Kembali Kedapur Ibu

11.17 0 Comments

....Aku ingin pulang kedapur ibuku/ Melihatnya sepanjang hari tidak bicara/ Aku ingin menghirup seluruh kebahagiaannya- yang menebal menjadi aroma yang selalu membuat anak-anak kecil dalam diriku kelaparan.
Aan Mansyur
Ayahku adalah orang pekerja. Ia harus pulang saat senja tiba menunggang di pelana langit. Ia sendiri begitu penyabar. Atau ia pulang dengan rasa bersalah terhadap anak-anaknya. Itu terlihat dari suaranya yang lelah saat mengucapkan “maafkan bapak, kuda-kudaan yang kau pinta belum sempat kebeli, uang ayah belum cukup” dan ibuku disanalah dia, orang yang tiba-tiba menjelma cantik dan baik hati.
Ibuku bukan siapa-siapa. Ia hanya orang yang pandai memasak. Merebus keluh kesahnya kedalam sana. Hingga pada akhirnya dalam sebuah meja makan ia hanya menyuguhkan senyuman beserta tawa yang menenangkan. Pernah sekali ayahku adalah bocah. Ayahku pulang dengan kemanjaan luar biasa. ia duduk di depan tv kuno yang hanya satu kanal. Ia menatapnya dengan dengan sepasang mata bocah sedang ngidam gulali di pinggir jalan. Kembalilah disanalah ibuku berada menjadi ibu untuk anaknya dan ibu untuk suaminya sendiri.
Ayahku pernah bilang padaku “aku tak pernah bisa jatuh cinta pada ibumu” katanya “tapi lebih dari itu..”
“Aku ingin hidup dan diam bersama ibuku” masih kata Aan Mansyur atau kau harus mengakui bahwa status Rikha Umami benar “aku hanya ingin kembali kepangkuannya dan menangisi masa laluku dan bercerita padanya, panjang lebar inilah anakmu”
Orang bilang tentang ibuku, orang ngomong aneh-aneh soal ibuku tapi tidak untuk ayahku. Ia bahkan tidak sempat membicarakan apapun untuk semuanya. Ia hanya mampu tersenyum atau mengajaknya pura-pura bertengkar sebelum ia memberinya sebuah hadiah. Aku tak tahu persis hadiahnya tapi ibuku bercerita pada esoknya “jadilah kau seperti ayahmu”. Sebenarnya tidak, aku lebih suka ibu bukan ayahku, lagi pula ibuku lah yang sering bertanya padaku semisal “siapa yang telah membuatmu bernyanyi  di kamar mandi?”
Aku ingin kembali ke dapur ibu, menikmati seluruh senyum ibu, atau memamerkan pada ibu “aku sudah bernafsu saat makan di meja makan” tanpa bernapas. Dan mengatakannya lagi “percayalah padaku bu, karena aku tumbuh dari doa-doa mu”


afifi

Some say he’s half man half fish, others say he’s more of a seventy/thirty split. Either way he’s a fishy bastard. Google

0 komentar: