Sebelum Mengenang Chairil
| dok. internet |
Aku Bukan
Binatang Jalang, begitulah Chairil Anwar memperkenalkan dirinya pada kita saat
masih di SMA. Dengan puisi sederhana dan lugas inilah, guru Bahasa Indonesia
lebih memilihnya sebagai praktik bersastra ria di dalam kelas. Dengan karakter
yang tegas dan lugas tentu tidak perlu susah menerjemahkannya. Selain itu pula,
bangku SMA terutama dalam dunia perfilman, juga memperkenalkan Chairil lewat
film yang berjudul Ada Apa Dengan Cinta (AADC). Bukan lewat tokoh
Rangga, melaikan lewat buku yang berjudul Aku. Buku yang seolah menjadi
tokoh lain itu secara tidak langsung mempunyai peran penting dalam memperkenalkan
Chairil Anwar.
Buku yang
bercerita mengenai kehidupan Chairil beserta puisi-puisinya itu merupakan
karangan Sjuman Djaya (sutradara film era ’70-an). Mulai dari kisah masa kecil
sampai kematian Chairil. Selain itu, jauh sebelum lewat buku Aku dan AADC,
Chairil sudah dikenalkan oleh HB. Jassin sebagai “paus sastra” pada masanya.
Chairil Anwar,
pelopor angkatan ’45. Begitulah HB. Jassin memperkenalkan Chairil bersama Asrul
Sani dan Rivai Apin pada dunia kesusastraan Indonesia. Perkenalan ini tidak
semata-mata omong kosong belaka. Kritikus sastra ini memperkeanlkan Chairil
karena sajak-sajak yang mampu mendobrak kesusastraan Indonesia. Gaya sajak ala
Chairil berupa hentakan-hentakan kecil, memberi warna baru dizamannya. Persajaakan
modern, begitulah kemudian “batas” yang ditimbulkannya.
Meskipun
terbilang singkat, Chairil sudah mampu menjadi pengubah sebuah era persajaakan
di Indonesia. Hanya tujuh tahun, adalah waktu yang ditempuh Chairil berkecimpung
dalam dunia sastra. Karena pada tahun ’49, Chairil telah menghadapi ajalnya.
Dalam rentan waktu itu, HB. Jassin menjumlah ada 94 tulisan. Adapun tulisan itu
berupa prosa dan puisi (terjemahan maupun asli). Tebilang sedikit memang untuk
ukuran seorang sastrawan yang termasyhur sampai sekarang.
Penjumlahan
ini berdasarkan tahun yang tertera pada setiap puisi Chairil. Pada tahun ’42
puisi “Nisan” menjadi puisi pertamanya, sekaligus menjadi puisi yang
menyetorkan namanya kejajaran para sastrawan di negeri ini. Pada ’43 dan’46,
dengan masing-masing 31 dan 13 sajak adalah masa tersubur Chairil Anwar dalam
membuat sajak. Sedangkan pada tahun lainnya ia hanya mampu mengeluarkan sekitar
2-4 sajak saja.
Hal ini
pulalah yang menjadi sorotan paling menarik dari diri Chairi Anwar. Chairil bukanlah
orang yang pandai membuat puisi sekali duduk. Dalam buku HB. Jassin, Chairil
Anwar Pelopor Angkatan ‘45, menunjukkan bahwa banyaknya coretan yang
terjadi pada sajak Chairil adalah salah satu buktinya. Sedangkan dalam
pembuatan sajaknya, Chairil membutuhkan waktu berhari-hari bahkan sampai
berbulan-bulan. Pertimbangan ulang yang dilakukan oleh Chairil inilah yang
melatarbelakangi lamanya pembuatan. Meskipun sajak itu sudah terbit sebelumnya.
Wajar bila dalam satu sajak Chairil banyak kita temukan perbedaan atau tambahan
dari sajaknya tersebut.
Kontrofersi
Lingkungan dan
buku merupakan salah satu pembentuk tekstur dari sebuah sajak. Begitupun yang
terjadi pada sajak Chairil Anwar. Sifat berontak yang ditunjukkkan pada sairnya
merupakan bentukan dari masa kecilnya. Begitu pula dengan buku atau refrensi
sajak yang telah dibaca. Diantara penyair yang mempengaruhi gaya berpuisi
Chairil adalah Slaerhouff dan Marsman. Selain itu aktifitasnya sebagai
penerjemah, tak menutup kemungkinan mempengaruhi bentuk atau corak dari puisinya.
Tak khayal
memang kalau Chairil mempunyai banyak kesamaan dengan kedua penyair tersebut
dan juga penyair lainnnya. Kesamaan itu berupa bahasa dan gaya hentakan yang
menonjol pada puisi-puisinya. Dari kesamaan ini pula banyak menimbulkan kritik
bahwa Chairil melakukan plagiat.
Dalam bukunya
HB. Jassin kita bisa melihat banyaknya kesamaan tersebut. Contoh dalam puisi
Marsman “In Memoriam Mijzelf” dengan puisi Chairil “Kepada Kawan”, yang
mempunyai kesamaan sebagaian isi pikiran tetapi maksudnya berbeda. Contoh lain
yang dipaparkan oleh HB. Jassin yakni mengenai puisi Charil yang hampir persis
dengan puisi Lorca. Puisi itu hampir mempunyai tekanan yang sama.
Dalam
puisinya, Lorca mengatakan “Wahai! Amat panjangnya jalan!”. Puisi ini lantas
dibandingkan dengan puisi Chairil yang berbunyi “Amboi! Jalan sudah
bertahun-tahun kutempuh!”. Tapi dalam komentarnya HB. Jassin juga memberi
pembelaan, bahwa puisi itu jelas-jelas tak ada hubungannya. Lain halnya dengan
Buyung Shaleh yang berkomentar bahwa Chairil dengan sengaja memindahkan suasana
Spanyol ke suasana kepulauan Indonesia.
Selain itu
kasus plagiat yang dilakukan bukan semata-mata dari Chairi Anwar sendiri.
Tetapi tak jarang, kasus seperti ini
akibat dari kesalahan cetak oleh penerbit. Seperti sajak “Kuda Jalang” yang
dicetak dengan nama Chairil, tetapi sebenarnya puisi itu milik Rustandi
Kartakusuma. Hal ini sesuai pengakuan oleh New Haven, pada 22 februari 1959
pada pendahuluan cetakan kedua.
Siapa di balik
Chairil?
Kasus plagiasi
adalah hal yang paling mencoreng nama Chairil. Lantas bagaimana nama Chairil
tetap saja diperbincangkan sebagai pelopor. Kenapa tidak Asrul Sani dan Rivai
Apin, yang juga disebut-sebut oleh “paus sastra” sebagai sang pelopor juga.
Layaknya
sebuah perahu, begitulah sejarah. Siapa yang memegang kendali perahu, itulah
yang akan melabuhkan kemana perahu itu bertepi. Begitupun dengan nama Chairil yang
diperkenalkan oleh sebuah sejarah. Tentu kita akan bertanya, siapa yang
menggendalikan perahu (sejarah) saat itu?
Mengenai hal
ini, tak salahnya sedikit menyinggung borok lama negara ini. Tepatnya pada era ’65.
Dimana Manifes Kebudayaan (Manikebu) menjadi nahkoda sejarah saat itu. Menyusul
kemenangannya terhadap Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat), karena dituding
sebagai lembaga milik PKI oleh Soeharto.
Dengan konsep
Humanisme Universal inilah, Manikebu mampu merebut hati Soeharto. Konsep yang
mengusung bahwa sastra harus bebas dari segala belenggu muatan ideologi dan
politik manapun. Dengan konsep ini pula, Manikebu menjadi lembaga budaya yang
tidak berbahaya bagi kedudukan Soeharto pada saat itu.
Dalam lembaga
itu pulalah seorang HB. Jassin bernaung dan mampu membesarkan nama Chairil
Anwar. Meskipun HB. Jassin juga memperkenalkan Asrul Sani dan Rivai Apin,
tetapi kedua tokoh sastra itu mempunyai latar belakang politik. Secara tidak
langsung, kedua orang itu tersisih dalam perkembangan sejarang. Apalagi Rivai
Apin yang bernaung didalam Lekra, Tentu kiprahnya tak banyak dikenal di
indonesia.
Tentu dengan
kontroversi dan orang dibalik Chairil itulah. Kita harus senantiasa menimbang
kembali perihal Chairil. Sebelum kita mempringati kematiaannya yang jatuh pada
bulan ini juga. Selain itu, sekolah-sekolah tidak semata-mata hanya
memperkenalkan Chairil sebagai pelopor. Tokoh lainnya pun harus ikut ditelaah
bersama, guna memperkembang kesusastraan yang sudah hampir dilupkan itu. Hal
lain juga, agar perkenalan itu terasa berimbang.
Lepas dari
itu, Chairil Anwar tetap harus juga dicatat beserta sajak-sajaknya, sebagai
pelopor. Tidak dipungkiri bahwa dengan dobrakannya melalui puisi yang bebas dan
mempunyai hentakan itu, perkembangan puisi Indonesia menjadi dinamis. Corak
puisi Indonesia tidak lagi menuntut pakem berupa kesaman rima atau lain
sebagainya, seperti pada masa puisi pujangga lama dan baru.
Bar tau neng www.lpmedukasi.com
.png)

0 komentar: