Maaf

01.34 0 Comments

           
Kau adalah ruang paling sempit yang ku ceritakan. Ruang yang membentuk sudut yang tak pernah terjamah untuk siapapun dan belum terjemahkan. Kau adalah kesimpulan itu sendiri.

            Aku melihat matahari, ketinggian bulan, kerahasian angkasa. Tapi aku melupakan kesunyian diri sendiri. Aku hanya ingin pulang, mendengar adik-adikku berbicara paling asing, mendengar mereka ngobrol soal bidak-bidak catur yang baru di bersihkan oleh ibu. Aku hanya ingin menghitung jariku masih tetap sepuluh.
            Aku melihat matahari masih meninggi, bulan masih tenggelam dalam cahaya di malam hari dan mencari kerahasiaan malam. Aku lupa kedalaman diri sendiri. Aku hanya ingin pulang. Menghitung tanaman bunga yang ada dihalaman rumah. Menyapa burung-burung dalam tangkai Lamtoro. Mendengar lagu yang lupa liriknya. Menghirup asap rokok kakek tanpa mengeluh “itu menyiksa”
            Menatap pendar bulan, menunjuk bintang tercantik malam itu, menikmati sunyi diangkasa yang dilempar oleh bintang-bintang. Aku lupa mencari bebatuan pada diriku. Maka hari ini aku tak berubah kan? Menjadi orang lain. Dan aku akan bertanya, sudahkah aku benar?
            Aku melihat angkasa makin asing dan aku mulai ketinggalan, tanpa pertanyaan dan tanpa praduka. Maka aku ingin bertanya, masihkah itu aku? Abadi dalam otak kosongku. Aku hanya lupa tak pernah hidup dengan kepalaku sendiri, dan aku hanya ingin hidup dengan sehat: baik, tidak jahat, bermoral, tidak pernah menyentuh pertaruhan dan mau belajar.
            Aku lupa aku adalah aku, dan bebatuan dalam diriku adalah aku juga. Maka aku akan hidup dengan itu. Maka akan ku tanya padamu sekali lagi “apakah ada yang berubah?” berubah menjadi bercak dan riak dalam matamu. Maka maafkan aku, meski kau tak suka itu.
            Angkasa makin sunyi, kulihat matahari asing, bulan larut dalam kemabukannya, dan bintang-bintang jatuh merubah dirinya jadi serbuk. Dan aku masih sendiri, sendiri
            Aku hanya ingin hidup sehat: tak di benci siapapun dan membenci siapapun. Maka aku bertanya padamu “apa aku sangat berubah?”
            Jika kau maafkan, temani aku hidup di rumah kayu, dengan sebanyak mungkin teman, mengenang kemaraanku padamu atau sebaliknya. Kau hanya cukup berdiri dan aku akan datang padamu dengan baju rindu. Maka temani aku dengan hidup dirumah kayu, dimana cahya tembus pandang, dan aku tak mau kehilangan apapun: cahaya dan kau. Saat ini dan itu juga akan datang.


afifi

Some say he’s half man half fish, others say he’s more of a seventy/thirty split. Either way he’s a fishy bastard. Google

0 komentar: