Memafkkan Islam
Judul buku: Memaafkan
Islam
Penulis: M. Yudhie
Haryono
Penerbit:
KALAMNUSANTARA
Tebal buku: 226
Resensator: Aziz Afifi
“Keabadian adalah
milik perubahan” dan dunia sudah banyak berubah. Begitu pula yang lantas ditangkap
dalam Memaafkan Islam. Bagaimana perubahan telah terjadi sehingga Islam harus
dimaafkan?
Islam sebagai bentuk doktrin, telah
menarik orang untuk memeluknya. Bahkan dalam negara kita Islam menjadi agama
mayoritas. Sehingga tidak
mengherankan kita selalu di hadapkan pada peradaban, kultur yang tak jarang
membincang perihal Islam. Bahkan akhir-akhir ini Islam telah masuk dalam
beberapa bentuk pergerakan dalam
segala lini. Mulai berbentuk Ormas sampai pada partai politik.
Dalam pandangan Islam format politik, bisa dikatakan Islam harus dihadapkan pada idiologi
negara ataupun sistem yang ada pada negara kita. Hal inilah yang lantas menjadi
dilematis. Bagaimana Islam harus berpolitik dan bagaimana posisi negara dalam
menyikapi Islam yang dominan ini dalam Indonesia. Apakah Indonesia harus
berkiblat pada Islam sebagai landasan negara?
Apalagi jika ditelaah dari
sebelumnya. Meskipun Islam telah menjadi gerakan pada masa sebelum kemerdekaan,
tapi hal itu tak bisa menjadi kontribusi bentuk perpolitikan saat ini. Apalagi
setelah itu-maksud saya
pada orde baru- Islam
hanya menjadi kambing hitam diantara partai yang ada. Partai Islam hanya
sebagai bentuk kontrol dan lembaga untuk mengawasi agar tidak menjadi gerakan
membahayakan bagi rezim.
Disinilah lantas Islam menjadi
bentuk yang beku dan mulai latah dapat menghadapi perpolitikan sekarang ini.
Dimana menghadapi pemain lama dengan baju baru atau pemain baru bermental lama.
Maka tidak jarang kita melihat apa bedanya partai
islam maupun biasa, seolah tidak ada bedanya. Artinya partai islam masih terseret pada sistem KKN
yang sudah-sudah.
Islam sebagai doktrik juga sebagai
bentuk politik belum bisa menawarkan jalan keluar. Hilangnya sebuah kesetaraan,
kebebasan dan kemanusiaan seolah hilang dalam diri dan tubuh dari partai islam
atau islam itu sendiri.
politik islam atau islam politik?
Problematika diatas yang di tangkap
oleh M. Yudhie Haryono dalam bukunya Memaafkan
Islam. Sehingga kita harus memberi bentuk baru dari perpolitikan atau
bentuk pergerakan yang ada di Indonesia. Dengan pertimbangan Islam telah
mendarah daging di negara ini, tapi Indonesia juga bukan negara Islam. Lantas bagaimana pemaknaan perpolitikan yang dilakukan
oleh orang islam atau partai islam agar bisa lebih dan berbeda dengan yang ada.
Juga tidak ikut terseret akan taktik lama dan permainan rezim lama.
M. Yudhie Haryono menawarkan
penafsiran ulang mengenai definisi politik islam dan islam politik. Dimana politik islam diartikan sebagai
upaya memperjuangkan keberhasilan berbagai hal dan kebijakan yang berhubungan
dengan islam atau umat islam. Sehingga tidak memalukan dihadapan rakyat juga
Tuhan. Karena secara term isltilah ini memberi posisi islam sebagai bentuk
nilai.
Sedangkan term islam politik lebih
dimaknai bahwa islam telah dipolitisasi. Hingga bisa dimaknai bahwa hanya
berputar pada mobilisasi yang dilakukan orang islam. Inilah yang dilihat
penulis sekarang ini dan yang harus dimaafkan. Perpektif lain yang tertangkap dalam buku ini berupa sistem seperti ini terbilang menuhankan Arab sebagai kiblatnya.
Dalam buku ini juga dikatakan bahwa
perpolitak islam juga harus dirombak juga. sehingga islam lantas latah pada perubahan yang abadi. Politik
itu adalah politik hibrida.
Hibrida dalam konteks
ini dimaknai sebagai merakyat. Tentu pertimbangan ini didasarkan pada enam
unsur yang dimuatnya. Enam unsur itu berupa mentradisikan kesehatan,
menyehatkan pendidikan, menyelengrakan kebebasan, menjalankan keadilan, menjaga
kesejahtraan dan mengundang persamaan. Dari unsur itulah hibrida menjadi trobosan untuk perpolitikan pada
masa depan. Dimana unsur nilai nilai islam masih terkofer.
Dengan kecakapan dan
pembahasaan yang bagus. Buku memafkan
islam ini menjadi solusi yang masih relefan untuk sekarang yang terus
berkembang. Dengan mengutip penutup buku ini, perpolitikan islam harus bisa
duduk sama rendah dan
berdiri sama tinggi.
2017
.png)

0 komentar: