Dari Sebuah Lagu
Lagu senyap sedang mengudara.
Seperti alarm perang pada naskah Sampar. Lagu yang baru saja ku pesan
dari radio-radio teman lama. Hari ini engkau adalah sepasang laron-laron
diatasku. Menari mengitari lampu-lampu bolam jingga senja. Mengingatkanku pada
rumah yang acap menghadirkan kesunyian yang lupa di tutup melalui toples
biskuit.
Ada rindu dalam kecewaku.
Ibuku menghilang dalam nada bib malam ini. Setelah ditekan begitu saja.
Ayahku hilang pada salam ala pelaut yang terpatah-patah. Tapi aku suka itu, ia
mengakhiri percakapan itu layaknya laki-laki pada umumnya. Ia juga tak pandai
berbicara. Setiap telfon ia akan mengatakan “sudah makan?” setelah itu leyap. Aku
berfikir, bagaimana bisa ia gunakan pulsa manca negara hanya untuk
menghawatirkan anaknya dengan gaya payah begitu.
Setelah itu aku baru saja
bertemu denganmu. Tak lain pada perjalanan mimpi, aku menemukan kau. Seperti
tik-tok yang hilang. Selain itu, bisa saja aku memanggilmu gulali yang
tiba-tiba datang di tengah riuhnya pasar malam. Gulali yang mampu membujuk rasa
kebocahanku. Menghiburnya dengan rasa manis yang terus melekat. Menghiburnya
dalam bentuk lucu. Bisa saja ku kutib kisah dari adikku “lihat kak...belikan
aku awan merah jambu itu” dan itu kau.
***
Laron-laron kini merayap
pada kasur-kasurku. Bantal-bantalku. Aku mungkin akan mencatatnya “kedatangan
laron adalah kisah lama yang menandakan ini musim penghujan” yang mengartikan
pada suatu jinggananti, kita tak akan berjalan lagi. Kita tak akan mulai
menghitung berapa kali kau mulai meresahkanku, berapa kali kau akan menghitung
“seberapa tinggi aku ngambek” atau kau lupa mengatakan “bangun” untuk sebuah
pagi yang sedikit telat naik.
Aku tak mau terkisah
seperti Abelard, karena ia membuatkan surat cinta pada Heloise. Aku juga bukan
yang berani mengambil resiko terlalu tinggi. Pada akhirnya pemikiranya dibakar
begitu saja melalui buku-buku. Aku hanya ingin menyuratimu dengan rasa
sembunyi. Mengitarimu dengan bahaya kata-kata yang dikhawatirkan oleh seorang
penasehat raja Cina. “Puisi, sejarah dan filsafat adalah bahaya” katanya
begitu. Begitu pula aku.
Ku sampaikan padamu, tapi
ini dengan nada sedikit lirih. Bahwa negara yang kita tepati terlalu benci
sejarah yang hendak dibenarkan. Atau ulama’-ulama’ yang telah mengatakan “Jangan
memilih pemimpin kafir”. Aku sendiri sedang ragu atas itu. Aku adalah orang
yang mana? Aku penikmat sejarah yang diluruskan dan juga sepakat pemimpin
kafir, jadi jangan-jangan aku adalah orang yang dibenci kedua belah pihak itu.
dan alasan apa yang membuatmu harus menerimaku.
Chairil Anwar punya
kesunyian yang ku pertegaskan padamu pada meja makan “bukan maksud enggan
berbagi nasib, karena nasib adalah kesunyian masing-masing”. Pulanglah dariku.
“Girl, gilr alone, why do you wander, the twilight shore? Girl, go home,
girl!”. Aku melihatmu dengan tegas dalam puisi itu, puisi HSU Chih-Mo. Dan
pesanku sebelum kau mengatakan “aku mengutuki segala puisi-puisimu” aku akan mengatakan
jangan pernah membenci para penyair. Meskipun ia punya seribu keluaesan diri
yang kau sebut kebohongan, tapi jangan pernah.
Ku ceritakan padamu
tentang kisah aneh dalam pengutukan penyair. Dalam sebuah kisah raja, raja dari
Sevilla. Al-Mutaddid itu, teelah mebakar puisi Ibnu Hazm yang tak pernah
sejalan dengannya. Tetapi dalam pengasingannya, saat semua milik sang raja
hilang, ia begitu menderita. Ia banyak menulis dalam pengasingannya. Ia
tuliskan beberapa syair dengan majas yang sampir sama dengan al-Hazm.
***
Laron kini naik kembali
pada lampu. Sendirian menikmati sepinya. Dalam lagu perang yang di putar.
Mengawali jalan pementasan Sampar, dari Albert Camus. Maka ikutlah
menari. Meneriakkan kegaduhan dalam diri kita dalam perang. Aku bermimpi aku
adalah Tom dalam film Genius. Hilang dalam sunyi, beku seperti batu
dalam kehilangan ayah. Sungai yang mengalir dan kembali pada asal.
.png)

0 komentar: