Langit
Di kota orang melupakan langit. mereka lebih memilih melihat lampu. Langit memberi mereka misteri. Sedang lampu memberi mereka keindahan di depan mata. Langit membuat mereka menerka-nerka. “Ada apa disana?”. Sedang lampu telah tampak di permukaan mata. Dan mereka tidak lagi berfikir dan menerka-nerka lagi.
Di desa, orang tak ada yang punya lampu. Maka langit adalah tempat paling
terang untuk mata mereka. Salah satu dari mereka juga selalu berkata “Tuhan
memang benar, kalau langit itu indah”. Lantas pada suatu perlarian, ia membuat
kabar dengan menulisnya di sebuah kertas. Mereka juga senantiasa mengirimnya
lewat beberapa bentuk pos. Bisa lewat merpati, bisa lewat kaleng yang di
lemparkan ke sungai-sungai.
Pada arus yang kesekian atau pada desa yang kesekian, kabar itu di temukan.
Lantas beberapa orang lantas berkata “lampu adalah kutukan, mereka memakan
lahan kita untuk membuat pembangkit listrik, mereka merusak alam kita untuk
membangun tiang-tiang. Mereka menaruh kabel yang semrawut untuk membunuh para
burung yang bertengger di atasnya”. Tak lama setelah itu ada lagi yang
mengatakan “lampu membuat kita tak pernah bersukur pada Tuhan”
Pada akhirnya pada malam yang separo telanjang atau total. Mereka mendatangi
hutan-hutan yang masih gelap, langit-langit yang masih prawan. Mereka mulai
membuat perayaan tentang langit. mereka mulai membuat pertanda dan menandai
bintang-bintang yang baru di lahirkan oleh langit. “itu venus dewa kecantikan”
katanya dari salah satu mereka.
Mereka merayakannya
dan terus mengatakan, langit tak hanya milik para dewa, langit juga bukan yang
rahasia. Dewa-dewa harusnya senantiasa memberi mereka bocoran soal apapun yang
mereka lakukan.
Sedangkan orang perkotaan lebih memilih, bahwa langit adalah tempat para
rahasia yang penuh rahasia dan tak boleh kita intip setiap malam, jadi mata
mereka mengalihkan kepada lampu.
Maka aku akan berdoa menjadi langit di perkotaan yang dilupakan dan berdoa
menjadi orang-orang di pedesaan yang senantiasa bersukur akan adanya langit.
.png)

0 komentar: