Hilangkan Rasa Aku
Beberapa
hari ini, setelah lebih menyukai Facebook dan lebih sering bertamu
disana. Ada hal yang mengejutkan dari pada bermimpi ditembak cewek. Dua teman
yang tak begitu akrab ternyata sudah menjadi aktivis facebook dan sering
bertimpal komen sebagai bentuk kurang sepakatan mereka. Tentu tema yang mereka
pilih tak jauh-jauh dari bisnis “agama dan pilkada” belakangan ini.
Seperti
halnya dua seteru abadi. Dua temen saya -yang kurang karib- selalu membagi
situs-situs berita dari portal online yang mereka yakini benar. Mereka membagikan
dengan cara saling menyinggung atau menandai satu sama lain. Tentu hal ini
menjadi tontonan tersendiri bagi saya yang kurang hiburan akhir-akhir ini.
Ditambah
lagi dengan perbedaan idiologi yang mereka yakini. Satu meyakini bahwa agama
itu selalu nomor satu, sebab itulah kenapa pancasila memberi atas nama “Tuhan”
diawal dari pada sila lainnya. Namun seperti orang yang lagi jatuh cinta akan
agama. Sehingga apapun yang sedikit berbau agama ia benarkan, tanpa ada
pertimbangan dan kajian yang matang.
Sedangkan
kawan saya berada dalam kubu yang lainnya. Mungkin bisa dikatakan ia adalah
orang yang nasionalis dengan dasarnya sendiri. Maka tak mengherankan jika kesan
pertama kawan-kawan satu kelas terhadap beliau ini adalah pemimpin yang baik
dan bijak sana. Apalagi jika ditambah dengan cita-citanya yang ingin menjadi walikota
salah satu kota di Jawa Tengah.
Kegiatan
saling singgung ini memang sangat menarik. Namun hal yang menurut saya merugikan
hal layak banyak, mereka saling mencemooh satu sama lain dalam sebuah berita. Walaupun
itu dilakukannya secara tersirat. Namun ada beberapa hal yang dilakukan
terang-terangan, seperti penggunaan kata “telo” dalam sebuah postingan.
Perkataan
semacam itu mungkin bagi sebagian orang bermakna biasa saja. Jika kita ingin
melihatnya “lebih” perkataan semacam itu mengandung sebuah klaim kebenaran dari
salah satu orang. Karena kata itu digunakan dalam konteks untuk menunjukkan
persetujuan dari salah satu orang tersebut. Disinilah rasa benar sendiri seolah
tampak pada beberapa orang saat mengemukakan pendapatnya di dalam medsos (lebih
jelasnya lihat dalam kata pengantar Baihaqi An-Nizzar dalam blog barunya Gilaglo).
Peng-AKU-an Kita
Dalam
sebuah koran, Cak Nun berpendapat bahwa Indonesia sedang perang. Bukan perang
melawan siapapun. Dalam tulisannya tersebut Cak Nun ingin menampilkan bahwa sebenarnya
kita sedang menghadapi perang Phandhawayuda. Istilah itu beliau artikan
adalah peperangan kebenaran melawan kebenaran. Yaitu kebenaran yang muncul dari
diri sendiri.
Sikap
“aku” dalam pendapat kita masih subur pada diri masing-masing. Sehingga banyak
orang ketika menyebarkan berita yang menurutnya benar dilakukan dengan
semena-mena, tanpa harus mempertimbangkan terlebih dahulu. Apalagi jika
dihadapkan pada kondisi akar rumput. Isu itu akan gampang menyebar. Seperti isu
agama, sara dan lain sebagainya. maka tak mengherankan tebaran kebencian hidup
pada masing-masing diri kita.
Juga
dengan kelatahan kita sebagai penggunaan media sosial. Karena kebanyakan kita
menghadapi hal baru semacam ini tanpa bekal. Berbeda jika kita bandingkan
dengan eropa. Dalam sebuah peneliian di koran dikatakan daya tangkap dan telaah
lulusan sekolah menengan pertama di kita masih lebih rendah di banding lulusan
sekolah dasar di eropa sana. Tak mengherankan jika gampangnya penerimaan kita
akan sebuah isu belum bisa kita oleh
dengan baik.
Masalah
semacam ini salah satu pustakawan berpendapat adalah membekali bacaan, membaca
buku dan budaya literatur bagi kita. Namun perkara itu tampaknya membutuhkan
waktu lama. Dan jalan semacam itu adalah solusi jangka panjang.
Jadi
tak ada salahnya jika kita mencoba menghilangkan rasa “aku” dalam diri kita. Membuka
diri dan mampu belajar dengan orang lain. Dengan cara begitu mungkin kita bisa
dapat meminimalisir masalah-masalah semacam itu. seperti yang dilontarkan Tamam
Lokajaya dalam statusnya di facebook juga.
“wes
to, kalau mau hidup tenang dan rukun kepada sesama, hilangkan rasa peng’AKU’mu”
....
.png)


0 komentar: