Cara Nyari Ide Saat Menulis
Aku punya kecemasan yang dikemas dalam
kaleng-kaleng soda ringsek atau semacamnya. Mungkin juga kecemasanku itu
berbentuk semacam gelembung soda yang timbul dan naik lantas pecah....mungkin
kau tahulah. Ibuku pernah berkata: buatlah jeda. Semacam ketika kau kelelahan
membaca kalimat yang kau susun sendiri atau disusun orang lain, buatlah semacam
koma atau titik-koma (;). Itu akan cukup membantumu bernafas.
Aku pernah bertanya pada hatiku: kenapa harus
pulang? Tak lama setelah itu Risca Dian (pra) Tiwi itu menjawabnya dengan
enteng dalam akun fbnya. Kenapa harus pulang? Ya tentu kau harus membebaskan
fikiranmu, kau tak perlu mengurungnya, fikiranmu dalam buku-buku atau fikianmu
yang sudah dibukukan. Begitulah ia memberi saran.
Mungkin perkiraannya begini saja, ia baru
mandek-mandeknya nulis lantas ia lari dari segalanya: rumus, abjad dan nomor-nomor
(meskipun itu nomer dalam ponselnya sendiri). Itulah siklus buat para penulis
awam-mungkin juga buat para profesional juga. kau harus lari kekerumunan untuk
sekedar membicarakannya kepada orang lain soal idemu atau kau harus menunggu
bahkan harus sabar mendengarkan orang bicara, agar idemu mendapatkan kesegaran.
Aku tak pernah mengerti erihal tulis-menulis, tapi begitulah yang kulakukan. Paling
tidak dibuat jalan kaki, ngopi dan lainnya.
Chairul Jakfar kawan karibku itu (jangan
pernah melihatnya dari penampilannya yang gak bisa serius, dia adalah orang
yang paling serius untuk segala ide dan tulisan). Ia menolak membaca buku dalam
pencarian ide. Kau mengerti maksudku. Ia mencoba berfikir nyeleneh tentang
apapun. Itu terlihat dari caranya yang lumayan rumit, ia suka teka-teki atau
film-film yang mengasah otak atau sekedar memotifasi dirinya. Semacam film
india yang menceritakan tokoh matematika yang mendapat rumus-rumus secara
mendadak. Dan sialnya itu berhasil untuk otaknya.
Jalan yang ia tempuh sebelum menuntaskan
masalahnya (tugas nulis) adalah tidur. Jika kau berfikir itu gila, itu sangat
gila dan bodoh. pernah aku menggumam “apa ia fikir dia nabi yang tiba-tiba
mendapat wahyu”. Tapi begitulah dia. Ketika orang lain berusaha lemburan dan
segala buku, ia lebih memilih tidur.
Ada juga yang lebih memilih dengan menggunakan
buku sak ambrek. Tentu itu bertujuan untuk pencarian ide. Hal pernah ku
lakukan. Tapi itu tidak cukup berhasil. Lantas selanjutnya aku mencoba lari
pada “sanggar lamunan”, begitulah salah seorang berusaha mendiskripsikan WC. Karena
kalian bisa mendapat pencerahan disana dengan cara filsuf (merenung). Pendapat ini
tak perlu diragukan, jika sebuah hadis kalian bisa mendefinisikan sebuah hadis
yang mutawatir. Merokok juga boleh ditambahkan kesana untuk pencaria ide
menulis, jika kalian punya selera untuk itu.
Aku lebih suka membawanya jalan kaki. Itu
saja. dan ide itu akan menjelma menjadi hantu yang gentayangan dalam kanan dan
kiriku. Cara itu semua tergantung kalian, mau mencoba atau tidak. Bahkan catatan
paling penting dari menulis adalah jangan menyerah itu saja.
Jika kau fikir keberhasilan menulis itu adalah
kemuat di koran, maka itu salah. Karena belum tentu tulisan kita satu selera
dengan redaksi koran. Maka menulislah dulu sebelum kau tau menulismu untuk
siapa. Jika kau anggap cara-cara diatas kurang berhasil maka seperti kata PeU ku mas Aam “perkuatlah
dirimu sendiri dengan caramu sendiri”. Maka nikmati prosesnya.
.png)


0 komentar: