Otakku Semacam Piring
“Ketika aku bertanya kepadamu tentang..., kau melihat langit membentang lapang. Dan meyerahkan diri untuk dinikmati. Tapi menolak untuk dimiliki”
-Aan
mansur
Malam ini, aku sedang
membayangkan ombak yang baru saja kau ceritakan. Ombak yang pandai dan penurut.
Mungkin semacam hewan peliharaan atau permen karet yang sedang
lengket-lengketnya pada bangku taman. Tapi bukan ombak yang senantiasa membawa
apapun. Melainkan ia serahkan padaku sebuah penyiksaan, bukan begitu?
Aku selalu berharap
otakku semacam piring yang selalu membuat ibuku secantik awan, atau bidadari
kala mencucinya. Bukan karena ibuku cantik, melainkan ayahku pandai memujinya,
semacam begini: Semakin cantik saja kala kau berhadapan dengan piring-piring
itu. Aku berharap betul otakku semacam piring yang habis bersih dan
dikeringkan.
Setelah pulang dari
kelas, dimana aku bayangkan otakku benar-benar piring penuh dengan kuah kaldu, “opor
yang tiba-tiba meleleh dari buku pelajaran,” Kini otakku sangat kotor. Apalagi
ketambahan engkau yang semacam rica-rica pedas kesukaanku, yang tak segan-segan
aku berulang-ulang menumpuknya hingga aku terlelep dengan sendirinya. Dan
disana seharusnya ibuku ada, membersihkan otakku. Tapi itu tak terjadi.
Otakku masih menyimpanmu.
“Rindu tak pernah
sebajingan ini sebelum mengenal engkau...” sungguh itu
keluar dengan sendirinya dari derai-derai tawa, teman-temanku mengatakan itu
sedikit terasa hambar. Kawan-kawan bahkan bisa bilang “apakah ibumu lupa untuk
menaruh sedikit lada, garam serta kasih-sayangnya pada isi otakmu saat
ini”.
Bagaimana kalau aku lari ke kedai kopi saja. Membangun
wajahmu seindah noda kopi, lantas berfikir
bila nanti ketemu engkau lagi akan ku katakan “bahwa engkau masih
hangat, pun kopiku” tapi kayaknya itu mustahil saja.
Apa
kau akan mengatakan semacam:
“Apa sedang kau mainkan untukku...?” masih
ingat betul wajahmu yang bersungut-sungut
“Tersebab
aku akan jadi kenangan, setidaknya aku membuat hal yang pantas untuk
dikenang?”
Dan aku masih berfikiran otakku semacam piring
yang penuh dengan rica-rica yang lupa dicuci ibuku. Sedangkan ibuku sendiri
baru saja mengirimi pesan dalam ponselku yang ku fikir itu sebuah rindu (lebih
pantasnya kau sebut semacam ombak saja) “kau lupa bangun sahur lagi....?”
“Pertemuan lalu adalah
perjumpaan yang teramat beku. Engkau huruf-huruf yang menempel pada
bangku-bangku taman yang berhenti berbicara “jangan duduki”. Sedangkan bibirmu
yang lama itu dan kusam, adalah peron terakhir perjumpaan kita, (Tokoh
dalam Sebuah Ponsel: 2016)” tapi aku tak berani
seperti itu. Wajar saja kalau aku hanya orang yang berotak piring yang mampu
menampungmu berulang-ulang setelah habis. Atau sesekali menumpuknya sampai
lumer dan itupun kalaupun selera makanku bagus.
Ini sebagai penghabisan:
“Aku
hendak mengabiskan diriku sendiri disini / Menjadi sepotong kue yang
dicemil perlahan setelah acara utama tenggelam / Menghirup tangan
sendiri selayak keju yang paling busuk / Mengerutu soal tokoh tercantik
yang tak pernah datang dalam sebuah adegan //” (Depan TV: 2016)
.png)

0 komentar: