andai puisiku menghujam jantungmu
1)
Aku masih duduk sembari menunggu subuh
Tapi buruk
Angin menutup pintu
Aku tercekal gelisah juga. dan mencoba meraih "sejoli mawar berkelopak mati"
Tapi buruk
Angin menutup pintu
Aku tercekal gelisah juga. dan mencoba meraih "sejoli mawar berkelopak mati"
2)
Lugas benar dingin menguliti
Dicengkramnya dada sampai kaki
Lantas senyap disajikan binal retina merah saga
Dicengkramnya dada sampai kaki
Lantas senyap disajikan binal retina merah saga
Bakar saja amarahmu biar jadi unggun
Pecahkan saja kacanya
Biar ramai merampok antara mata kita
yang masih saga
Pecahkan saja kacanya
Biar ramai merampok antara mata kita
yang masih saga
Sesudah itu
3)
Akan ku kirim mantra untukmu. menujum kau dengan
segala dayaku ( tersebut kesetianku) dalam penantian. dan ini mawar bukti
keberadaanku yang hampir mati untukmu
Redalah ini hujan
Dan
4) Tak
kan lama lagi (aku menyadari)
jejakmu kan musnah seraya hujan membuang wajah
lantas aku akan mulai mengais sisa-sisa paras itu
saat hujan meninggalkanmu menjadi embun pengecup daun
jejakmu kan musnah seraya hujan membuang wajah
lantas aku akan mulai mengais sisa-sisa paras itu
saat hujan meninggalkanmu menjadi embun pengecup daun
Haruskah?
Bosan (merampok)
5)
Aku ingin menjadi angin
Menanggalkan baju
Menabrakkan diri pada cermin
berderai dan ramai
Menanggalkan baju
Menabrakkan diri pada cermin
berderai dan ramai
Meninggalkan bayanganmu
dari dangkal hariku
Seperti biasa malam
desember, rinai hujan ramah menyapa
Aneh malam ini tiada
bermukimkah awan diatas sana hingga tak tampak serdadu hitam pekat.
Gemingku
6) “aku pernah bermimpi
soal purnama
Datang pada ku
menangkupkan tangan terkulainya itu pada kerlip apiku
Selagi menjaga,
purnama sama mengeja
Tentang
Seorang aku berkaca
antara tabiat bergegas”
Tapi seperti malam
sebelumnya dan selanjutnya itu hanya sebuah mimpi
Setelahnya sama pula.
Ku kirim sajak dari tidur ke-tidur
7) Tidurlah dikau dalam
senyap
Rasakan angin mengais
rambutmu
Resapi angin dingin
menepis pada seledang pelipis
Saksikan hutan
bertambah ramai, (tetapi)
Masih sepi menepi
pada diriku
(Ini) lagu tengah
lain pula bernada dari
Dadaku memerdukannya
Coba hentikan ayunan
kakimu
Dengar sedikit saja
keluh rinduku
Jika itu terdengar
olehmu.
Malam bertambah
senyap
Mataku masih
terbelalak pula
Cerita epos tergelar
dari engkau atma ternanti
Datang lagi malam ini
padaku seorang wanita
(mustawa) katanya
Otakku memuntahkan
nada: kulihat
8) Matamu surga sega
Surga nan senja pula
Rona-ronanya ku kenal
sama
Aku masih ragu
(ku) Tilik ia seksama
Samakah seperti rona
buatku gila?.
Pada awal kedatangan.
Katanya bebas seluruh
aku
Memandang luar
jelaslah
Mata danau membiru
Atau gemricik air
meriak dalam sana
Dara berwajah jelita
Terdiam aku
Lantas basah bahwa
aku dirumah kaca
9) Dalam lain dongeng
Teras rumahku luas
Disana tempatku
menumbuhkan bunga
Ber alis lagi berparas
Malam-malamku tersita
Hanya ada rona nan
sama
Yang datang
bertandang
Sering sekali rona
itu menetap disana
Sayang, rona itu
hanya pendar bulan yang jatuh di bening sebuah telaga
Telaga itu berombak
sederhana dengan tulisan sederhana pula: mataku
Yang tiada dapat
tertangkap dengan hanya tangan sederhana pula
10) Aku harus kembali
mengeja
Memandang dangau yang
kembali basah, merasakan angin yang keburu pulang
Dan
Merasakan bintang
yang pecah menjadi tembikar yang terbenih diangkasa hitam
Mengecupkan salam
pada masa dimana aku diburu masalah
Lantas memahami tanah
moyang
11) Antrabatra, kota kita
merajut benang
Antara senar putus
kita disana
Menuai satu persatu
mimpi berpedang
Meruncing yang siap
merobek cadar cadar dunia petang masa silam
Ada setengah hari
Kita berdiri disini
Sengah windu kita
memahami
Berabad-abad kita
akan terkenang
Menjadi patung yang
terpahat dengan sejumlah dongeng
Turun temrun
Menjadi cerita
selepas senja
Cerita dimana para
ibu menaruh kepala anak mereka pada bantal
Cerita dimana mata
bening tanpa dosa itu terlelap
Sambil berkaca-kaca
Lantas bibir itu
menukil sebuah ucapan
“aku ingin menjadi
seperti mereka,
Meruncingkan pedang
dan mengasah pedang, hingga berkilap menjadi nyata”
.png)


Josss zizzz.... kunjungi juga http://syafrukanh.blogspot.com Ok.
BalasHapusoke
BalasHapus