andai puisiku menghujam jantungmu

08.49 2 Comments

1)      Aku masih duduk sembari menunggu subuh
Tapi buruk
Angin menutup pintu
Aku tercekal gelisah juga. dan mencoba meraih "sejoli mawar berkelopak mati"
2)      Lugas benar dingin menguliti
Dicengkramnya dada sampai kaki
Lantas senyap disajikan binal retina merah saga
Bakar saja amarahmu biar jadi unggun
Pecahkan saja kacanya
Biar ramai merampok antara mata kita
yang masih saga
 Sesudah itu
3)      Akan ku kirim mantra untukmu. menujum kau dengan segala dayaku ( tersebut kesetianku) dalam penantian. dan ini mawar bukti keberadaanku yang hampir mati untukmu
Redalah ini hujan
Dan
4)      Tak kan lama lagi (aku menyadari)
jejakmu kan musnah seraya hujan membuang wajah
lantas aku akan mulai mengais sisa-sisa paras itu
saat hujan meninggalkanmu menjadi embun pengecup daun

Haruskah?
Bosan (merampok)
5)      Aku ingin menjadi angin
Menanggalkan baju
Menabrakkan diri pada cermin
berderai dan ramai
Meninggalkan bayanganmu dari dangkal hariku
Seperti biasa malam desember, rinai hujan ramah menyapa
Aneh malam ini tiada bermukimkah awan diatas sana hingga tak tampak serdadu hitam pekat.

Gemingku

6)      “aku pernah bermimpi soal purnama
Datang pada ku menangkupkan tangan terkulainya itu pada kerlip apiku
Selagi menjaga, purnama sama mengeja
Tentang
Seorang aku berkaca antara tabiat bergegas”

Tapi seperti malam sebelumnya dan selanjutnya itu hanya sebuah mimpi

Setelahnya sama pula. Ku kirim sajak dari tidur ke-tidur
7)      Tidurlah dikau dalam senyap
Rasakan angin mengais rambutmu
Resapi angin dingin menepis pada seledang pelipis
Saksikan hutan bertambah ramai, (tetapi)
Masih sepi menepi pada diriku
(Ini) lagu tengah lain pula bernada dari
Dadaku memerdukannya

Coba hentikan ayunan kakimu
Dengar sedikit saja keluh rinduku
Jika itu terdengar olehmu.

Malam bertambah senyap
Mataku masih terbelalak pula
Cerita epos tergelar dari engkau atma ternanti

Datang lagi malam ini padaku seorang wanita
(mustawa) katanya
Otakku memuntahkan nada: kulihat
8)      Matamu surga sega
Surga nan senja pula
Rona-ronanya ku kenal sama
Aku masih ragu
(ku) Tilik ia seksama
Samakah seperti rona buatku gila?.

Pada awal kedatangan.

Katanya bebas seluruh aku
Memandang luar jelaslah
Mata danau membiru
Atau gemricik air meriak dalam sana

Dara berwajah jelita
Terdiam aku
Lantas basah bahwa aku dirumah kaca
9)      Dalam lain dongeng
Teras rumahku luas
Disana tempatku menumbuhkan bunga
Ber alis  lagi berparas
Malam-malamku tersita
Hanya ada rona nan sama
Yang datang bertandang
Sering sekali rona itu menetap disana
Sayang, rona itu hanya pendar bulan yang jatuh di bening sebuah telaga
Telaga itu berombak sederhana dengan tulisan sederhana pula: mataku
Yang tiada dapat tertangkap dengan hanya tangan sederhana pula

10)  Aku harus kembali mengeja
Memandang dangau yang kembali basah, merasakan angin yang keburu pulang
Dan
Merasakan bintang yang pecah menjadi tembikar yang terbenih diangkasa hitam
Mengecupkan salam pada masa dimana aku diburu masalah
Lantas memahami tanah moyang

11)  Antrabatra, kota kita merajut benang
Antara senar putus kita disana
Menuai satu persatu mimpi berpedang
Meruncing yang siap merobek cadar cadar dunia petang masa silam
Ada setengah hari
Kita berdiri disini
Sengah windu kita memahami
Berabad-abad kita akan terkenang
Menjadi patung yang terpahat dengan sejumlah dongeng
Turun temrun
Menjadi cerita selepas senja
Cerita dimana para ibu menaruh kepala anak mereka pada bantal
Cerita dimana mata bening tanpa dosa itu terlelap
Sambil berkaca-kaca
Lantas bibir itu menukil sebuah ucapan
“aku ingin menjadi seperti mereka,
Meruncingkan pedang dan mengasah pedang, hingga berkilap menjadi nyata”



afifi

Some say he’s half man half fish, others say he’s more of a seventy/thirty split. Either way he’s a fishy bastard. Google

2 komentar: