Pengasingan
“....aku masih miskin segalanya/ kenangan-kenangan terbang bersama kunang-kunang/ kau berlari mencari mimpi/ aku berdiam diri mencari mati/....”
-Mirza Sagra
Orang-orang asing terlalu sering berkunjung di ingatanku. Mereka membawa
banyak hal, kenangan sampai masa lalu yang tak bisa di hentikan. Kadang mereka
meleleh dalam ingatanku seperti lilin pada meja makan malam. aku berharap tak
punya waktu, tak punya apapun untuk mengingat.
Orang-orang asing itu sering berkemah. Mereka pulang pada ingatanku yang
serupa kamar paling tamu dari segala kamar. Mereka meninggalkan banyak sampah
pada ingatanku, seperti pendaki gunung yang hanya untuk kesenangannya, pendaki
yang hanya menikmati gunung lewat foto-foto selfi mereka. aku tak punya banyak
kenangan, tapi orang-orang itu membawanya lebih banyak.
“orang aneh yang bertemu dengan orang asing, orang asing membawakan segala
perkakasnya untuk merubah orang aneh menjadi orang asing”
Aku benar-benar tak dapat mengingat apapun, aku hanya butuh ingatan yang
benar-benar lemah untuk tak kembali pada masa lampau. “Aku tidak bisa tidur” ucap
JM Barie ketika menjelang ajal. Memang, Barie tak bisa tidur sampai saat ini,
ia abadi dalam tokoh Peter Pan. Tokoh yang menolak dewasa, tokoh yang
sedikit akan kenangan atas orang asing. Aku ingin menjadi seperti itu. tak
pernah bisa dewasa, selalu ceria.
Orang-orang asing menyerbu ke ingatanku, pertama: kabut tibis yang
menghantuiku, sedang tubuhku adalah pohon pinus seolah bantang korek api. Aku
melihatnya di lereng Sumbing. Tiba-tiba hutan begitu asing dan gelap, hanya
daun-daun hijau tampak seperti korek api.
Kedua: tokoh yang
hidup dalam dirinya sendiri, lincah dan bergairah, ia punya segalanya: tawa dan
kebahagiaan, ia periang dan lain sebagainya. Ia adalah kereta yang melintasi
peron-peron dengan membawa kebahagian yang bertubi. Tanpa tanda tanya...(?)...dialah
orangnya. Ketiga: adalah orang-orang yang seolah putri raja, ia manja
dan manis. Ia selalu menjamu dirinya dengan segala hidangan dan lilin-lilin
makan malam, dan aku menjelma menjadi tamu undangan yang tak begitu bahagia
tetapi sering berkunjung. Aku melihat perjamuan itu seperti perjamuan Ratu Elizabet
bersama perompak-perompak inggri yang kemudian di gelari Kesatria, seperti
dalam buku Pulau RUN.
Aku hanya tak menerima keasingan semacam ini.
“Tuanku,
selamatkan jiwaku yang miskin ini” kata Edgar Allan Poe pemabuk dari Amerika.
.png)

0 komentar: