Dangdut Falsafah Hidup

20.10 0 Comments



Berangkat dari perdebatan untuk memenangkan sebuah pengeras suara di Edukasi kala memutar musik, maka saya menulis ini. Seringnya perebutan itu akibat ketidaksepakatan terhadap musik yang sedang di putar. Biasa “beliau” memutar musik ala barat yang tidak pernah saya tahu artinya.

Berbeda di Edu dan di kos. Di kos saya sering dianggap orang yang kuno. Musik semacam Payung Teduh, Efek Rumah Kaca atau Dialog Dini Hari lah penyebabnya. Mungkin dalam lagu-lagu band tersebut terdengar sedikit aneh dan terlalu galau. Semisal lagu Resah milik Payung Teduh yang dirasa sangat mendayu. Tapi dalam lagu inilah, bagaimana keindahan sebuah kata-kata dimainkan dengan perpaduan musik. Anggapan Awal saya mengira sebuah lagu ini musikalisasi puisi, karena lirik yang sangat puitik.
Berbicara masalah lirik, dalam dapur musik Indonesia mempunyai genre yang sangat khas, dangdut namanya. Dalam musik dangdut mempunyai pembahasan lirik paling mendetail. Perkara-perkara nyeleneh semacam sakit gigi sampai pacar yang cuma lima langkah menjadi bahasan yang paling serius dalam musik dangdut.
Selain itu dangdut juga identik dengan jogetan atau pun tawuran. Tetapi sebelum membahas itu, perlu kita ketahui dulu sejarah dangdut. Dangdut merupakan musik yang mengandung unsur musik khas india, hal ini di indikasikan pada penggunaan alat musik yang khas yaitu kendang atau ketipung, dimana alat ini mempunyai kesamaan suara dengan tabla asli india. Dari suara alat musik inilah kata “dangdut” terucap. Putu wijaya pada koran tempo yang memperkenalkan istilah itu.
Sedangkan tokoh yang memperkenalkan genre  dangdut adalah Elly Khadam dengan lagu “boneka india”. Lagu yang dibawakan tersebut merupakan lagu percampuran melayu, nuansa padang pasir dan India. Pada tahun 1966 dangdut dipopulerkan oleh Roma Irama, sebagai alat berdakwah. Lewat musik inilah kemudian Roma Irama di juluki “raja dangdut”. Kemudian pada era melenium, tahun 2000 dangdut koplo lahir. Dimana dangdut merupakan dangdut yang lebih identik dengan kendangan dan goyangan heboh. Salah satu tokoh yang lahir pada saat itu adalah Inul Darastita.
Jawa Timur merupakan adalah pelopor dangdut koplo. Dari sejarah inilah, jogetan kemudian menjadi kekasih setia dangdut. Jogetan atau goyangan ini biasanya di dorong suara ketimpung yang merdu. Sehingga tak jarang kalau kita nemuin orang ngomong “suka duka tetap goyang” begitulah dangdut.

Nilai Dangdut
Dangdut seolah tak lepas dari indonesia. bahkan sudah di klaim menjadi sebuah genre musik asal indonesia. Tetapi seharusnya dangdut tidak hanya dimaknai musik, melainkan sebagai falsafah hidup orang Indonesia. mungkin kategori orang indonesia disini bisa mulai dari penjadabat negara, penjabat kampus sampai masarakat pada umumnya, bahkan kalau bisa juga sampai organisasi kampus. Tetap sederhana dalam penampilannya tetapi merakyat.
Hal itulah yang disentuh pada lirik dangdut. Meskipun lirik yang di lemparkan atau dinyanyikan berupa lirik sederhana, seperti yang saya sebutkan diawal tadi seperti pacar lima langkah sampai hamil duluan. Tetapi mampu melekat erat-bak perangkau di lem pakai nasi di amplop- dihati masyarakat. Selain itu seperti semboyan “suka duka tetap goyang”, dimana semboyan ini secara tersirat ingin mengatakan pada kita kalau menghadapi segala masalah tetap dengan “goyang”, santai cuy. Gak pakek urat, kalau kata temen saya ketika pesen kepala ayam plus lehernya di pinggir jalan.       
Itu tulisan saya, pesan lagi buat yang baca jangan lupa saweran dan tetap jaga ketertiban saat goyang. terimakasih sudah baca.


afifi

Some say he’s half man half fish, others say he’s more of a seventy/thirty split. Either way he’s a fishy bastard. Google

0 komentar: