Sebuah Perjalanan

08.28 0 Comments

Burung-burung berdecit pada ponselku / Dan meminta nyawa seberapa besar aku sumbangkan huruf-hurufku pada langit / Aku membikin bingkisan kecil yang lantas ku ikat dengan koma dan titik / Bukan bunga juga bukan puisi / itu adalah semesta / Dan engkau adalah kedalaman semesta / Maka ku ucapkan selamat atas kemenangan.
            Bus ini baru saja melewati terowongon, menghadapkanku pada cahaya-cahaya menyilaukan seolah masa depan dan kegelapan adalah masa lalu. Kakiku kebas dan tak bisa diselonjorkan. Dalam laju diatas seratus lima puluh kecepatan kuda, kudengar pacunya. Kuda Zangi baru saja melewati Kordoba. Membawa kemenangan dengan nada sumbang. Bendera para panglima berkibar, kemudian menggambarkan “inilah kemenangan”. Apa orang tidak dapat membedakan mana kemenangan dan mana awal kemusnahan? Kenapa kemenangan terus saja meninggalkan balas dendam?
            Kegelapan makin menjauh dari bus ini. Perjalanan ini adalah gerak revolusi dari razim-razim anak muda. Orang bicara begitu. Kenek sesekali berwajah merah, otoriter dan terus mengucapan “apa anda tak tahu malu” ketika uangku kurang untuk turun ke tujuan, tetapi kau masih mengikuti perjalanan revolusi ini. Orang telah mempekikan kemenangan dalam ujung senja. Dan bayangan masa lalu dibawa mobil ini terus membayang. Diseretnya sambil terus melaju dengan seratus lima puluh kuda. Masih ku dengar langkah kakinya dan lenguh. Seperti perjalanan pulang. “Lihat mereka, yang muda mimpinya kemerdekaan dan yang tua buntang-bintang... tak ada yang perlu ditanyakan?” orang-orang ini memberi tahu ku soal kisah-kisah heroik yang pernah ia lakuakan. Tentang segala apa yang pernah ia lewati. Semua mimpi.
            Bus tetap melaju. Dan aku masih belum mau bicara apa-apa. lagu-lagu kemenangan dan pidato kenegaraan yang disertai sumpah “aku punya agama” berkumandang. Orang-orang dalam bus ini membangun rumah-rumah dalam kepalanya. Rumah yang telah mereka anggap nyaman. “Apa kau tak lihat itu?” orang itu kembali mempertegas pertanyaannya, “apa yang kau ragukan dari kami, kami punya Tuhan?”. Aku belum bersedia bicara. Musik dalam bus itu kembali diputar sangat keras dan lorong hitam yang berangkat dari masa lalu begitu mudah hilang. Hanya bayangan tipis yang masih di bawah. Dan belum mendapat perhatian khusus dan ketat.
            Bus akan tetap melaju. Melintasi hutan-hutan jati yang mulai gugur dalam musim Oktober. Orang duduk dengan sangat rilex. Sedang jalan mulai berlubang, kulihat akar milik pohon jati yang terlalu tinggi itu sangat merusak jalanan. Dari ujung ke ujung, akar itu semakin dalam dan menusuk aspal. “Apa kau lihat itu?” tunjukku “bukankah kita perlu turun dan membantu membenahi itu?”. Mereka hanya rilex dan mengatakan “itu sebuah hambatan kecil saja, yang penting kita tetap melaju, kita tak perlu merasakannya. Karena tujuan kita lebih besar jangan terlalu hiraukan. Nikmati perjalananmu menuju kota cahaya didepan sana” orang disampingku menjawab tanpa membuka matanya.
            Perjalan semakin memasuki cahaya. Tetapi aku mencium bau yang sempat menggagu perjalanan ini. Mungkin mesin bus yang kepanasan sedikit gumamku. Aku menikmati perjalanannya sebentar. Pada titik 00.00 malam. jalanan memasuki kota gelap kembali. Jendela mobil tampak lebih anaeh. Aku melihatnya keluar, melihat hutan kian gelap, dan melihat bintik-bintik cahaya dalam kejauhan. Disanalah sebuah kota berada. Ada kabar lagi dalam ponselku, menuntut untuk aku tetap disana, menikmati perjalanan yang indah itu. ponsel itu ada khutbah-khutbah yang baru saja di teriakkan pada radio-radio malam itu juga.
            Sebuah surat kabar, hari ini yang berperan bagaikan wahyu, wahyu yang ditafsirkan orang-orang berkepentingan mengabarkan “orang-orang yang beda agama telah menyerang kita, lewat sabda-lewat sabda-lewat sabda”. Cahaya kian tipis pada malam ini. Langit juga dihilangkan oleh warna cerahnya.
Degup/degup/degup/ Dan malam semakin malam/ burung-burung semakin berisik dalam ponselku/ tak ada bawaan dan bekal/
            Aku megetok tiga kali atap mobil dan segera berkata “tolong berhenti, pak sopir” dalam keragu-raguanku. Ragu persis seerti aku mendengarkan lagu pertama yang kutulis. Membaca tulisan terawalku dan ragu saat membaca balasan surat cinta pertamaku. “Tolong pak”  dan orang-orang benar-benar memandangku dan salah satu orang bertanya “ada apa? bukankah kita sudah jauh sekarang, bukankah kita pergi ketujuan yang paling besar?”. dalam langkah turun aku menjawab “maaf, aku belum punya ongkos, ongkosku belum cukup, maksudku ongkos yang benar-benar ongkos dariku sendiri........”




afifi

Some say he’s half man half fish, others say he’s more of a seventy/thirty split. Either way he’s a fishy bastard. Google

0 komentar: