Memafkkan Islam

11.23 0 Comments

Judul buku: Memaafkan Islam
Penulis: M. Yudhie Haryono
Penerbit: KALAMNUSANTARA
Tebal buku: 226
Resensator: Aziz Afifi
“Keabadian adalah milik perubahan” dan dunia sudah banyak berubah. Begitu pula yang lantas ditangkap dalam Memaafkan Islam. Bagaimana perubahan telah terjadi sehingga Islam harus dimaafkan?
            Islam sebagai bentuk doktrin, telah menarik orang untuk memeluknya. Bahkan dalam negara kita Islam menjadi agama mayoritas. Sehingga tidak mengherankan kita selalu di hadapkan pada peradaban, kultur yang tak jarang membincang perihal Islam. Bahkan akhir-akhir ini Islam telah masuk dalam beberapa bentuk pergerakan dalam segala lini. Mulai berbentuk Ormas sampai pada partai politik.
            Dalam pandangan Islam format politik, bisa dikatakan Islam harus dihadapkan pada idiologi negara ataupun sistem yang ada pada negara kita. Hal inilah yang lantas menjadi dilematis. Bagaimana Islam harus berpolitik dan bagaimana posisi negara dalam menyikapi Islam yang dominan ini dalam Indonesia. Apakah Indonesia harus berkiblat pada Islam sebagai landasan negara?
            Apalagi jika ditelaah dari sebelumnya. Meskipun Islam telah menjadi gerakan pada masa sebelum kemerdekaan, tapi hal itu tak bisa menjadi kontribusi bentuk perpolitikan saat ini. Apalagi setelah itu-maksud saya pada orde baru- Islam hanya menjadi kambing hitam diantara partai yang ada. Partai Islam hanya sebagai bentuk kontrol dan lembaga untuk mengawasi agar tidak menjadi gerakan membahayakan bagi rezim.
            Disinilah lantas Islam menjadi bentuk yang beku dan mulai latah dapat menghadapi perpolitikan sekarang ini. Dimana menghadapi pemain lama dengan baju baru atau pemain baru bermental lama. Maka tidak jarang kita melihat apa bedanya partai islam maupun biasa, seolah tidak ada bedanya. Artinya partai islam masih terseret pada sistem KKN yang sudah-sudah.
            Islam sebagai doktrik juga sebagai bentuk politik belum bisa menawarkan jalan keluar. Hilangnya sebuah kesetaraan, kebebasan dan kemanusiaan seolah hilang dalam diri dan tubuh dari partai islam atau islam itu sendiri.
politik islam atau islam politik?
            Problematika diatas yang di tangkap oleh M. Yudhie Haryono dalam bukunya Memaafkan Islam. Sehingga kita harus memberi bentuk baru dari perpolitikan atau bentuk pergerakan yang ada di Indonesia. Dengan pertimbangan Islam telah mendarah daging di negara ini, tapi Indonesia juga bukan negara Islam. Lantas bagaimana pemaknaan perpolitikan yang dilakukan oleh orang islam atau partai islam agar bisa lebih dan berbeda dengan yang ada. Juga tidak ikut terseret akan taktik lama dan permainan rezim lama.
            M. Yudhie Haryono menawarkan penafsiran ulang mengenai definisi politik islam dan islam politik. Dimana politik islam diartikan sebagai upaya memperjuangkan keberhasilan berbagai hal dan kebijakan yang berhubungan dengan islam atau umat islam. Sehingga tidak memalukan dihadapan rakyat juga Tuhan. Karena secara term isltilah ini memberi posisi islam sebagai bentuk nilai.
            Sedangkan term islam politik lebih dimaknai bahwa islam telah dipolitisasi. Hingga bisa dimaknai bahwa hanya berputar pada mobilisasi yang dilakukan orang islam. Inilah yang dilihat penulis sekarang ini dan yang harus dimaafkan. Perpektif lain yang tertangkap dalam buku ini berupa sistem seperti ini terbilang menuhankan Arab sebagai kiblatnya.
            Dalam buku ini juga dikatakan bahwa perpolitak islam juga harus dirombak juga. sehingga islam lantas latah pada perubahan yang abadi. Politik itu adalah politik hibrida.
Hibrida dalam konteks ini dimaknai sebagai merakyat. Tentu pertimbangan ini didasarkan pada enam unsur yang dimuatnya. Enam unsur itu berupa mentradisikan kesehatan, menyehatkan pendidikan, menyelengrakan kebebasan, menjalankan keadilan, menjaga kesejahtraan dan mengundang persamaan. Dari unsur itulah hibrida menjadi trobosan untuk perpolitikan pada masa depan. Dimana unsur nilai nilai islam masih terkofer.
              Dengan kecakapan dan pembahasaan yang bagus. Buku memafkan islam ini menjadi solusi yang masih relefan untuk sekarang yang terus berkembang. Dengan mengutip penutup buku ini, perpolitikan islam harus bisa duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi.

                                                                                                                                    2017

afifi

Some say he’s half man half fish, others say he’s more of a seventy/thirty split. Either way he’s a fishy bastard. Google

0 komentar: