Manekin

18.40 0 Comments

     Perempuan itu terus menutup matanya sangat dalam dengan tangannya yang putih itu. bahkan ia bisa merasakan aroma parfumnya sendiri. “Apa sudah siap?” tanyanya pada kekasihnya yang sedan duduk di depannya sekarang.
                                                                                  ***
Pada hari libur nanti ia akan mendapatkan segala yang ia butuhkan untuk tersenyum, untuk merasa ia hidup lagi, dan ia akan merasa kulitnya benar-benar nyata. Kulit yang kadang terlihat basah karena keringat, kulit pipi yang memerah ketika ia merasa jatuh cinta. Merasakan benda-benda sekitar rumah yang benar-benar nyata. Seperti vas bunga bahkan harum bunga. Ia selalu membayangkan itu. menjadi seutuhnya manusia.
            Tak ada yang membahagiannya kecuali memandang segalanya seolah segera lagi akan tiba. Mungkin bisa saja ia akan mempunyai puisi-puisi tentang benda-benda sekitar rumahnya dan kekasihnya. Kekasihnya bersama Cer. Seorang yang bekerja menjadi pemabuk. Begitulah seingatnya saat kekasihnya datang padanya dan bercerita bahwa aku adalah seorang pemabuk.
            Dan ia bisa membayangkan betapa bahagia kekasihnya ketika semua terasa nyata. Ia menjadi manusia. Angannya terus berkembang, seolah adonan roti atau busa sabun deterjen yang selalu ia gosok dalam air. Ia selalu membayangkan lidahnya kepanasan saat meminum kopi yang ia seduh sendiri, meniupnya dan bergurau ringan dengan kekasihnya. Hingga ia berfikiran bahwa “aku akan meminta kekasihnya untuk membelai rambutnya yang lurus” agar ia merasaka tangan kekasihnya yang kasar itu. bahkan definisi kasar sendiri ia dapatkan dari penjual makanan didepan rumahnya yang sering mengumpat “kau itu badak atau apa Cer, tanganmu benar-benar kasar”.
            “Aku harus hidup” ucap yang tiba-tiba hadir dalam benaknya.
            Ia akhirnya hidup sebagai malam yang agak hambar dan sebagai kopi yang agak pahit. Kata dirinya sendiri. tentu definisi semua itu tak ia rasakan, hanya saja ia mengira-ngira seperti yang ia tonton selama ini dalam televisi.
            Dan sekarang ia sudah hidup dengan beberapa kelengkapan yang ia bayangkan selama ini. Tapi ia harus ketawa atau senyum agar tidak menjadi hambar. Maka pada suatu waktu yang luang, ia putuskan berjalan. Melihat pusat pertokoan juga pasar. Ia datang pada suatu gerai. Mendekat sambil mencari yang ia cari. Pemilik gerai akhirnya menanyakan hal yang ia cari. Tapi sekilas pemilik gerai itu tersenyum kecut dan geli. “apa yang salah dengan hal yang aku cari?” katanya. Hal itu juga terulang saben ia memasuki toko laninnya.
            Pada suatu gang ia temukan iklan yang tak bergambar. Hanya tulisan. Dan ia membacanya perlahan. Membayangkan dan mencoba mengenali huruf-huruf yang baru saja ia lihat. kami menyediakan semua. Bunyi iklan itu. ia harus pergi kesana dan menemukan yang ia cari. Kotak ketawa.
            Ia harus berjalan keterminal, menaiki bus ke arah barat sampai pada terminal selanjutnya. dan turun menaiki andong atau becak, atau nyewa sepedah atau kalau mau lebih irit kau boleh jalan kaki. Karena jarak tempat itu tak jauh dari terminal terakhir itu. itulah yang ia dapatkan dari seorang ibu-ibu yang sedang menetek anaknya di suatu toko yang sepi (pelanggan dan dagangan). Mungkin tokoh utama kita membeli salah satu barang yang di jual disana sebagai ucapan terimakasih.
Dan ia sampai disana tanpa tanda tanya lagi. Ia sudah menemukannya dengan mudah dan mendapatkannya apa yang ia butuhkan. Kotak ketawa dengan warna yang ia sukai. Biru. Ia membelinya dengan murah. Dan sekarang ia membukusnya mirip seperti kado.
            Fikirnya mengembang kembali saat mengingat penjelas penjual tadi “kotak ini bisa membuatmu tersenyum dan bisa membuatmu ketawa”. Ia punya rencana sekarang. Ia harus memberi tahu kekasihnya saat jamuan makan malam untuk memasangnya.

                                                                            ***

            Dan malam itu tiba sekarang. Ia menutup matanya sangat dalam dan mencium bau parfumnya. Ia berfikir mungkin sudah waktunya untuk membuka mata. ia memulainya. Membuka mata sanngat pelan, pelan dan akhirnya jelas. Bahwa ia tetap saja disana. menjadi manekin yang tak pernah hidup seperti itu. Tetap dalam toko dan etalase.    

afifi

Some say he’s half man half fish, others say he’s more of a seventy/thirty split. Either way he’s a fishy bastard. Google

0 komentar: