Otakku Semacam Piring

11.00 0 Comments

“Ketika aku bertanya kepadamu tentang..., kau melihat langit membentang lapang. Dan meyerahkan diri untuk dinikmati. Tapi menolak untuk dimiliki”
                                                                                                                               -Aan mansur
Malam ini, aku sedang membayangkan ombak yang baru saja kau ceritakan. Ombak yang pandai dan penurut. Mungkin semacam hewan peliharaan atau permen karet yang sedang lengket-lengketnya pada bangku taman. Tapi bukan ombak yang senantiasa membawa apapun. Melainkan ia serahkan padaku sebuah penyiksaan, bukan begitu?
Aku selalu berharap otakku semacam piring yang selalu membuat ibuku secantik awan, atau bidadari kala mencucinya. Bukan karena ibuku cantik, melainkan ayahku pandai memujinya, semacam begini: Semakin cantik saja kala kau berhadapan dengan piring-piring itu. Aku berharap betul otakku semacam piring yang habis bersih dan dikeringkan.
Setelah pulang dari kelas, dimana aku bayangkan otakku benar-benar piring penuh dengan kuah kaldu, “opor yang tiba-tiba meleleh dari buku pelajaran,” Kini otakku sangat kotor. Apalagi ketambahan engkau yang semacam rica-rica pedas kesukaanku, yang tak segan-segan aku berulang-ulang menumpuknya hingga aku terlelep dengan sendirinya. Dan disana seharusnya ibuku ada, membersihkan otakku. Tapi itu tak terjadi.

Otakku masih menyimpanmu.

“Rindu tak pernah sebajingan ini sebelum mengenal engkau...” sungguh itu keluar dengan sendirinya dari derai-derai tawa, teman-temanku mengatakan itu sedikit terasa hambar. Kawan-kawan bahkan bisa bilang “apakah ibumu lupa untuk menaruh sedikit lada, garam serta kasih-sayangnya pada isi otakmu saat ini”.    
Bagaimana kalau aku lari ke kedai kopi saja. Membangun wajahmu seindah noda kopi, lantas berfikir  bila nanti ketemu engkau lagi akan ku katakan “bahwa engkau masih hangat, pun kopiku” tapi kayaknya itu mustahil saja.
            Apa kau akan mengatakan semacam:
“Apa sedang kau mainkan untukku...?”  masih ingat betul wajahmu yang bersungut-sungut
“Tersebab aku akan jadi kenangan, setidaknya aku membuat hal yang pantas untuk dikenang?” 
Dan aku masih berfikiran otakku semacam piring yang penuh dengan rica-rica yang lupa dicuci ibuku. Sedangkan ibuku sendiri baru saja mengirimi pesan dalam ponselku yang ku fikir itu sebuah rindu (lebih pantasnya kau sebut semacam ombak saja) “kau lupa bangun sahur lagi....?”
Pertemuan lalu adalah perjumpaan yang teramat beku. Engkau huruf-huruf yang menempel pada bangku-bangku taman yang berhenti berbicara “jangan duduki”. Sedangkan bibirmu yang lama itu dan kusam, adalah peron terakhir perjumpaan kita, (Tokoh dalam Sebuah Ponsel: 2016)” tapi aku tak berani seperti itu. Wajar saja kalau aku hanya orang yang berotak piring yang mampu menampungmu berulang-ulang setelah habis. Atau sesekali menumpuknya sampai lumer dan itupun kalaupun selera makanku bagus.
Ini sebagai penghabisan:
“Aku hendak mengabiskan diriku sendiri disini / Menjadi sepotong kue yang dicemil perlahan setelah acara utama tenggelam / Menghirup tangan sendiri selayak keju yang paling busuk / Mengerutu soal tokoh tercantik yang tak pernah datang dalam sebuah adegan //” (Depan TV: 2016)




afifi

Some say he’s half man half fish, others say he’s more of a seventy/thirty split. Either way he’s a fishy bastard. Google

0 komentar: