Anjing
...Orang ngomong/ anjing menggonggong/ dunia jauh mengabur/
-Chairil Anwar
Kakek
ku sering bercerita soal anjing-anjing. “dunia ini telah lama di kuasai anjing”
katanya sambil menghunus cerutu dan memasangnya, membakar bibirnya yang hitam.
Kakekku telah lama hidup,
itu terbukti dari sikapnya yang masih terlalu khawatir ketika televisi di
putar. Ia khawatir akan adegan tembakan meriam dan lain sebagainya. Ia punya
seribu pertanyaan soal itu. Semacam “bagaimana mungkin orang-orang itu bisa
masuk dalam sebuah kotak, bagaimana mungkin? dan kapan kalian menyimpannya
wanita secantik itu dalam sebuah kotak itu?”
Pada
suatu malam, ia duduk di atas kursi goyangnya, kursi kesayangannya. Kursi yang
membuat ia betah di rumah, ketika nenekku menemaninya ngobrol, ketika mereka
membagi kisah-kisah lama soal mantan-mantan mereka masing-masing. Mereka pernah
bergurau “seandainya kau tak ku lamar, mungkin kau akan menjadi istri ke empat
dari tarjo”
Tapi cerita
anjing-anjing itu berlanjut. “Ia telah merebut segala yang ku punya katanya”. Dan
sampai sekarang ia membenci apapun yang
berbau anjing: poster anjing, nada dering anjing dalam ponsel mainan adikku,
dan anjing itu sendiri.
Ia pernah
membunuh anjing, kapanpun dan dimanapun saat ia menemuinya. Aku pernah berdebat
dengannya. Ku bilang padanya “mbah tidak harus seratus persen membenci, mbah
pernah dengar anjing askhabulkaffi, mbah pernah dengar cerita pelacur
yang memberi minum anjing, dan tuhan memberinya surga, dan mbah pernah dengar
puisi Soe Hok Gie yang menyebut anjing-anjing nakalnya dengan penuh kesayangan”.
Lalu kakekku bertanya “siapa soe hok gie?” setelah itu aku baru menyadari bahwa
kakekku bukan mahasiswa PMII UIN Walisongo yang mengenal Soe Hok Gie dengan
segala kepuitisannya yang menjunjung kebenaran.
“dasar
anjing” ia muncratkan padaku.
Ku fikir aku hanya
ingin menjadi anjing yang beradap, itu saja.
.png)

0 komentar: