...."Kau Laut"
Mimpi mungkin berupa cermin kali ini. Perempuan yang pelupa itu datang
dengan tanda tanya yang sangat banyak. Mungkin semacam “mesin peluru” yang
melemparkan anak-anaknya secara beruntun dan bertahap.
Tak lagi ada catatan. Ia sekarang pandai menebak. Juga pandai merangkai
teka-teki silang. Aku lebih suka memandangnya sebagai orang yang pelupa. Entahlah,
yang penting begitulah ia, suka berbicara tapi pelupa memperkenalkan siapa yang
sedang bosan.
Tak ada bayi dalam tubuhnya, aku melihatnya semacam malam yang tak pernah
ku selesaikan. Dongeng yang melambung dan tak pernah ada rumah singgah.
“Aku menemukan laut” ucapnya. Dan kali ini aku menemukannya lagi, ku
pertanyakan soal itu.
Ini pertemuan yang ke empat dari perjumpaan kala ia suka menguap ketika nonton
film di sebuah parkiran.
Ia mengatakan aku adalah laut. Tapi aku membenci laut, laut adalah bahaya
terbesar dunia. Kau tahu ketika Tsunami, atau laut pasang karena es. Ketika badai
rumahku sering miring karenanya. Aku membenci laut. Bapakku dulu seorang
pelaut. Aku benci itu, ia tak pernah membawa peranaan ikan yang selalu ku
pesan. Akubenci laut sebagaimana wajarnya aku membenci diriku sendiri. Aku membenci
laut, karena aku tak dapat meneguk airnya secara langsung
“Aku menemukan laut, wajar, sebagaimana laut biasanya, tapi kau menyimpan
ombakmu sendiri”
Terlalu dini, tapi sudah ku pastikan. Pertama-kedua pertemuan aku adalah
kabut yang masih terasa asing buatmu, mengganggu pandanganmu tapi kau
penasaran. Lantas ketiganya aku akan menjadi darah, merah dan kau membencinya
kala lepas dari tubuhmu. Dan selalu begitu, lekat padamu tapi tak pernah kau
sadari, mengalir dan mungkin membawakan nafas untukmu kala ngomong yang tiada
titik.
“Aku laut” begitulah kau selalu memujiku. Tapi untuk menyingkap rahasia
laut, kau harus menyelaminya. Kau tak pernah tau bahaya atau keindahannya. Karena
laut itu adalah langit yang penuh dengan rahasia. Bedanya, ia selalu basah
seperti mata ibuku. Karena “jalan keluar satu-satunya adalah masuk”.
.png)

0 komentar: