Cuman itu, Sayang

17.11 0 Comments

Palpitasi! Untuk sepatuku/ Paru-paruku sepasang/ satu rindu, satu ngilu//
-Bayu Ren Warin
Jantungku palpitasi, palpitasi sayang. Ada yang berdetak lebih kencang ada yang paling lambat. “kau harus memilih, meski mereka bukan pilihan”. Sepanjang malam tiba-tiba wajahmu sangat beku. Sangat pendendam. Aku adalah seolah Edi idiots dalam kadang babinya Eka sayang. Aku linglung tak punya tempat untuk bernaung memikirkanmu. Membuat wajahmu seperti tak asing lagi sayang, tapi susah untukku.
Malam jarang sekali menumbuhkan bintang-bintang, jarang sekali menanamkan rindu yang sebegininya. Jangan-jangan aku berprasangka sunyi mengulum detak jantungku. “kau terlalu lama untuk sendirian” hati-hatilah karena malam terlalu riskan. Penuh tanah longsor, rumah-rumah tenggelam dan pohon-pohon gundul.
Jangan pernah percaya novel-novel romantisme, atau film-film. Mereka hanya membuat tokoh ideal yang selalu di sajikan. Sepert Laila Majnun, terlalu dramatis. Mereka tak pernah mengerti siapa yang pantas di libatkan dalam hidupmu. Ku bilang pada jalan-jalan pada the road and old city. “oh...lebaran yang sakit dan labirin yang genit....”
Dunia ini hanya pilihan.
Pertama, aku jatuh, dan aku membayangkan kau berenang pada langit-langit kamarku. kau tersimpu sangat manis, menyebrang ke pulau-pulau yang tak lagi siap dikemas. Kemas sayang. Karena pelabuhan sudah terlalu libar, sawah-sawah yang bisa dilipat kini sudah tidak lagi, karena beton-beton telah lama menggantinya.
Aku orang-orang yang terlibat konflik dalam diriku sendiri. Orang yang menulis dirinya sebagai anjing-anjing dalam tulisan anjing.
Aku hanya tak mau lepas dari kenangan-kenangan. Aku hidup dengan kenangan, aku ingin mati dalam kenangan. Aku belum terbiasa dengan ini semua, aku hanya ingin sebuah kebosanan yang tiba-tiba mengubah semuanya. Ini hanya tulisan bingungku. Dan kedua adalah kosong.“The only, only thing that i ever did wrong was to woe a fair young maid...” saya fikir begitu. Maka hari ini aku harus berfikir dan menyanyikan balada yang berbeda “Ibrahim-Ibrahim, datanglah padaku, menarilah dan bawalah apimu, apimu, jangan menari pada kayu bakar yang di tumpuk anak-anak pramuka, Ibrahim...oh Ibrahim” seperti yang Ren Warin bilang, aku hanya butuh ibrahim. Dan membuat wajahmu tak lagi mendadak membeku.



           




afifi

Some say he’s half man half fish, others say he’s more of a seventy/thirty split. Either way he’s a fishy bastard. Google

0 komentar: