Sebab Kecemburuan
Tak ada yang lebih pandai berkisah soal burung melebihi ayahku.
Aku pun tak bisa. Semisal burung yang terbang dan menghancurkan pasukan raja Namrud. Atau sebuah elang yang selalu sendirian.
Ayahku sendiri
bermata elang, bersuara gagak dan berwibawa seperti Titto Alba.
Ayahku bisa
bercerita pada suatu hari ia telah jatuh cinta pada seekor burung. Cantik yang
tak dapat terkira. Ia punya bulu merumbai, suara indah tapi berisik. Ia mungil dan lincah. Katanya. “Aku melihatnya
di pohon mauni” begitu ia sering bercakap pada saudara-saudaranya, pada
anaknya, dan juga istrinya. Dan kadang cerita itulah yang membuat ibuku geram,
mungkin lantaran ia cemburu.
Ku bilang pada
ibuku “tak mengapa, toh itu hanya seekor burung”. Tetapi apa daya, tak ada yang
mampu membendung kecemburuan sang kekasih. Mungkin di suatu pagi ibuku
bisa-bisa minggat karna terlalu lelah hidup disekitar ayah. Mungkin juga ia kan
membunuh ayah dengan 1001 caranya.
Tak ada
percakapan sore itu. ayah masih saja bersiul, sedang gandrung akan seekor
burung yang di temui di hutan. Dan ibuku sedang bersolek, “aku juga tak kalah
cantik” mungkin begitulah yang sedang ia gumamkan dan gelisahkan.
Sebenarnya aku
tak pernah melihat ibuku secemburu itu dan sependendam itu. “Gedung-gedung
bertingkat telah mengganggu otak ibuku, ia merasa susah tak dapat membangun
hutannya sendiri” begitulah ayah menenangkanku kala kita ngobrol soal
kecemburuan itu, “tunggu saja ketika ia bisa melihat ayahmu ini dapat
membawakan hutan yang selalu ia dengungkan itu”. Aku tak mengerti soal itu. Aku
juga serasa ingin uring-uringan tapi aku hanyalah pemisah antara malam dan
siang bagi kedua belah pihak. Tetapi layaknya pemisah aku juga garus ikut
mengikat mereka. layaknya senja atau fajar.
“Ibu menyerah”
katanya sambil pergi dari rumah dan ayahku tetap menyanjung fikirannya yang
entah di antrabrata.
“Tak ada tanda
tanya bagiku” begitulah ayah menegaskanku.
.png)

0 komentar: