Tokoh yang Ku Sembunyikan dalam Ponsel
Saya nggak punya kenangan.. Tapi ketika memperhatikan Rin ya memang mirip dengan teman saat remaja.. Kalau melihat dan memperhatikannya aku seperti tak pernah asing melihat Rin... Dia baik anaknya...
Suara itu jatuh tepat pada
pagi ini selepas seruputan kopi yang ke sepuluh kali, mungkin. Nadanya begitu
halus, seolah itu menyembul dari dalam dadanya yang terkering. Mungkin suaranya
dibuat-buat agar aku tak mengingkarinya. Entahlah? Tapi rasanya aku pernah
mendengarnya berkali-kali dan semakin tak asing dalam telingaku. Mungkin karena
aku keseringan membaca buku semacam itu atau film. Aku tak ingat persis kapan
aku pernah mendengar tapi aku tak lagi asing. Apalagi pada kata-kata yang
terakhir. Sial, suara itu kenapa berputar-putar dalam kepalaku. Seolah
sekumpulan daun yang terjerembab dalam pusaran arus kali.
“Kamu harus bisa melihat
itu sebagai bentuk kesedihan...”
Ia lantas tenggelam dan
meninggalkanku di pagi dengan kesendirian. Suaranya lenyap setelah bunyi bib
itu terdengar. Mungkin ia begitu menyesal menyelesaikan pembicaraan ini.
Mungkin begitu juga denganku yang merasa bersalah soal pertanyaan yang sangat
lama itu. Nada perkataan awalnya begitu terkesan sangat dalam, kali ini nadanya
begitu hambar dan muncul lebih dalam dari yang tadi. Apa ia benar-benar
terpukul.
Orang-orang telah lewat
membawa apa saja yang pantas untuk di sawah pagi ini. Beberapa anak-anak
sekolahpun baru saja berangkat sangat riang dengan beberapa obrolan soal
mimpi-mimpi semalam. Mirip seperti, buah-buahan yang jatuh bertubi-tubi ke
tanah saat mereka menggoncang-ngoncang batang pohonnya. Sedangkan senyum mereka
seketika mekar. Kenapa hari ini aku begitu ingin seperti itu. Kadang masa kecil
untukku adalah kenangan yang mungkin harus dilepaskan. Bisa kau bayangkan,
kenangan masa kecilku laiknya sarang laba-laba yang disingkirkan oleh ibuku
dengan alasan menggagu keindahan.
Begitu jauh masa itu.
Sampai aku tak punya sketsa apapun. Meski hanya garis tipis. Entahlah? Kini
yang di otakku hanya lelaki itu. Mungkin setelah ia menutup percakapan yang
tiba-tiba itu, kini ia sedang meringkuk dalam sebuah kamar paling gelap. Bahkan
aku menafsirkannya itu adalah dirinya sendiri yang semakin gelap- tanpa cahaya.
Atau ia sedang mengatasi keterharuannya yang tak pantas ditunjukkan.
Lelaki itu memang pandai,
aku mengenalnya meski hanya sebentar. Sekitar dua sampai tiga hari, itu saja.
Tapi tak kusangka ia akan seperti itu. menunjukkan sikapnya yang blak-blakan
dan sulit ditebak sesiapapun, bahkan karibnya sekalipun. Atau malah gadis itu
telah membuatnya seperti orang buta yang lantas dengan sendirinya akan jujur
“bahwa dia tidak bisa menyebrang jalan”. Sekarang ia tak penuh menjadi dirinya
sendiri. Tak pandai menenangkan seperti semula. Tiba-tiba ia begitu lemahnya,
berkesiap tergolek dilantai dengan sendirinya. Aku tak memperkirakan ini
sebelumnya.
***
Aku dan Perempuan itu, seperti
tuduhan yang tiba-tiba dijatuhkan oleh hakim kepada diriku yang bertubi-tubi.
Aku mengenalnya lewat bangku panjang dan ge guguran daun pada Agustus
tiba. Kala burung pada mencicit dan menghindari angin. Ia sedang mengenakan
jingga cabe ranum dengan rambut yang tergerai. Jatuh tepat pada pundaknya.
Sedang angin yang lupa menyembunyikan dirinya, tak terkira menyasarnya. Membawa
bau-bauan seperti mawar, melati atau bahkan bunga-bungaan yang rajin disiram
pada perkarangan rumahku.
Bagaimana aku bisa
melupakan itu. Mungkin itu catatan yang terlalu indah dibuang. Lagi pula itu
bukan kenangan yang mengganggu keindahan seperti yang sering kali didengungkan oleh ibuku- jika dibuang mungkin
aku akan bersungut-sungut. Perempuan itu memperkenalkan diri sebagai seorang
peri yang pandai berbahasa asing, mendongeng soal hal-hal yang ganjil yang
selalu aku bisa nikmati, atau soal beberapa imajinasi yang sangat liar.
“Aku dikuasai oleh tiga
orang...” guraunya ketika perjalanan paling panjang menuju mimpi. “kuceritakan
padamu tokoh pertama; ia sangat pencemburu dan bawel, tokoh kedua; kalem tapi
sangat mengejutkan. Pernah kau melihat listrik yang melonjak-lonjak. Seperti itulah.
Ia juga gampang tersulut, ketiganya adalah tokoh yang pandai melerai. Aku turut
bersukur, tokoh terakhir dalam diriku begitu nyata”
Ku fikir wanita itu
benar-benar kesurupan. Mungkin ada semacam hantu yang sedang menembus otaknya
dan pandai mengada-ngada segala yang ada dalam dirinya.
“Aku ingin jadi Tuhan...”
terusnya dengan gegabah.
“....” mungkin lebih
tepatnya aku kasih tanda tanya saja
“Tuhan, karena Tuhan tak
pernah mempunyai keterlibatan dengan kesedihan”
“Apa
kau mempunyai kegelisahan yang sama denganku?” pertanyaan itu benar-benar lepas begitu saja. Memang aku tak pandai
memainkan kata laiknya anak-anak yang bermain layang-layangan. Menarik ulur
talinya. Tak ada jawaban waktu itu. Dengan seksama ia lantas membenamka dirinya
dalam bantal. Lantas suaranya tertahan, hingga aku tak pandai menangkap segala
yang diucapkan sekarang. Tapi menurutku ia hanya ingin bergurau dengan kalimat
Tuhan dan mengatakan itu untuk pergi dari masalah yang telah melilitnya.
***
Pertemuan kembali kami rencanakan. Kali ini kami sepakat
untuk berjalan-jalan di trotoar kota. Hal yang masih kami bicarakan dalam suara
yang berbisik adalah Tuhan. “siapapun boleh menari untuk Gusti” kali ini
ia mengucapkannya tanpa bernafas. Sekali lagi aku menangkapnya dengan
terheran-heran. Kami bahkan hampir menghitung sebuah jarak dan lantas berkata
“Ah aku harus berhenti makan ikan” ucapnya disela-sela perjalan. “Kenapa? Aku
suka ikan dan kau juga, bukan?” kataku menembusi dengan wajah yang tak bisa ku
bayangkan sendiri. Mungkin sedang melongo atau berbentuk seperti guci
yang masih lembek dan perot. “Karena Tuhan tak makan ikan” jawabnya
lirih. Tak tahu kenapa suaraku tertahan saat itu, aku hendak tertawa lepas.
Dan hari itu ia
sangat fasih bercerita. Kufikir kita akan membuat jalan baru yang dapat
menembus apapun. Dugaanku semakin kuat, bahwa perempuan ini benar-benar
kesurupan. Perempuan yang kadang pendiam dan cerewet dalam waktu yang
bersamaan. Gila.
Pada musim selanjutnya tiba-tiba perempuan itu musnah
dalam pandanganku. Sesekali saja ia banyak bicara di ponsel. Masih tentang
keinginannya menjadi Tuhan. mungkin bisa dibilang ini musim sayembara
pertukaran suara, yang siap kau kemas dalam kaleng dan siap untuk dilempar ke
lautan paling dalam. Dan itu aku temukan
di matamu.
Beberapa hari ia datang dengan perkara-perkara yang baru,
bukan soal Tuhan lagi. “Tadi pagi aku menemukanmu seperti noda kopi dikerahku,”
ucapnya tambah resah dan basah, bisa jadi ia rindu. Dan semakin hari suara itu
semakin membuatku gelisah. Suara itu seolah menjadi kain yang telah dililin dan
terikat pada leherku. Betapa aku susah untuk bernafas. Suara itu terus menjadi
dentuman yang menghantam tubi-tubi dalam dinding dadaku. Bergema melintasi
saraf otakku yang semakin berkerut. Hantukah? Aku kurang tau.
Pada bulan selanjutnya ia ingin menari. Ia masih berbisik
padaku “aku ingin menari untuk Gusti” mungkin seperti itulah suara yang dapat
ku tangkap dengan samar. Dan tepat pada jam 02.00 am ia mengirimiku pesan pendek
;kau harus datang, dan aku akan menari untuk Tuhan. dan kufikir juga aku harus datang pada malam
itu dan menyaksikannya dengan tuhan.
Malam pertunjukkan akhirnya tepat jatuh pada
cahaya lampu yang menyeringai tajam. Dan perempuan itu tiba-tiba nyelonong
dibawahnya. Aku melihat kulitnya terbakar, mulai hangus. Tapi ia tak mengatakan
apa-apa, tak berkeluh apa-apa, tak memikirkan apa, yang diotaknya adalah
semacam Tuhan. “Apa ia benar-benar ingin menyajikannya untuk kami” ucap salah
satu penonton dengan mahkota emas yang sangat tinggi. Orang lain menjawab “Mungkin,
bukankah ia hambamu yang paling setia”. Aku mulai kebingungan soal ini. Apakah mereka
yang disebut-sebut Gusti. Sekarang tubuh gadis itu benar-benar matang
dan orang-orang di kursi ini mulai berkisah “Lihatlah hambamu” lalu mereka pada
bubar dan menyanyikan doa-doa agar perempuan itu bahagia. “Apakah begini? Kita hamba
harus mencukupi tuhan dengan tarian-tarian atau tuhanlah yang mencukupi kita?”
kemudian gadis itu melirikku dan...
***
Itu hanya semacam mimpi. Dan ibuku sangat
bersungut-sungut sekali sambil ngedumel enak orang bujang pagi udah bisa
tidur. Tak berselang lama kemudian ponselku kembali berdering. Apa ada orang
yang mau ngomel lagi perkara aku tidur pagi setelah menyeruput kopi. masa
bodoh.
“....Hai” suaranya semacam tertahan,
mungkin kelelahan setelah berlari kecang.
“Eem” suaraku
yang ini, masih sangat kering dan entahlah? Semua aneh saja. Ini juga perbincangan
dalam ponsel
“Aku turut
berduka....” suaranya berduka.
“Untuk apa aku
tak kehilangan apapun dalam mimpi itu, kecuali hanya...”
“Aku tahu,
mungkin kau sangat terpukul.....aku turut berduka untuk Rin kekasihmu, kita tak
dapat menyalahkan sesiapa untuk peristiwa ini. Bukan juga Tuhan, apalagi para
tokoh jendral” suaranya seperti berbisik dan dalam.
“Tapi bukankah
Tuhan yang memaksa ini?”
“Iya aku tahu,
tak ada yang mampu menghentikannya, tapi ia tak pantas disalahkan bukan? Yang pasti
aku turut berduka”
Ibuku mungkin sedang berbohong soal itu, maksudku aku seorang bujang. Atau aku
baru saja bujang jika kau lihat dari percakapan dalam ponselku itu. Bisa saja
itu benar. Kau harus melihatnya semacam kesedihan......
Semarang 15 juni 2016
.png)

0 komentar: