Membeli Humor
![]() |
| Dok. Internet |
Ketika musim hujan, dirumah tak ada apa-apa untuk diseduh. Teh dan
kopi, nihil di meja makan maupun dapur . Jadi kita saling berunding,
mengingatkan satu sama lain dengan suara agak
membesar-besarkan perkara, “kita nanti bisa mati kedinginan sayang” katamu dengan sangat ketakutan. Aku cukup
kebingungan. Karena ini musim dingin dan basah, dan pekerjaanku tak mungkin
untuk suhu sekeras ini. Dan uang juga kian berkurang. Mungkin kini kita harus
belajar dari beruang.
“Kita seduh saja tawa” ucapku. Agaknya aku gegabah malam itu dan
keterkejutanmu melompat. Orang yang tanpa pekerjaan menawarkan hal konyol. Yang
kiranya mungkin akan membuat kematian konyol.
“Bagaimana kita akan memulainya, di rumah ini tidak ada anak kecil
untuk membuat lelucon”
Sejenak aku berfikir. Aku mengerti tentang teori humor, bahwa orang
harus memandang sesuatu dari jarak yang cukup jauh. Kita harus menghadapi itu
semua sebagai tawa.Tapi aku tak mempunyai kalimat pertama untuk membuatnya
lucu.
Pencarian itu kulakukan mulai dari di tumpukan Koran, majalah bekas,
kanal-kanal televisi dan radio. Tapi semua
itu kosong. Kanal-kanal tivi hanya mengumandangkan lagu kebangsaan
masing-masing. Sedangkan radio-radio hanya berisi curhatan galau, ku dengar salah
satunya mengatakan “jika engkau sudah selesai bekerja ganti bajumu dengan rindu”.
Aku ingin protes, aku lagi tidak bekerja, tolol.
Ku suruh kekasihku itu memutar ke kanal lain. Suaranya berubah. Dan
ku dengar di sana adalah radio pencarian dan pembelian barang-barang yang di
obral dengan harga murah.
Entah atau antah apa yang merasukiku. Ku mencoba mendengar dan
menelponnya. Dan ku tanyakan di sana apa bapak bersedia menjual humor atau
mencarikan aku humor untuk persediaan musim penghujanku. Tapi anehnya
permintaanku itu di tanggapi dengan ketawa yang sangat keras. Aku bisa
membayar berapa saja yang kau pinta, tapi tentu aku lakukan secara angsur,
karena kami sedang krisis tambahku dengan nada dalam. Tapi tidak dengan
suara-suara yang ada di balik kanal itu. Mereka ketawa lepas, sagat lepas. Aku sangat
kebingungan.
Karena sedikit sakit hati ku ucapkan pada kekasihku, tampaknya
radio dan televise kita sudah rusak, jika kau sepakat kita jual saja untuk
tambahan uang beli humor, kayaknya kanal-kanal televisi itu terlalu sibuk
berbicara soal kebencian. Dan kekasihku mengangguk tanpa banyak bicara dan tanya
seperti biasanya.
Makan malam sudah terjadi, kami makan persediaan terakhir. Hari makin
hujan, mungkin juga hujan untuk beberapa bulan lagi, mungkin juga untuk setahun.
Dalam meja makan itu kami terjebak dalam kelengangan. Hanya garpu dan sendok
yang bisa bersuara. “kita akan mati tanpa humor di negeri ini sayang dan kita
akan saling mendiamkan di meja makan sayang, saat engkau tak bisa mengangguk
lagi atas-atas pembicaraan yang aku lakukan. Karena kita beda, meski satu dalam
urusan bau mawar dan cinta”
Kekasihku memandangku dan ia mengelap bibirnya yang kotor , setelah
makanannya habis ia segera membuat kursinya bergeser dan mulai pergi. Tanpa ucapan
apapun. Diam.
Tapi sebelum menutup pintunya ia berkata padaku sangat sederhana
dan pasrah “aku sudah menduga hari ini akan terjadi, tapi aku sudah membisikan
pada bantalmu untuk selalu mengucapkan selamat malam dan aku akan
merindukanmu kembali untuk dirimu yang dulu” ia lantas hilang dan semenjak
waktu itu aku tak melihatnya lagi sampai sekarang.
untuk: Ul-Hayati yang gampang tersenyum padaku
.png)


0 komentar: