Hilangkan Rasa Aku

18.51 0 Comments

            Beberapa hari ini, setelah lebih menyukai Facebook dan lebih sering bertamu disana. Ada hal yang mengejutkan dari pada bermimpi ditembak cewek. Dua teman yang tak begitu akrab ternyata sudah menjadi aktivis facebook dan sering bertimpal komen sebagai bentuk kurang sepakatan mereka. Tentu tema yang mereka pilih tak jauh-jauh dari bisnis “agama dan pilkada” belakangan ini.
            Seperti halnya dua seteru abadi. Dua temen saya -yang kurang karib- selalu membagi situs-situs berita dari portal online yang mereka yakini benar. Mereka membagikan dengan cara saling menyinggung atau menandai satu sama lain. Tentu hal ini menjadi tontonan tersendiri bagi saya yang kurang hiburan akhir-akhir ini.
            Ditambah lagi dengan perbedaan idiologi yang mereka yakini. Satu meyakini bahwa agama itu selalu nomor satu, sebab itulah kenapa pancasila memberi atas nama “Tuhan” diawal dari pada sila lainnya. Namun seperti orang yang lagi jatuh cinta akan agama. Sehingga apapun yang sedikit berbau agama ia benarkan, tanpa ada pertimbangan dan kajian yang matang.
            Sedangkan kawan saya berada dalam kubu yang lainnya. Mungkin bisa dikatakan ia adalah orang yang nasionalis dengan dasarnya sendiri. Maka tak mengherankan jika kesan pertama kawan-kawan satu kelas terhadap beliau ini adalah pemimpin yang baik dan bijak sana. Apalagi jika ditambah dengan cita-citanya yang ingin menjadi walikota salah satu kota di Jawa Tengah.
            Kegiatan saling singgung ini memang sangat menarik. Namun hal yang menurut saya merugikan hal layak banyak, mereka saling mencemooh satu sama lain dalam sebuah berita. Walaupun itu dilakukannya secara tersirat. Namun ada beberapa hal yang dilakukan terang-terangan, seperti penggunaan kata “telo” dalam sebuah postingan.
            Perkataan semacam itu mungkin bagi sebagian orang bermakna biasa saja. Jika kita ingin melihatnya “lebih” perkataan semacam itu mengandung sebuah klaim kebenaran dari salah satu orang. Karena kata itu digunakan dalam konteks untuk menunjukkan persetujuan dari salah satu orang tersebut. Disinilah rasa benar sendiri seolah tampak pada beberapa orang saat mengemukakan pendapatnya di dalam medsos (lebih jelasnya lihat dalam kata pengantar Baihaqi An-Nizzar dalam blog barunya Gilaglo).
Peng-AKU-an Kita
            Dalam sebuah koran, Cak Nun berpendapat bahwa Indonesia sedang perang. Bukan perang melawan siapapun. Dalam tulisannya tersebut Cak Nun ingin menampilkan bahwa sebenarnya kita sedang menghadapi perang Phandhawayuda. Istilah itu beliau artikan adalah peperangan kebenaran melawan kebenaran. Yaitu kebenaran yang muncul dari diri sendiri.
            Sikap “aku” dalam pendapat kita masih subur pada diri masing-masing. Sehingga banyak orang ketika menyebarkan berita yang menurutnya benar dilakukan dengan semena-mena, tanpa harus mempertimbangkan terlebih dahulu. Apalagi jika dihadapkan pada kondisi akar rumput. Isu itu akan gampang menyebar. Seperti isu agama, sara dan lain sebagainya. maka tak mengherankan tebaran kebencian hidup pada masing-masing diri kita.
            Juga dengan kelatahan kita sebagai penggunaan media sosial. Karena kebanyakan kita menghadapi hal baru semacam ini tanpa bekal. Berbeda jika kita bandingkan dengan eropa. Dalam sebuah peneliian di koran dikatakan daya tangkap dan telaah lulusan sekolah menengan pertama di kita masih lebih rendah di banding lulusan sekolah dasar di eropa sana. Tak mengherankan jika gampangnya penerimaan kita akan sebuah isu belum bisa  kita oleh dengan baik.
            Masalah semacam ini salah satu pustakawan berpendapat adalah membekali bacaan, membaca buku dan budaya literatur bagi kita. Namun perkara itu tampaknya membutuhkan waktu lama. Dan jalan semacam itu adalah solusi jangka panjang.
            Jadi tak ada salahnya jika kita mencoba menghilangkan rasa “aku” dalam diri kita. Membuka diri dan mampu belajar dengan orang lain. Dengan cara begitu mungkin kita bisa dapat meminimalisir masalah-masalah semacam itu. seperti yang dilontarkan Tamam Lokajaya dalam statusnya di facebook juga.

 “wes to, kalau mau hidup tenang dan rukun kepada sesama, hilangkan rasa peng’AKU’mu” ....

afifi

Some say he’s half man half fish, others say he’s more of a seventy/thirty split. Either way he’s a fishy bastard. Google

0 komentar: