Kembali Kedapur Ibu
....Aku ingin pulang kedapur ibuku/ Melihatnya sepanjang hari tidak bicara/ Aku ingin menghirup seluruh kebahagiaannya- yang menebal menjadi aroma yang selalu membuat anak-anak kecil dalam diriku kelaparan.
Aan Mansyur
Ayahku adalah orang pekerja. Ia harus pulang
saat senja tiba menunggang di pelana langit. Ia sendiri begitu penyabar. Atau ia
pulang dengan rasa bersalah terhadap anak-anaknya. Itu terlihat dari suaranya
yang lelah saat mengucapkan “maafkan bapak, kuda-kudaan yang kau pinta belum
sempat kebeli, uang ayah belum cukup” dan ibuku disanalah dia, orang yang
tiba-tiba menjelma cantik dan baik hati.
Ibuku bukan siapa-siapa. Ia hanya orang yang
pandai memasak. Merebus keluh kesahnya kedalam sana. Hingga pada akhirnya dalam
sebuah meja makan ia hanya menyuguhkan senyuman beserta tawa yang menenangkan. Pernah
sekali ayahku adalah bocah. Ayahku pulang dengan kemanjaan luar biasa. ia duduk
di depan tv kuno yang hanya satu kanal. Ia menatapnya dengan dengan sepasang
mata bocah sedang ngidam gulali di pinggir jalan. Kembalilah disanalah ibuku
berada menjadi ibu untuk anaknya dan ibu untuk suaminya sendiri.
Ayahku pernah bilang padaku “aku tak pernah
bisa jatuh cinta pada ibumu” katanya “tapi lebih dari itu..”
“Aku ingin hidup dan diam bersama ibuku” masih
kata Aan Mansyur atau kau harus mengakui bahwa status Rikha Umami benar “aku
hanya ingin kembali kepangkuannya dan menangisi masa laluku dan bercerita
padanya, panjang lebar inilah anakmu”
Orang bilang tentang ibuku, orang ngomong
aneh-aneh soal ibuku tapi tidak untuk ayahku. Ia bahkan tidak sempat
membicarakan apapun untuk semuanya. Ia hanya mampu tersenyum atau mengajaknya
pura-pura bertengkar sebelum ia memberinya sebuah hadiah. Aku tak tahu persis
hadiahnya tapi ibuku bercerita pada esoknya “jadilah kau seperti ayahmu”. Sebenarnya
tidak, aku lebih suka ibu bukan ayahku, lagi pula ibuku lah yang sering
bertanya padaku semisal “siapa yang telah membuatmu bernyanyi di kamar mandi?”
Aku ingin kembali ke dapur ibu, menikmati
seluruh senyum ibu, atau memamerkan pada ibu “aku sudah bernafsu saat makan di
meja makan” tanpa bernapas. Dan mengatakannya lagi “percayalah padaku bu,
karena aku tumbuh dari doa-doa mu”
.png)

0 komentar: