Membeli Humor

01.56 0 Comments

Dok. Internet
Ketika musim hujan, dirumah tak ada apa-apa untuk diseduh. Teh dan kopi, nihil di meja makan maupun dapur . Jadi kita saling berunding, mengingatkan satu sama lain dengan suara agak  membesar-besarkan perkara, “kita nanti bisa mati kedinginan sayang”  katamu dengan sangat ketakutan. Aku cukup kebingungan. Karena ini musim dingin dan basah, dan pekerjaanku tak mungkin untuk suhu sekeras ini. Dan uang juga kian berkurang. Mungkin kini kita harus belajar dari beruang.
“Kita seduh saja tawa” ucapku. Agaknya aku gegabah malam itu dan keterkejutanmu melompat. Orang yang tanpa pekerjaan menawarkan hal konyol. Yang kiranya mungkin akan membuat kematian konyol.
“Bagaimana kita akan memulainya, di rumah ini tidak ada anak kecil untuk membuat lelucon”
Sejenak aku berfikir. Aku mengerti tentang teori humor, bahwa orang harus memandang sesuatu dari jarak yang cukup jauh. Kita harus menghadapi itu semua sebagai tawa.Tapi aku tak mempunyai kalimat pertama untuk membuatnya lucu.
Pencarian itu kulakukan mulai dari di tumpukan Koran, majalah bekas, kanal-kanal televisi dan radio.  Tapi semua itu kosong. Kanal-kanal tivi hanya mengumandangkan lagu kebangsaan masing-masing. Sedangkan radio-radio hanya berisi curhatan galau, ku dengar salah satunya mengatakan “jika engkau sudah selesai bekerja ganti bajumu dengan rindu”. Aku ingin protes, aku lagi tidak bekerja, tolol.
Ku suruh kekasihku itu memutar ke kanal lain. Suaranya berubah. Dan ku dengar di sana adalah radio pencarian dan pembelian barang-barang yang di obral dengan harga murah.
Entah atau antah apa yang merasukiku. Ku mencoba mendengar dan menelponnya. Dan ku tanyakan di sana apa bapak bersedia menjual humor atau mencarikan aku humor untuk persediaan musim penghujanku. Tapi anehnya permintaanku itu di tanggapi dengan ketawa yang sangat keras. Aku bisa membayar berapa saja yang kau pinta, tapi tentu aku lakukan secara angsur, karena kami sedang krisis tambahku dengan nada dalam. Tapi tidak dengan suara-suara yang ada di balik kanal itu. Mereka ketawa lepas, sagat lepas. Aku sangat kebingungan.
Karena sedikit sakit hati ku ucapkan pada kekasihku, tampaknya radio dan televise kita sudah rusak, jika kau sepakat kita jual saja untuk tambahan uang beli humor, kayaknya kanal-kanal televisi itu terlalu sibuk berbicara soal kebencian. Dan kekasihku mengangguk tanpa banyak bicara dan tanya seperti biasanya.
Makan malam sudah terjadi, kami makan persediaan terakhir. Hari makin hujan, mungkin juga hujan untuk beberapa bulan lagi, mungkin juga untuk setahun. Dalam meja makan itu kami terjebak dalam kelengangan. Hanya garpu dan sendok yang bisa bersuara. “kita akan mati tanpa humor di negeri ini sayang dan kita akan saling mendiamkan di meja makan sayang, saat engkau tak bisa mengangguk lagi atas-atas pembicaraan yang aku lakukan. Karena kita beda, meski satu dalam urusan bau mawar dan cinta”
Kekasihku memandangku dan ia mengelap bibirnya yang kotor , setelah makanannya habis ia segera membuat kursinya bergeser dan mulai pergi. Tanpa ucapan apapun. Diam.
Tapi sebelum menutup pintunya ia berkata padaku sangat sederhana dan pasrah “aku sudah menduga hari ini akan terjadi, tapi aku sudah membisikan pada bantalmu untuk selalu mengucapkan selamat malam dan aku akan merindukanmu kembali untuk dirimu yang dulu” ia lantas hilang dan semenjak waktu itu aku tak melihatnya lagi sampai sekarang.  
     
untuk: Ul-Hayati yang gampang tersenyum padaku



 

afifi

Some say he’s half man half fish, others say he’s more of a seventy/thirty split. Either way he’s a fishy bastard. Google

0 komentar: