BAHAYA SEBUAH INGATAN
“Ingatan adalah hal yang berbahaya...”
Mungkin kurang lebihnya seperti itu,
kalimat tentang ingatan itu tersusun dalam sebuah puisi. Entah puisi siapa,
mungkin juga puisi salah seorang teman yang kebetulan terbaca. Dalam konteks
ini ingatan ditujukan pada masa lalu, sejarah dan hal-hal yang berkenaan dengan
perkara lampau. Dari “Ingatan” inilah bisa dikatakan biang kegaduhan hari ini,
dalam Indonesia maupun lingkup global. Semua tersebab melalui ingatan.
Ingatanlah yang melatarbelakangi
“penistaan agama” versi satu kutub. “diskriminasi ,penyinggungan SARA dan
pelecehan bendera negara” pada kutub yang lainnya. Kedua perkara ini merupakan akibat
dari sebuah ingatan. Versi “penistaan agama” adalah ingatan akan ayat suci,
hingga merembet tak karuan dan membabi-buta hingga perkara terbaru adalah
“pemantauan” dan “pemilahan” ulama’ di Indonesia. Perkara ini juga nantinya
akan berbutut pada pantas atau tidaknya ulama’ itu untuk Indonesia.
Kenapa pemerintah melakukan itu? pertanyaan
itu dengan mudah kita bisa menjawabnya sendiri, sebab ingatan beberapa ulama’
baru di Indonesia yang menuntut adanya sebuah negara islam. Jika dibahasakan
lain, ingatan akan kejayaan khilafah pada masa lalu.
Itu pulalah salah satu sebab ISIS terbentuk,
juga karena ingatan akan masa lalu. Dimana khilafah mampu melawan kolonial dan
lain sebagainya yang tercatat pada sejarah. Ingatan akan dimana umat islam
dalam satu naungan bendera atau satu komando kepemimpinan, yaitu khilafah.
Namun sistem khilafah sendiri terakhir ada di Turki, yang kemudian terganti
dengan sistem repulik.
Bahaya ingatan akan masa lalu (tepatnya
hal ini lebih kepada trauma) juga telah merasuk pada isu global. Yaitu pada
presiden baru Amirika Serikat. Ingatan itu berupa trauma akan islam. Alasan
lebih tepatnya pada islam radikal. Trauma ini pada akhirnya berdampak pada
keputusan Trump melarang tujuh negara muslim masuk kesana.
Begitulah ingatan hidup dalam setiap
kepala manusia. Ia bisa timbul kapan saja. Dan dari beberapa mereka akan
menyentuh pada zona yang sangat berbahaya. Dimana ingatan membangun sebuah
gerakan radikal, karena nostalgia masa lalu yang hebat sehingga akan
memunculkan angan-angan utopis. Ataupun sisi lainnya ingatan mampu menghadirkan
trauma. Hingga pada ujungnya akan menimbulkan balas dendam dan ketidakpercayaan
serta kehati-hatian.
Begitulah yang terjadi saat ini.
kekisruhan Indonesia dan Amirika mempunyai keterkaitan. Keterkaitan itu ketika Islam terlihat “berisik” seperti di Indonesia saat
ini. Dan terus meneriakkan jihat dalam arti sempit. Maka mereka juga harus
mempertimbangkan dampak lainnya. Mungkin sekarang kita berfikir, kita bisa
“berisik” karena mayoritas, bagaimana jika minortas? Mungkin akan berbeda
hasilnya.
Maka hal yang terjadi adalah
maklumilah Trump, jika ia bersikap begitu. Islam dalam minoritas akan ditekan
dengan keputusan-keputusan seperti diatas. Karena mereka sudah mempunyai
ingatan yang kuat, yaitu berupa trauma yang tumbuh dari masa lalu soal Islam.
mungkin Trump hanya berhati-hati perihal masa lalu. Begitulah ingatan bekerja.
Jalan keluar
Memaafkan, mungkin menjadi solusi.
Memang sulit, bukan berarti mustahil. M Yudhie Haryono dalam bukunya Memaafkan
Islam menuliskan: Dengan memafkan, kita sungguh sedang menyelamatkan dan menyegarkan
“komunitas dan umat islam”. Selain itu memaafkan juga memberi kesempatan pada
kita berbenah, menyampaikan kesalahan, dan bersama-sama belajar. Mengembalikan
dan menstabilkan ingatan yang kacau. Maka untuk beberapa orang yang mempunyai
trauma akan Islam, maafkanlah Islam. dengan begitu akan tercipta keamanan.
Meskipun pada dasarnya Islam telah
mempunyai dasar menjamin dasar keamanan disekelilingnya. Pendapat Abdurrahman
Wahid bahwa Islam telah menjamin keselamatan disekelilingnya melalui lima dasar
dalam literatur lama yang disebut al-kutub al-fiqiyyah. Lima dasar itu
meliputi 1) keselamatan fisik warga masyarakat dari tindakan badani diluar
ketentuan hukum. 2) keselamatan keyakinan agama masing-masing, tanpa ada
paksaan untuk berpindah agama. 3) keselamatan keturunan dan keturunan. 4)
keselamat harta benda milik pribadi diluar prosedur hukum dan 5) keselamat
profesi. Tetapi asas itu seolah terlupakan dalam diskusi-diskusi kita guna
menjaga perdamaian.
Selain itu dengan memafkan satu sama
lain. Maka beberapa kaum Islam diseluruh dunia juga akan merasakan jaminan
kemanan. Namun ketika kita masih “berisik” maka maklumilah Trump. Karena kita
tidak mampu menerka bahaya sewaktu-waktu datang dari sebuah ingatan dan
sejarah. Begitu pulalah yang di takutkan oleh Li-Si salah satu penasehat dari
kekaisaran Qin “puisi, filsafat dan sejarah mengandung potensi bahaya”.
.png)


0 komentar: