Sebuah Perjalanan
Burung-burung berdecit pada ponselku / Dan meminta nyawa
seberapa besar aku sumbangkan huruf-hurufku pada langit / Aku membikin
bingkisan kecil yang lantas ku ikat dengan koma dan titik / Bukan bunga juga
bukan puisi / itu adalah semesta / Dan engkau adalah kedalaman semesta / Maka
ku ucapkan selamat atas kemenangan.
Bus ini
baru saja melewati terowongon, menghadapkanku pada cahaya-cahaya menyilaukan
seolah masa depan dan kegelapan adalah masa lalu. Kakiku kebas dan tak bisa
diselonjorkan. Dalam laju diatas seratus lima puluh kecepatan kuda, kudengar
pacunya. Kuda Zangi baru saja melewati Kordoba. Membawa kemenangan dengan nada
sumbang. Bendera para panglima berkibar, kemudian menggambarkan “inilah
kemenangan”. Apa orang tidak dapat membedakan mana kemenangan dan mana awal
kemusnahan? Kenapa kemenangan terus saja meninggalkan balas dendam?
Kegelapan
makin menjauh dari bus ini. Perjalanan ini adalah gerak revolusi dari
razim-razim anak muda. Orang bicara begitu. Kenek sesekali berwajah
merah, otoriter dan terus mengucapan “apa anda tak tahu malu” ketika uangku
kurang untuk turun ke tujuan, tetapi kau masih mengikuti perjalanan revolusi
ini. Orang telah mempekikan kemenangan dalam ujung senja. Dan bayangan masa
lalu dibawa mobil ini terus membayang. Diseretnya sambil terus melaju dengan
seratus lima puluh kuda. Masih ku dengar langkah kakinya dan lenguh. Seperti
perjalanan pulang. “Lihat mereka, yang muda mimpinya kemerdekaan dan yang
tua buntang-bintang... tak ada yang perlu ditanyakan?” orang-orang ini memberi
tahu ku soal kisah-kisah heroik yang pernah ia lakuakan. Tentang segala apa
yang pernah ia lewati. Semua mimpi.
Bus
tetap melaju. Dan aku masih belum mau bicara apa-apa. lagu-lagu kemenangan dan
pidato kenegaraan yang disertai sumpah “aku punya agama” berkumandang.
Orang-orang dalam bus ini membangun rumah-rumah dalam kepalanya. Rumah yang
telah mereka anggap nyaman. “Apa kau tak lihat itu?” orang itu kembali
mempertegas pertanyaannya, “apa yang kau ragukan dari kami, kami punya Tuhan?”.
Aku belum bersedia bicara. Musik dalam bus itu kembali diputar sangat keras dan
lorong hitam yang berangkat dari masa lalu begitu mudah hilang. Hanya bayangan
tipis yang masih di bawah. Dan belum mendapat perhatian khusus dan ketat.
Bus akan
tetap melaju. Melintasi hutan-hutan jati yang mulai gugur dalam musim Oktober.
Orang duduk dengan sangat rilex. Sedang jalan mulai berlubang, kulihat
akar milik pohon jati yang terlalu tinggi itu sangat merusak jalanan. Dari
ujung ke ujung, akar itu semakin dalam dan menusuk aspal. “Apa kau lihat itu?”
tunjukku “bukankah kita perlu turun dan membantu membenahi itu?”. Mereka hanya rilex
dan mengatakan “itu sebuah hambatan kecil saja, yang penting kita tetap melaju,
kita tak perlu merasakannya. Karena tujuan kita lebih besar jangan terlalu hiraukan.
Nikmati perjalananmu menuju kota cahaya didepan sana” orang disampingku
menjawab tanpa membuka matanya.
Perjalan
semakin memasuki cahaya. Tetapi aku mencium bau yang sempat menggagu perjalanan
ini. Mungkin mesin bus yang kepanasan sedikit gumamku. Aku menikmati
perjalanannya sebentar. Pada titik 00.00 malam. jalanan memasuki kota gelap
kembali. Jendela mobil tampak lebih anaeh. Aku melihatnya keluar, melihat hutan
kian gelap, dan melihat bintik-bintik cahaya dalam kejauhan. Disanalah sebuah
kota berada. Ada kabar lagi dalam ponselku, menuntut untuk aku tetap disana,
menikmati perjalanan yang indah itu. ponsel itu ada khutbah-khutbah yang baru
saja di teriakkan pada radio-radio malam itu juga.
Sebuah surat
kabar, hari ini yang berperan bagaikan wahyu, wahyu yang ditafsirkan orang-orang
berkepentingan mengabarkan “orang-orang yang beda agama telah menyerang kita,
lewat sabda-lewat sabda-lewat sabda”. Cahaya kian tipis pada malam ini. Langit juga
dihilangkan oleh warna cerahnya.
Degup/degup/degup/ Dan malam semakin malam/ burung-burung
semakin berisik dalam ponselku/ tak ada bawaan dan bekal/
Aku megetok
tiga kali atap mobil dan segera berkata “tolong berhenti, pak sopir” dalam
keragu-raguanku. Ragu persis seerti aku mendengarkan lagu pertama yang kutulis.
Membaca tulisan terawalku dan ragu saat membaca balasan surat cinta pertamaku. “Tolong
pak” dan orang-orang benar-benar
memandangku dan salah satu orang bertanya “ada apa? bukankah kita sudah jauh
sekarang, bukankah kita pergi ketujuan yang paling besar?”. dalam langkah turun
aku menjawab “maaf, aku belum punya ongkos, ongkosku belum cukup, maksudku
ongkos yang benar-benar ongkos dariku sendiri........”
.png)


0 komentar: