itulah yang akan melabuhkan kemana perahu itu bertepi. Begitupun dengan nama Chairil yang diperkenalkan oleh sebuah sejarah. Tentu kita akan bertanya, siapa yang menggendalikan perahu (sejarah) saat itu?
Mengenai hal ini, tak salahnya sedikit menyinggung borok lama negara ini. Tepatnya pada era ’65. Dimana Manifes Kebudayaan (Manikebu) menjadi nahkoda sejarah saat itu. Menyusul kemenangannya terhadap Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat), karena dituding sebagai lembaga milik PKI oleh Soeharto.
Dengan konsep Humanisme Universal inilah, Manikebu mampu merebut hati Soeharto. Konsep yang mengusung bahwa sastra harus bebas dari segala belenggu muatan ideologi dan politik manapun. Dengan konsep ini pula, Manikebu menjadi lembaga budaya yang tidak berbahaya bagi kedudukan Soeharto pada saat itu.
Dalam lembaga itu pulalah seorang HB. Jassin bernaung dan mampu membesarkan nama Chairil Anwar. Meskipun HB. Jassin juga memperkenalkan Asrul Sani dan Rivai Apin, tetapi kedua tokoh sastra itu mempunyai latar belakang politik. Secara tidak langsung, kedua orang itu tersisih dalam perkembangan sejarang. Apalagi Rivai Apin yang bernaung didalam Lekra, Tentu kiprahnya tak banyak dikenal di indonesia.
Tentu dengan kontroversi dan orang dibalik Chairil itulah. Kita harus senantiasa menimbang kembali perihal Chairil. Sebelum kita mempringati kematiaannya yang jatuh pada bulan ini juga. Selain itu, sekolah-sekolah tidak semata-mata hanya memperkenalkan Chairil sebagai pelopor. Tokoh lainnya pun harus ikut ditelaah bersama, guna memperkembang kesusastraan yang sudah hampir dilupkan itu. Hal lain juga, agar perkenalan itu terasa berimbang.             
Lepas dari itu, Chairil Anwar tetap harus juga dicatat beserta sajak-sajaknya, sebagai pelopor. Tidak dipungkiri bahwa dengan dobrakannya melalui puisi yang bebas dan mempunyai hentakan itu, perkembangan puisi Indonesia menjadi dinamis. Corak puisi Indonesia tidak lagi menuntut pakem berupa kesaman rima atau lain sebagainya, seperti pada masa puisi pujangga lama dan baru.


Bar tau neng  www.lpmedukasi.com


    

afifi

Some say he’s half man half fish, others say he’s more of a seventy/thirty split. Either way he’s a fishy bastard. Google

0 komentar: