Cuman itu, Sayang
Palpitasi! Untuk sepatuku/ Paru-paruku sepasang/ satu rindu, satu ngilu//
-Bayu
Ren Warin
Jantungku
palpitasi, palpitasi sayang. Ada yang berdetak lebih kencang ada yang paling
lambat. “kau harus memilih, meski mereka bukan pilihan”. Sepanjang malam
tiba-tiba wajahmu sangat beku. Sangat pendendam. Aku adalah seolah Edi idiots
dalam kadang babinya Eka sayang. Aku linglung tak punya tempat untuk
bernaung memikirkanmu. Membuat wajahmu seperti tak asing lagi sayang, tapi
susah untukku.
Malam
jarang sekali menumbuhkan bintang-bintang, jarang sekali menanamkan rindu yang
sebegininya. Jangan-jangan aku berprasangka sunyi mengulum detak jantungku. “kau
terlalu lama untuk sendirian” hati-hatilah karena malam terlalu riskan. Penuh tanah
longsor, rumah-rumah tenggelam dan pohon-pohon gundul.
Jangan
pernah percaya novel-novel romantisme, atau film-film. Mereka hanya membuat
tokoh ideal yang selalu di sajikan. Sepert Laila Majnun, terlalu
dramatis. Mereka tak pernah mengerti siapa yang pantas di libatkan dalam
hidupmu. Ku bilang pada jalan-jalan pada the road and old city. “oh...lebaran
yang sakit dan labirin yang genit....”
Dunia
ini hanya pilihan.
Pertama,
aku jatuh, dan aku membayangkan kau berenang pada langit-langit kamarku. kau
tersimpu sangat manis, menyebrang ke pulau-pulau yang tak lagi siap dikemas. Kemas
sayang. Karena pelabuhan sudah terlalu libar, sawah-sawah yang bisa dilipat
kini sudah tidak lagi, karena beton-beton telah lama menggantinya.
Aku
orang-orang yang terlibat konflik dalam diriku sendiri. Orang yang menulis
dirinya sebagai anjing-anjing dalam tulisan anjing.
Aku
hanya tak mau lepas dari kenangan-kenangan. Aku hidup dengan kenangan, aku
ingin mati dalam kenangan. Aku belum terbiasa dengan ini semua, aku hanya ingin
sebuah kebosanan yang tiba-tiba mengubah semuanya. Ini hanya tulisan bingungku.
Dan kedua adalah kosong.“The only, only thing that i ever did wrong
was to woe a fair young maid...” saya fikir begitu. Maka hari ini aku harus
berfikir dan menyanyikan balada yang berbeda “Ibrahim-Ibrahim, datanglah
padaku, menarilah dan bawalah apimu, apimu, jangan menari pada kayu bakar yang
di tumpuk anak-anak pramuka, Ibrahim...oh Ibrahim” seperti yang Ren Warin
bilang, aku hanya butuh ibrahim. Dan membuat wajahmu tak lagi mendadak membeku.
.png)


0 komentar: