Jendral Kura-Kura
Ini perjalanan yang lama, ia merasa
gelar jendral kura-kura bukan bagiannya. Ia bahkan tak pernah paham membedakan
kaki dan tangannya. Tidak bisa membedakan sisi kanan tempurung maupun kiri
tempurungnya. Ia selalu berfikir semacam itu. Ia akan berenang pada terumbu
terdekat hanya untuk menyendiri. Kadang perli ke laut bebas hanya untuk melihat
air laut disekitarnya tanpa ada tujuannya. Begitu jendral kura-kura itu selalu
mempertimbangkan kelakuan anehnya yang tak perlu terdaftar dalam hal
kepemimpinan. Itu hanya buang-buang waktu, fikirnya. Bahkan ia mampu
mempertanyakan lebih banyak dari bagian dirinya yang tak pantas dari sifat
kepemimpinan. Tapi itu sudah tak berguna sekarang. Ia telah terpilih menjadi
jendral kura-kura.
“Sekarang aku sudah menjadi jendral
katanya” perhitungannya dimulai. kini ia sedang berada pada pandai dangkal. Dan
ia sengaja mengurung diri pada tempurungnya. Begitulah kesedihan itu dimulai
dan pengembaraan itu akan berawal. Ia memang banyak cerita pada kepalanya,
banyak kisah orang-orang hebat, banyak kebebasan dalam dirinya. “namun itu
belum cukup” katanya.
***
Sepanjang hari ia memperhitungkan
gelar jendral yang ia sandang. Ia punya banyak keluhan atas itu dan buntu
otaknya. Pertanyaan-pertanyaan yang lantas berkembang adalah “bagaimana aku
akan memimpin ini, menyelamatkan mereka dari badai arus dalam, bagaimana
membawa mereka menemukan pantai-pantai untuk meninggalkan telur” selalu begitu
ucapnya. Dan itu semua baru saja ia terima hari ini. dan ia belum dapatkan apa
yang seharusnya ia pertanyakan.
Jendral-jendral
Ia sedang meremas gangga untuk makan malamnya-
dengan kakinya atau tagannya- namun selera makan itu telah hilang hari ini. Tak
ada yang perlu diisi hari ini. seolah fikirnya begitu. Dia juga berfikir
mungkin juga organ pada salah satu perutnya telah pergi sehingga rasa kosong
biasanya menyerang tidak terasa lagi. hanya saja itu terasa benar-benar aneh
hari ini.
Menurutnya, hari ini tidak perlu
mengisi apapun. Imajinasi dan lain sebagainya. yang ia butuhkan sekarang adalah
bagaimana memecahkan kata “jendral-jendral”. Sebuah kalimat yang begitu
tersohor tapi menjadi beban dalamotaknya. Ia meninggalkan meja makan. Keinginannya
bahwa makan malam seharusnya lengang kini telah tercapai sudah, hanya dengan
cara memikirkan kata jendral itu.
***
Tukik-tukik itu memanggilnya dalam
suara lucu. “Jendral apa yang sedang kau fikirkan?” katanya dengan nada anak
yang pandai berbahagia. “Aku hanya memikirkan bagaimana menemukan jalan” kata
jendral itu
“Bukankah kura-kura akan selalu
menemukan jalan pulang, tanpa ada panduan, bukankah begitu jendral?” kata tukik
dengan ringan.
Pada suatu
angin yang terasa sepi dan malam yang terasa dingin nanti: aku berharap sang
jendral akan tetap selalu tersenyum. Itu saja.
.png)

0 komentar: