05.00 a.m

09.25 0 Comments

dok. internet
Entah kenapa aku bisa bangun pagi, terdorong rasa “ingin” atau bagaimana? Aku sungguh tak tahu. Tepat diambang pintu, matahari datang tanpa kemeja, mengenakan sepatu jingga cabe ranum. “Ada apa? Ada perlu apa?” tanyaku pagi itu, setelah sedikit membenarkan bola mataku. Ia tetap diam disana dan tetap sempurna-klimis. Dengan segala kerapiannya, mataku cukup terpesona.
***
Malangnya, pagi itu pikiranku melayang sangat jauh. Beralih ke 125 kilometer dari sini mungkin. Tepat di pesisir pantai utara. Pikiranku terpental kesana. Dan tak sengaja pula aku menemukan Kenangan yang sedang sendirian dan termenung. “Pagi” ucapku dengan sangat gelisah dan sedikit ketakutan. Ia kemudian tersedu. “Ada apa?” tanyaku memberanikan diri. Ia makin tersedu. Ku pertegas dan mencoba mendekat “Ada apa dan bagaimana kau bisa  sendirian di sini?” mendengar pertanyaanku kali ini ia tambah terisak.
“Kau tak pandai menenangkan diri” gerutu Dirikusendiri yang menikmati teh diteras sebuah warung. Dan tak pernah ku hiraukan dia memang, Dirikusendiri hanya penipu dan pembual, buat apa mempercayainya sebagai tokoh lain yang membantu peran antagonis atau protagonis pada diri seseorang, lebih baik jadi yang lain saja. Satu langkah semakin tambah. “Ada apa?”. Ia tambah menjadi, kali ini air matanya malah menetes.
Aku semakin binggung, dan Dirikusendiri tambah ketawa, sambil sesekali ia meminum teh yang tercampur dengan nafasnya sendiri. “Bagaimana, kau butuh bantuan?” tawarnya sambil menyibukkan diri mengambil beberapa nafas panjang yang telah tercelup dalam teh itu. “Lupa kau, siapa aku?” ucapnya mempertegas dirinya seolah menambahkan dengan sedikit kepongahan. Begitulah Dirikusendiri, selalu bersikap menjadi yang terhebat dan perkasa.  
Aku semakin termenung disana. Dengan segala apa yang aku adili saat ini. “Kenangan? Hai bicaralah!”. Tapi ia terus menangis. Bingung tambah menyeruak, seolah angin malam yang gelisah memasukkan hawa dingi lewat jendela rumah dan tambah belagak Dirikusendiri dengan tawa yang kian lantang.
Aku beranikan diri untuk mendekatkan, semakin dekat dengan Kenangan dan berlaku seolah orang terhangat disitu. Ia tetap menangis dan aku lantas bersikap orang yang sangat putus asa. “Kau bicaralah, aku perlu engkau, aku perlu engkau bercerita dengan jelas, ayolah Kenangan, bicaralah!”. Pada akhirnya ia menjawab dengan patah-patah, sembari terisak. “kau-tak-akan-pernah-menyesal-bukan-?”. “ti-dak” jawabku ragu-ragu.
Ia telah bercerita panjang sekali sambil memainkan kaki-kakinnya, basah karena ombak yang begitu penurut. Ya ...karena ia suka menjilati kaki setiap yang lewat di hadapannya. Kira-kira begini ceritanya: Pada pagi itu kenangan telah lama pergi dari rumahku. Karena ibu dan ayahku selalu bertengkar dan terus menerus memecahkan apa saja yang ada dihadapannya. Pertengkaran itu berupa hal yang paling tak kusukai. “menu apa?” itu saja yang mereka sandiwarakan dalam dapur. Ibuku menarik ikan sedang ayahku, ia lebih suka bau kopi. Akhirnya dalam pertengkaran itu mereka memutuskan “hari memasak telur mata sapi”. Tapi kuning telur yang jingga itu tergelincir di sudut kaki langit, ufuk timur.  Dan begitulah Matahari yang akhirnya menjadi pagi yang begitu pagi buta telah mengetuk pintu kamarku. Dan begitulah, sedang Dirisendiri kini terdiam ia tahu bahwa ia harus menjadi diri sendiri tanpa mengetik sesiapapun pagi itu.
***
“Selamat pagi, karena ibumu aku datang menunggu kau bangun” seru matahari sambil melepas mantel malamnya.
                        

afifi

Some say he’s half man half fish, others say he’s more of a seventy/thirty split. Either way he’s a fishy bastard. Google

0 komentar: