Dari Sebuah Lagu

09.02 0 Comments

            Lagu senyap sedang mengudara. Seperti alarm perang pada naskah Sampar. Lagu yang baru saja ku pesan dari radio-radio teman lama. Hari ini engkau adalah sepasang laron-laron diatasku. Menari mengitari lampu-lampu bolam jingga senja. Mengingatkanku pada rumah yang acap menghadirkan kesunyian yang lupa di tutup melalui toples biskuit.
            Ada rindu dalam kecewaku. Ibuku menghilang dalam nada bib malam ini. Setelah ditekan begitu saja. Ayahku hilang pada salam ala pelaut yang terpatah-patah. Tapi aku suka itu, ia mengakhiri percakapan itu layaknya laki-laki pada umumnya. Ia juga tak pandai berbicara. Setiap telfon ia akan mengatakan “sudah makan?” setelah itu leyap. Aku berfikir, bagaimana bisa ia gunakan pulsa manca negara hanya untuk menghawatirkan anaknya dengan gaya payah begitu.
            Setelah itu aku baru saja bertemu denganmu. Tak lain pada perjalanan mimpi, aku menemukan kau. Seperti tik-tok yang hilang. Selain itu, bisa saja aku memanggilmu gulali yang tiba-tiba datang di tengah riuhnya pasar malam. Gulali yang mampu membujuk rasa kebocahanku. Menghiburnya dengan rasa manis yang terus melekat. Menghiburnya dalam bentuk lucu. Bisa saja ku kutib kisah dari adikku “lihat kak...belikan aku awan merah jambu itu” dan itu kau.
                                                                        ***
            Laron-laron kini merayap pada kasur-kasurku. Bantal-bantalku. Aku mungkin akan mencatatnya “kedatangan laron adalah kisah lama yang menandakan ini musim penghujan” yang mengartikan pada suatu jinggananti, kita tak akan berjalan lagi. Kita tak akan mulai menghitung berapa kali kau mulai meresahkanku, berapa kali kau akan menghitung “seberapa tinggi aku ngambek” atau kau lupa mengatakan “bangun” untuk sebuah pagi yang sedikit telat naik.
            Aku tak mau terkisah seperti Abelard, karena ia membuatkan surat cinta pada Heloise. Aku juga bukan yang berani mengambil resiko terlalu tinggi. Pada akhirnya pemikiranya dibakar begitu saja melalui buku-buku. Aku hanya ingin menyuratimu dengan rasa sembunyi. Mengitarimu dengan bahaya kata-kata yang dikhawatirkan oleh seorang penasehat raja Cina. “Puisi, sejarah dan filsafat adalah bahaya” katanya begitu. Begitu pula aku.
            Ku sampaikan padamu, tapi ini dengan nada sedikit lirih. Bahwa negara yang kita tepati terlalu benci sejarah yang hendak dibenarkan. Atau ulama’-ulama’ yang telah mengatakan “Jangan memilih pemimpin kafir”. Aku sendiri sedang ragu atas itu. Aku adalah orang yang mana? Aku penikmat sejarah yang diluruskan dan juga sepakat pemimpin kafir, jadi jangan-jangan aku adalah orang yang dibenci kedua belah pihak itu. dan alasan apa yang membuatmu harus menerimaku.
            Chairil Anwar punya kesunyian yang ku pertegaskan padamu pada meja makan “bukan maksud enggan berbagi nasib, karena nasib adalah kesunyian masing-masing”. Pulanglah dariku. “Girl, gilr alone, why do you wander, the twilight shore? Girl, go home, girl!”. Aku melihatmu dengan tegas dalam puisi itu, puisi HSU Chih-Mo. Dan pesanku sebelum kau mengatakan “aku mengutuki segala puisi-puisimu” aku akan mengatakan jangan pernah membenci para penyair. Meskipun ia punya seribu keluaesan diri yang kau sebut kebohongan, tapi jangan pernah.
            Ku ceritakan padamu tentang kisah aneh dalam pengutukan penyair. Dalam sebuah kisah raja, raja dari Sevilla. Al-Mutaddid itu, teelah mebakar puisi Ibnu Hazm yang tak pernah sejalan dengannya. Tetapi dalam pengasingannya, saat semua milik sang raja hilang, ia begitu menderita. Ia banyak menulis dalam pengasingannya. Ia tuliskan beberapa syair dengan majas yang sampir sama dengan al-Hazm.
                                                                        ***
            Laron kini naik kembali pada lampu. Sendirian menikmati sepinya. Dalam lagu perang yang di putar. Mengawali jalan pementasan Sampar, dari Albert Camus. Maka ikutlah menari. Meneriakkan kegaduhan dalam diri kita dalam perang. Aku bermimpi aku adalah Tom dalam film Genius. Hilang dalam sunyi, beku seperti batu dalam kehilangan ayah. Sungai yang mengalir dan kembali pada asal.
                

            

afifi

Some say he’s half man half fish, others say he’s more of a seventy/thirty split. Either way he’s a fishy bastard. Google

0 komentar: