Maaf
Kau adalah ruang paling sempit yang ku ceritakan. Ruang yang membentuk sudut yang tak pernah terjamah untuk siapapun dan belum terjemahkan. Kau adalah kesimpulan itu sendiri.
Aku
melihat matahari, ketinggian bulan, kerahasian angkasa. Tapi aku melupakan kesunyian
diri sendiri. Aku hanya ingin pulang, mendengar adik-adikku berbicara paling
asing, mendengar mereka ngobrol soal bidak-bidak catur yang baru di bersihkan
oleh ibu. Aku hanya ingin menghitung jariku masih tetap sepuluh.
Aku
melihat matahari masih meninggi, bulan masih tenggelam dalam cahaya di malam
hari dan mencari kerahasiaan malam. Aku lupa kedalaman diri sendiri. Aku hanya
ingin pulang. Menghitung tanaman bunga yang ada dihalaman rumah. Menyapa burung-burung
dalam tangkai Lamtoro. Mendengar lagu yang lupa liriknya. Menghirup asap rokok
kakek tanpa mengeluh “itu menyiksa”
Menatap
pendar bulan, menunjuk bintang tercantik malam itu, menikmati sunyi diangkasa
yang dilempar oleh bintang-bintang. Aku lupa mencari bebatuan pada diriku. Maka
hari ini aku tak berubah kan? Menjadi orang lain. Dan aku akan bertanya,
sudahkah aku benar?
Aku
melihat angkasa makin asing dan aku mulai ketinggalan, tanpa pertanyaan dan
tanpa praduka. Maka aku ingin bertanya, masihkah itu aku? Abadi dalam otak
kosongku. Aku hanya lupa tak pernah hidup dengan kepalaku sendiri, dan aku
hanya ingin hidup dengan sehat: baik, tidak jahat, bermoral, tidak pernah
menyentuh pertaruhan dan mau belajar.
Aku
lupa aku adalah aku, dan bebatuan dalam diriku adalah aku juga. Maka aku akan
hidup dengan itu. Maka akan ku tanya padamu sekali lagi “apakah ada yang
berubah?” berubah menjadi bercak dan riak dalam matamu. Maka maafkan aku, meski
kau tak suka itu.
Angkasa
makin sunyi, kulihat matahari asing, bulan larut dalam kemabukannya, dan
bintang-bintang jatuh merubah dirinya jadi serbuk. Dan aku masih sendiri,
sendiri
Aku
hanya ingin hidup sehat: tak di benci siapapun dan membenci siapapun. Maka aku
bertanya padamu “apa aku sangat berubah?”
Jika
kau maafkan, temani aku hidup di rumah kayu, dengan sebanyak mungkin teman,
mengenang kemaraanku padamu atau sebaliknya. Kau hanya cukup berdiri dan aku
akan datang padamu dengan baju rindu. Maka temani aku dengan hidup dirumah
kayu, dimana cahya tembus pandang, dan aku tak mau kehilangan apapun: cahaya
dan kau. Saat ini dan itu juga akan datang.
.png)


0 komentar: