Melawan Yuk!

00.51 0 Comments

“Beberapa orang memilih jalan sepi yang di bangunnya sendiri”
            Kata Fandy Asari dalam status facebooknya. Ia memang bukan siapa-siapa, bukan orang penting di Indonesia, bukan orang yang terlalu menonjol di kampus juga. Tetapi entah mengapa saya begitu mengaguminya, termasuk melalui tulisannya di facebook.
            Dalam tulisan yang singkat itu, ia berusaha menangkap apa saja yang kita lakukan untuk diri kita sendri. Apa yang telah kita lakukan untuk diri kita? Sudahkah kita memahami siapa kita? Begitulah yang saya rasakan setelah membaca status tersebut. Ia juga memberi judul yang sangat mempesona untuk tulisannya tersebut, “akan jadi apa hidup ini jika tidak melawan” begitulah dia.
            Jika kita bisa membaca dalam tulisan tersebut dengan seksama, kita akan kembali meraba diri masing-masing. Berada dimana kita sekarang? Terjebak menjadi orang yang terus mengekor atau orang yang mengatakan “iya” meskipun dalam keadaan salah? Menjadi orang yang selalu pasrah saja dengan semua yang kita jalani? Begitulah yang harus kita tanyakan diri sendiri.
            Dalam hal tersebut ada teori yang mengatakan, kesadaran seperti itu yang disebut dengan kesadaran naif. Kesadaran kita berposisi sebagai orang yang mengerti tetapi hanya diam. Selain kesadaran itu, sebenarnya ada dua kesadaran lain diantara kita. Kesadaran kritis dan magis. Kesadaran kritis adalah kesadaran yang mampu mempertanyakan dan meragukan segala. Kesadaran inilah kesadaran yang tertinggi untuk manusia.
            Sebaliknya dengan kesadaran kritis yang menempatkan kesadaran tertinggi. Kesadaran magis adalah kesadaran yang terendah untuk kita. Kesadaran ini adalah kesadaran yang hanya menerima takdir atau yang telah kita dapatkan. Begitupula kita sebagai mahasiswa yang masih terkotak-kotak akan itu.
Cermin untuk kita
            Ada hal yang mampu menjadi cermin untuk kita. Salah satunya adalah Pemilwa. Pemilwa yang mempunyai artian pemlihan mahasiswa adalah salah satu alat pembantu kita untuk pertanyaan-pertanyaan yang telah terlontar tersebut. Dimana kita berada?
            Pemilwa yang secara sederha dapat kita sebagai pememilihan badan legislatif dan eksekutif dalam kampus ini merupakan yang sistem sangat rumit. Mulai dengan pencalonan sampai adanya debat kandidat yang sangat sepi dalam hal ini. kenapa begitu? Karena ini di landaskan pada sebuah kata-kata “kampus adalah miniatur negara”. Begitulah yang sering kita dengar.
            Selain momentum buat kita memilih pemimpin dalam kampus dan tetekbengeknya itu, disisi lain kegiatan ini bisa kita jadikan sebuah cermin untuk kita. Menjadi alat peraba atau pendeteksi dimana tataran kesadaran kita. Sudahkah kita dalam kesadaran kritis, atau masih dalam kesadaran naif, bahkan jangan-jangan kita masih terjebak dalam kesadaran magis.
            Bagaimana hal semacam itu akan berkerja sebagai alat pedeksi semacam itu? tentu kita harus kembali pada diri kita masing-masing lagi. Selain itu ajukan pertanyaan yang pada diri kita. Apakah kita sudah ikut serta dalam hal tersebut apa belum? Seberapa jauh keterlibatkan kita akan hal demikian itu? jika kita masih bertanya semacam itu, tetapi masih berubah. Tampaknya kita harus menghujamkan pertanyaan itu kepada objek yang kita tuju. Dalam konteks ini adalah pemilwa itu tadi.
            Laiknya alat pelacak. Kita juga harus memastikan apa alat itu benar-benar berfungsi untuk mendukung kita ikut dalam partisipasi tersebut. seperti bertanya tentang apa perlunya hal tersebut? apa imbasnya bagi kita dan apa kinerja sesuatu yang kita pilih itu? atau perihal seberapa jauh sosialisasi yang kita dapat, agar kita bisa ikut dalam partisipasi tersebut?
            Tetapi kita juga tidak dapat mengandalkan perbaikan sistem yang kurang jelas. Kita tidak harus terus diam untuk membiarkan sebuah kesalahan, karena kesalahan terfatal kita adalah “saling mendiamkan”. Seperti yang saya kutip untuk membuka, tampaknya saya juga harus mengutip status Fandy Asari kembali sebagai penutup “hidup itu soal melawan, melawan tidak menjadi pengekor misalnya. Sedang kita sudah melawan untuk apa?”   

afifi

Some say he’s half man half fish, others say he’s more of a seventy/thirty split. Either way he’s a fishy bastard. Google

0 komentar: