Jadilah Kita Semesta
Ini cerita dua seteru, dan para penyimpan rahasia dalam dirinya.
Kau langit
yang tinggi dan aku laut yang luas, kita saling berhadapan dalam beberapa
kesempatan. Pada suatau ketika aku merasa “ingin” padamu, langit. Aku melihatmu
sangat indah ketika senja. Dengan pipimu yang kesenjaan, kau tampak lebih
manis, lebih ringan senyum dan kala
malam luas aku selalu menatapmu sangat sederhana. Aku melihatmu, memakai
perhiasan yang begitu indah. Dimana para pelaut menyebutnya sebagai gemintang.
***
Kau laut yang pandai dan sangat dermawan. Kau
berada di bawahku, ku berfikir pada suatu ketika, pada dunia memiliki sudut
yang berbeda aku merasa, kau akan tumpah padaku dan mengintip setiap inci pada
diriku. Bahwa aku punya rasi bintang yang pernah ku gambar serupa jantungmu.
Itu selalu berdetak dalam tubuhku. Yang tersebut rasi Pices dari para Astronomi.
***
Jangan pernah
berkhayal. Ia akan selalu disana, laut. Di ataslah ia tampak cantik dan
rambutnya yang tergerai hitam begitu tampak menawan. Kenapa kau berharap ia
jatuh dan membuat keajaiban. Seolah apel yang membuka teori seorang fisikawan
ternama, Newton. Aku fikir, aku adalah laut yang selalu membuat kesalahan. Aku
selalu membuat awan yang lincah dalam alis dan pipinya yang lebih indah. Aku
terlalu takut dan tak pernah melepaskan apapun selain pandangan yang sederhana
padanya.
***
Zeus
telah gegabah, kenapa ia menyuruh Posedon menetap dalam dirimu. Pernah ia
berfikir bahwa posedonlah yang mengendalikan dirimu hingga kadang kau tampak
begitu marah, kau tampak sangat murka. Lihat betapa menyenangkannya jika kau
membagi jantung-jantungmu ke berbagai daratan, lantas beberapa orang
menganggapnya itu adalah ikan. Lihat, anak-anak kecil itu begitu pandai dan
selalu bertanya pada ayahnya tentang jantungmu yang dibawanya pulang. Dan aku
pernah melihatnya sekali sambil, tentu itu ku dengar dengan sangat seksama
“lihat ayah pulang, membawa gurita yang selalu kau bayangkan bahwa ia berkaki
lebih dari delapan” kata seorang lelaki itu ringan pada anaknya.
***
Ku fikir
pembicaraan beberapa pilot pesawat saat ia berlibur sangat tak masuk akal.
“langit memang sulit, kau tahu, kadang ia sangat marah pada suatu saat pulalah
ia tampak sangat indah” katanya saat menjulurkan kakinya digelombang kecilku.
Itu hanya bualan belaka. Jelas, aku lebih mengenalmu. Kau selalu tampak cantik
diatas sana dan terlalu menawan untuk tak dilihat.
Aku akan
bangun sangat pagi dan melihatmu seindah saat aku melihatmu ketika mulai senja.
***
Tetaplah
disana, pada suatu kesempatan. Zeus dan Posedon akan berbaikan, ketika
mengetahui bahwa pencuri petir bukan anak dari Posedon. Mereka akan akarap lagi
dan kita akan saling ertemu satu sama lain. Menghabiskan saling menatap sedekat
mungkin. Dan mulai ku bisikan bahwa “tetaplah jernih, dengan begitu aku akan
siap bersolek dihadapanmu, dan aku akan selalu melihat mataku sendiri yang
selalu berbinar untukmu” dan “jangan pernah marah pada siapapun, karena manusia
tak pernah sadar untuk kapanpun” meskipun ia telah membuat lubang dalam
tubuhku.
***
Boooooooommmmmmmmmmm……seperti
kisah jagat raya. Bigbang akan tercipta lagi.
.png)


0 komentar: