Melawan Yuk!
“Beberapa orang memilih jalan sepi yang di bangunnya sendiri”
Kata
Fandy Asari dalam status facebooknya. Ia memang bukan siapa-siapa, bukan
orang penting di Indonesia, bukan orang yang terlalu menonjol di kampus juga. Tetapi
entah mengapa saya begitu mengaguminya, termasuk melalui tulisannya di facebook.
Dalam
tulisan yang singkat itu, ia berusaha menangkap apa saja yang kita lakukan
untuk diri kita sendri. Apa yang telah kita lakukan untuk diri kita? Sudahkah kita
memahami siapa kita? Begitulah yang saya rasakan setelah membaca status
tersebut. Ia juga memberi judul yang sangat mempesona untuk tulisannya tersebut,
“akan jadi apa hidup ini jika tidak melawan” begitulah dia.
Jika
kita bisa membaca dalam tulisan tersebut dengan seksama, kita akan kembali
meraba diri masing-masing. Berada dimana kita sekarang? Terjebak menjadi orang
yang terus mengekor atau orang yang mengatakan “iya” meskipun dalam keadaan
salah? Menjadi orang yang selalu pasrah saja dengan semua yang kita jalani? Begitulah
yang harus kita tanyakan diri sendiri.
Dalam
hal tersebut ada teori yang mengatakan, kesadaran seperti itu yang disebut
dengan kesadaran naif. Kesadaran kita berposisi sebagai orang yang mengerti
tetapi hanya diam. Selain kesadaran itu, sebenarnya ada dua kesadaran lain
diantara kita. Kesadaran kritis dan magis. Kesadaran kritis adalah kesadaran
yang mampu mempertanyakan dan meragukan segala. Kesadaran inilah kesadaran yang
tertinggi untuk manusia.
Sebaliknya
dengan kesadaran kritis yang menempatkan kesadaran tertinggi. Kesadaran magis
adalah kesadaran yang terendah untuk kita. Kesadaran ini adalah kesadaran yang
hanya menerima takdir atau yang telah kita dapatkan. Begitupula kita sebagai
mahasiswa yang masih terkotak-kotak akan itu.
Cermin untuk kita
Ada
hal yang mampu menjadi cermin untuk kita. Salah satunya adalah Pemilwa. Pemilwa
yang mempunyai artian pemlihan mahasiswa adalah salah satu alat pembantu kita
untuk pertanyaan-pertanyaan yang telah terlontar tersebut. Dimana kita berada?
Pemilwa
yang secara sederha dapat kita sebagai pememilihan badan legislatif dan
eksekutif dalam kampus ini merupakan yang sistem sangat rumit. Mulai dengan
pencalonan sampai adanya debat kandidat yang sangat sepi dalam hal ini. kenapa
begitu? Karena ini di landaskan pada sebuah kata-kata “kampus adalah miniatur
negara”. Begitulah yang sering kita dengar.
Selain
momentum buat kita memilih pemimpin dalam kampus dan tetekbengeknya itu,
disisi lain kegiatan ini bisa kita jadikan sebuah cermin untuk kita. Menjadi alat
peraba atau pendeteksi dimana tataran kesadaran kita. Sudahkah kita dalam
kesadaran kritis, atau masih dalam kesadaran naif, bahkan jangan-jangan kita
masih terjebak dalam kesadaran magis.
Bagaimana
hal semacam itu akan berkerja sebagai alat pedeksi semacam itu? tentu kita
harus kembali pada diri kita masing-masing lagi. Selain itu ajukan pertanyaan
yang pada diri kita. Apakah kita sudah ikut serta dalam hal tersebut apa belum?
Seberapa jauh keterlibatkan kita akan hal demikian itu? jika kita masih
bertanya semacam itu, tetapi masih berubah. Tampaknya kita harus menghujamkan
pertanyaan itu kepada objek yang kita tuju. Dalam konteks ini adalah pemilwa
itu tadi.
Laiknya
alat pelacak. Kita juga harus memastikan apa alat itu benar-benar berfungsi
untuk mendukung kita ikut dalam partisipasi tersebut. seperti bertanya tentang
apa perlunya hal tersebut? apa imbasnya bagi kita dan apa kinerja sesuatu yang
kita pilih itu? atau perihal seberapa jauh sosialisasi yang kita dapat, agar
kita bisa ikut dalam partisipasi tersebut?
Tetapi
kita juga tidak dapat mengandalkan perbaikan sistem yang kurang jelas. Kita tidak
harus terus diam untuk membiarkan sebuah kesalahan, karena kesalahan terfatal
kita adalah “saling mendiamkan”. Seperti yang saya kutip untuk membuka,
tampaknya saya juga harus mengutip status Fandy Asari kembali sebagai penutup “hidup
itu soal melawan, melawan tidak menjadi pengekor misalnya. Sedang kita sudah
melawan untuk apa?”
.png)


0 komentar: