Cara Nyari Ide Saat Menulis

10.48 0 Comments

Aku punya kecemasan yang dikemas dalam kaleng-kaleng soda ringsek atau semacamnya. Mungkin juga kecemasanku itu berbentuk semacam gelembung soda yang timbul dan naik lantas pecah....mungkin kau tahulah. Ibuku pernah berkata: buatlah jeda. Semacam ketika kau kelelahan membaca kalimat yang kau susun sendiri atau disusun orang lain, buatlah semacam koma atau titik-koma (;). Itu akan cukup membantumu bernafas.
Aku pernah bertanya pada hatiku: kenapa harus pulang? Tak lama setelah itu Risca Dian (pra) Tiwi itu menjawabnya dengan enteng dalam akun fbnya. Kenapa harus pulang? Ya tentu kau harus membebaskan fikiranmu, kau tak perlu mengurungnya, fikiranmu dalam buku-buku atau fikianmu yang sudah dibukukan. Begitulah ia memberi saran.
Mungkin perkiraannya begini saja, ia baru mandek-mandeknya nulis lantas ia lari dari segalanya: rumus, abjad dan nomor-nomor (meskipun itu nomer dalam ponselnya sendiri). Itulah siklus buat para penulis awam-mungkin juga buat para profesional juga. kau harus lari kekerumunan untuk sekedar membicarakannya kepada orang lain soal idemu atau kau harus menunggu bahkan harus sabar mendengarkan orang bicara, agar idemu mendapatkan kesegaran. Aku tak pernah mengerti erihal tulis-menulis, tapi begitulah yang kulakukan. Paling tidak dibuat jalan kaki, ngopi dan lainnya.
Chairul Jakfar kawan karibku itu (jangan pernah melihatnya dari penampilannya yang gak bisa serius, dia adalah orang yang paling serius untuk segala ide dan tulisan). Ia menolak membaca buku dalam pencarian ide. Kau mengerti maksudku. Ia mencoba berfikir nyeleneh tentang apapun. Itu terlihat dari caranya yang lumayan rumit, ia suka teka-teki atau film-film yang mengasah otak atau sekedar memotifasi dirinya. Semacam film india yang menceritakan tokoh matematika yang mendapat rumus-rumus secara mendadak. Dan sialnya itu berhasil untuk otaknya.
Jalan yang ia tempuh sebelum menuntaskan masalahnya (tugas nulis) adalah tidur. Jika kau berfikir itu gila, itu sangat gila dan bodoh. pernah aku menggumam “apa ia fikir dia nabi yang tiba-tiba mendapat wahyu”. Tapi begitulah dia. Ketika orang lain berusaha lemburan dan segala buku, ia lebih memilih tidur.
Ada juga yang lebih memilih dengan menggunakan buku sak ambrek. Tentu itu bertujuan untuk pencarian ide. Hal pernah ku lakukan. Tapi itu tidak cukup berhasil. Lantas selanjutnya aku mencoba lari pada “sanggar lamunan”, begitulah salah seorang berusaha mendiskripsikan WC. Karena kalian bisa mendapat pencerahan disana dengan cara filsuf (merenung). Pendapat ini tak perlu diragukan, jika sebuah hadis kalian bisa mendefinisikan sebuah hadis yang mutawatir. Merokok juga boleh ditambahkan kesana untuk pencaria ide menulis, jika kalian punya selera untuk itu.
Aku lebih suka membawanya jalan kaki. Itu saja. dan ide itu akan menjelma menjadi hantu yang gentayangan dalam kanan dan kiriku. Cara itu semua tergantung kalian, mau mencoba atau tidak. Bahkan catatan paling penting dari menulis adalah jangan menyerah itu saja.
Jika kau fikir keberhasilan menulis itu adalah kemuat di koran, maka itu salah. Karena belum tentu tulisan kita satu selera dengan redaksi koran. Maka menulislah dulu sebelum kau tau menulismu untuk siapa. Jika kau anggap cara-cara diatas kurang berhasil maka seperti kata PeU ku mas Aam “perkuatlah dirimu sendiri dengan caramu sendiri”. Maka nikmati prosesnya.
    

afifi

Some say he’s half man half fish, others say he’s more of a seventy/thirty split. Either way he’s a fishy bastard. Google

0 komentar: