Hadiah Ulang Tahun
“Nanti kau akan memutar sendiri dan engkau akan membenci ibumu” ucap ibuku saat menjelang tidur. Setelah itu, ia berbisik lagi “berdoalah!”. Lantas tubuhnya hilang ditelan pintu kamar.
***
Sekarang aku sudah besar. Pertanyaan-petanyaan soal ayah semakin
mengembang, mekar dalam kepalaku, mungkin warnanya merah bersungut-sungut.
Ayahku sudah menjadi tanda tanya dalam otakku sejak kecil sekali, sebelum aku
menjadi jantung dari ibuku sendiri. Ibuku selalu memahamkanku dengan kata yang
begitu halus.
Hari ini bulan ke lima dari tahun monyet. Dan satu bulan lagi aku akan
ulang tahun. Aku hidup sebatang kara saat ini, tapi sudah ku siapkan semua
hadiah ulang tahun untuk diri sendiri. Telah ku tabung beberapa uang kerjaku di
pinggiran kota ini untuk membeli sebuah alat yang mampu aku pasang dalam
otakku. Sungguh, semacam alat pemutar dan alat yang memantulkan cahaya layaknya
di bioskop. Ruangan sudah kusiapkan pula, dengan dinding gelap dan beberapa
kursi. Bukan beberapa, lebih pas baru dua. Satu untukku dan satu untuk
kekasihku.
Tiada luput juga. Cemilan dan alat pelumas lainnya. Aku hendak menyaksikan
masa laluku didalam kamarku sendiri bersama kekasihku. Mungkin ia akan terkekeh
melihat masa kecilku yang pandai berbicara dan lucu, pandai mengutarakan
pertanyaan-pertanyaan yang membuat ibuku tertawa dan tersenyum.
Entahlah? Aku sendiri ingin terkejut melihat hadiah dari diriku sendiri.
Semacam tertawa atau rasa haru. Sungguh aku belum mampu menerkanya. Sedangkan
kejutan dari kawan-kawanku sudah terkirim. Ada yang berupa surat dan ada yang
berupa lagu-lagu dari degup jantung-jantung puisi yang dikirim dengan kaleng.
Wajar, begitulah tradisi disini. Kota ini telah menyebarkan jauh-jauh hari
ulang tahunku, tak hanya aku saja, tapi juga manusia seluruh kota ini telah
mendapat perlakuan itu. Privasi sudah hilang untuk penghuni kota ini. Semua
ingatan bahkan harus memiliki surat ijin dan mendapat sertifikasi boleh
diedarkan. Katanya untuk mengontrol gerakan radikal semacam dua puluh tahun
silam agar tak terulang. Makanya penduduk kota ini sering mengirim ucapan ulang
tahun jauh-jauh hari.
“Aku tak ingin mengucapkan apa-apa, sebelum ingatanmu pulih dan bahagia” teguk
kekasihku dalam ucapannya setahun lalu.
“Kau harus ucapkan apapun untuk saat ini” desakku saat itu juga. Tapi ia
tetap bersikukuh bahwa ucapan hanya akan menyakitiku. Lantas tenggelam kembali
menjadi digit nomer yang sangat padat. Seolah tumpuk-tumpukan bangunan kota
ini, dimana semuanya mempunyai hal yang sama. Begah untuk dilihat.
Tapi aku tak ingin mengungkit ucapan kekasihku itu lagi. Biarlah ia
bersikukuh dengan dirinya sendiri. Karena aku tahu ia pandai berbicara semacam
itu pada diri sendiri. Katanya untuk membangkitkan rasa “ragu”. Bukankah ia
seharusnya juga tahu bahwa kata “berdoalah!” yang terucap dari ibuku sudah
membuatku ragu seumur hidup. Terkadang aku juga bertanya pada diriku sendiri
“kekasih macam apa dia? Kenapa ia selalu membuat keraguanku semakin bertambah”
Hari-hari aku habiskan mengisi tabunganku. Alat-alat itu sudah mulai ku
angsur tiga bulan lalu. Sekarang tinggal sedikit saja yang perlu dilunasi.
Ingatanku juga harus aku tebus dan meminta ijin ke pemerintah agar aku dapat
mengenali otakku lagi dan menyambungkan kedalam alat itu sebagai film.
Hari
ini sudah waktunya mengambil ingatan itu. Pada pukul tiga nanti ketika kereta
sembilan meluncur dan berhenti pada jantung kota ini. Semacam gedung berbentuk
bulat dan penuh noda merah darah, juga melelehkan cairan semacam darah. Disana
juga terdapat benda yang meluncur melalui selang-selang berdenyut sembari
membawa penumpang. Ah entahlah, aku selalu kesulitan mendiskripsikannya.
Kekasihku pada jam ini datang lagi, masih dalam wujud kesukaannya. Ia
datang dalam bunyi-bunyian yang lepas dari ponselku. “Hanya ingin mengingatkan
saja, menjelang ulang tahunmu” ucapannya terteguk sangat dalam dan sangat
indah. Terkadang aku juga membenci itu. Ia pandai menyalin diri menjadi apapun,
huruf-huruf hitam yang mengantri masuk dalam ponselku, juga pernah ia lakukan.
Dan engkau harus patuh akan itu. Maksudku huruf-huruf yang sangat rumit untuk
kau tolak.
“Ceritakan padaku soal cerita orang-orang yang kehilangan air mata itu”
bujukku dengan nada kangen
“Aku harus mulai dari mana?” tanyanya mungkin sembari menyiapkan tempat
duduk dan sepotong kue. Seperti yang selalu ia lakukan saben bersandar di
bangku kafe. “aku harus pilih cerita yang mana?” tambahnya.
“Mungkin kau harus memilih cerita yang membuatmu selalu tampak manis,
cerita dimana seolah kau tak lagi bernafas” kemudian suaranya hanya terdengar
seperti deheman saja. “kau harus senantiasa bersabar, karena seperti biasanya
aku tak ingin mengembangkan cerita sebelum kau memberi hadiah untuk dirimu
sendiri” tiba-tiba suara itu nyelonong dari dirinya, lantas tertelan lagi
seolah ada keterkejutan dari bibirnya yang selalu ku bayangkan bibir mungil.
Bibir milik bintang-bintang.
“Hari ini aku memaksamu, ucapkanlah! Bukankah semua telah mendapat ijin”
“ini bukan soal ijin”
“lantas apa?”
“aku tak mau menyakitimu itu saja” lantas ia menjelma kembali menjadi
bunyian yang setia mengakhiri obloran.
***
Malam itu datang, malam itu semacam ketegangan yang di pajang dalam otakku.
Menjadi potongan lukisan yang aneh dan meleleh di dinding otakku. Semuanya
sudah rapi, mulai dari gelas, kursi, soda sampai pemutar otakku. Aku juga sudah
siap dengan beberapa perkakas diri sendiri. Engkau harus tahu, ini semacam
pesta. Jadi malam itu aku memaksa diriku memakai taksedo, dasi dan berdada
tegap. Aku siap menunggunya kali ini. Menunggu dengan senyum kembang kempis,
dengan pikiran harap-harap cemas. Maklum ia benar-benar wanita yang selalu aku
ceritakan dalam mimpiku, jadi tak ada salahnya toh kalau aku terlalu
berlebihan.
“Kau harus memakai sebuah gaun” pesan itu aku kirim tadi, dua jam yang
lalu. Lantas aku tegaskan padanya juga aku tak bisa menjemput. “Ah...kau harus
naik apapun yang kau suka untuk kesini, karena aku terlalu sibuk dengan diriku
sendiri, kau harus maklum...” pesanku dalam ponselnya. Entah ia membacanya atau
tidak.
Beberapa menit, dari depan terdengar kendaraan, mobil masa depan datang.
Mobil yang berderu sangat halus, tanpa membuat gelas diatasnya bergetar. Merah
warnanya.
“ku fikir kau tak suka pesta” kekehnya
“bisa jadi setelah ini aku mati”
“mati yang kau inginkan, mati dan kekasihmu menunggui setelah mengusap
keterharuannya ia lantas hilang, entah kemana?”
“mungkin berlabu dalam pelukan orang lama atau baru”
“kenapa kau tak pernah merasa menyesal sudah mengucapkannya?”
“karena aku hanya sebuah jasad korban dari pesta”
“ini persengkongkolan?”
“bukan, ini bunuh diri”
Kami menuju tempat duduk kami, dia memilih yang kana sedang aku yang kiri.
setelaha itu aku berusaha bertanya kenapa kau memilih kursi kanan? Ia hanya
diam dan membersihkan matanya dengan garis lengkung. Karena kanan adalah
kebenaran, jadi ku rasa wanita akan selalu benar. dan kami lantas terkekeh
bersama.
“mungkin nanti aku akan berdoa untuk jadi salah satu tombol remaot ini,
agar engkau selalu memilikku, dan...”
“agar aku tak selalu menanggapimu dengan kebosanan karena kau terlalu lama
menjelma menjadi suara ponselku,” sautku “oh ya jangan menguatkan kata doa
lagi, karena doa telah meragukanku untuk saat ini”
Ia masih tersenyum
Otakku sudah terputar, dan gambar yang
kusaksikan hari ini adalah putih bersih.
“tak ada gambar dan tak ada kenangan, mungkin itu yang terbaik untukmu hari
ini dan untuk selanjutnya” Lantas ia menyodorkan surat dan berucap “ini hadiah
ulang tahunmu dan hadiah dari ibumu.” Surat itu hanya bertulis aku telah
menghapusnya sejak lama, karena aku tahu yang terbaik untukmu adalah selalu
bertanya?dan inilah yang membuatmu membenci ibumu setelah ini.
27 Juli 2016
.png)


0 komentar: