Dangdut Falsafah Hidup
Berangkat dari perdebatan untuk memenangkan sebuah pengeras suara di Edukasi kala memutar musik, maka saya menulis ini. Seringnya perebutan itu akibat ketidaksepakatan terhadap musik yang sedang di putar. Biasa “beliau” memutar musik ala barat yang tidak pernah saya tahu artinya.
Berbeda
di Edu dan di kos. Di kos saya sering dianggap orang yang kuno. Musik semacam Payung
Teduh, Efek Rumah Kaca atau Dialog Dini Hari lah penyebabnya. Mungkin dalam
lagu-lagu band tersebut terdengar sedikit aneh dan terlalu galau. Semisal lagu
Resah milik Payung Teduh yang dirasa sangat mendayu. Tapi dalam lagu inilah,
bagaimana keindahan sebuah kata-kata dimainkan dengan perpaduan musik. Anggapan
Awal saya mengira sebuah lagu ini musikalisasi puisi, karena lirik yang sangat
puitik.
Berbicara
masalah lirik, dalam dapur musik Indonesia mempunyai genre yang sangat
khas, dangdut namanya. Dalam musik dangdut mempunyai pembahasan lirik paling mendetail.
Perkara-perkara nyeleneh semacam sakit gigi sampai pacar yang cuma lima langkah
menjadi bahasan yang paling serius dalam musik dangdut.
Selain
itu dangdut juga identik dengan jogetan atau pun tawuran. Tetapi sebelum
membahas itu, perlu kita ketahui dulu sejarah dangdut. Dangdut merupakan musik
yang mengandung unsur musik khas india, hal ini di indikasikan pada penggunaan
alat musik yang khas yaitu kendang atau ketipung, dimana alat ini mempunyai
kesamaan suara dengan tabla asli india. Dari suara alat musik inilah kata
“dangdut” terucap. Putu wijaya pada koran tempo yang memperkenalkan istilah itu.
Sedangkan
tokoh yang memperkenalkan genre dangdut
adalah Elly Khadam dengan lagu “boneka india”. Lagu yang dibawakan tersebut
merupakan lagu percampuran melayu, nuansa padang pasir dan India. Pada tahun
1966 dangdut dipopulerkan oleh Roma Irama, sebagai alat berdakwah. Lewat musik
inilah kemudian Roma Irama di juluki “raja dangdut”. Kemudian pada era
melenium, tahun 2000 dangdut koplo lahir. Dimana dangdut merupakan dangdut yang
lebih identik dengan kendangan dan goyangan heboh. Salah satu tokoh yang lahir
pada saat itu adalah Inul Darastita.
Jawa
Timur merupakan adalah pelopor dangdut koplo. Dari sejarah inilah, jogetan
kemudian menjadi kekasih setia dangdut. Jogetan atau goyangan ini biasanya di
dorong suara ketimpung yang merdu. Sehingga tak jarang kalau kita nemuin
orang ngomong “suka duka tetap goyang” begitulah dangdut.
Nilai Dangdut
Dangdut
seolah tak lepas dari indonesia. bahkan sudah di klaim menjadi sebuah genre musik
asal indonesia. Tetapi seharusnya dangdut tidak hanya dimaknai musik, melainkan
sebagai falsafah hidup orang Indonesia. mungkin kategori orang indonesia disini
bisa mulai dari penjadabat negara, penjabat kampus sampai masarakat pada
umumnya, bahkan kalau bisa juga sampai organisasi kampus. Tetap sederhana dalam
penampilannya tetapi merakyat.
Hal
itulah yang disentuh pada lirik dangdut. Meskipun lirik yang di lemparkan atau
dinyanyikan berupa lirik sederhana, seperti yang saya sebutkan diawal tadi
seperti pacar lima langkah sampai hamil duluan. Tetapi mampu melekat erat-bak
perangkau di lem pakai nasi di amplop- dihati masyarakat. Selain itu seperti
semboyan “suka duka tetap goyang”, dimana semboyan ini secara tersirat ingin
mengatakan pada kita kalau menghadapi segala masalah tetap dengan “goyang”, santai
cuy. Gak pakek urat, kalau kata temen saya ketika pesen kepala ayam plus
lehernya di pinggir jalan.
Itu tulisan
saya, pesan lagi buat yang baca jangan lupa saweran dan tetap jaga ketertiban
saat goyang. terimakasih sudah baca.
.png)


0 komentar: