Manekin
Perempuan itu terus menutup matanya sangat dalam dengan tangannya yang putih itu. bahkan ia bisa merasakan aroma parfumnya sendiri. “Apa sudah siap?” tanyanya pada kekasihnya yang sedan duduk di depannya sekarang.
***
Pada hari libur nanti ia
akan mendapatkan segala yang ia butuhkan untuk tersenyum, untuk merasa ia hidup
lagi, dan ia akan merasa kulitnya benar-benar nyata. Kulit yang kadang terlihat
basah karena keringat, kulit pipi yang memerah ketika ia merasa jatuh cinta.
Merasakan benda-benda sekitar rumah yang benar-benar nyata. Seperti vas bunga
bahkan harum bunga. Ia selalu membayangkan itu. menjadi seutuhnya manusia.
Tak ada yang
membahagiannya kecuali memandang segalanya seolah segera lagi akan tiba.
Mungkin bisa saja ia akan mempunyai puisi-puisi tentang benda-benda sekitar
rumahnya dan kekasihnya. Kekasihnya bersama Cer. Seorang yang bekerja menjadi
pemabuk. Begitulah seingatnya saat kekasihnya datang padanya dan bercerita
bahwa aku adalah seorang pemabuk.
Dan ia bisa membayangkan
betapa bahagia kekasihnya ketika semua terasa nyata. Ia menjadi manusia.
Angannya terus berkembang, seolah adonan roti atau busa sabun deterjen yang
selalu ia gosok dalam air. Ia selalu membayangkan lidahnya kepanasan saat
meminum kopi yang ia seduh sendiri, meniupnya dan bergurau ringan dengan
kekasihnya. Hingga ia berfikiran bahwa “aku akan meminta kekasihnya untuk
membelai rambutnya yang lurus” agar ia merasaka tangan kekasihnya yang kasar
itu. bahkan definisi kasar sendiri ia dapatkan dari penjual makanan didepan
rumahnya yang sering mengumpat “kau itu badak atau apa Cer, tanganmu
benar-benar kasar”.
“Aku harus hidup” ucap
yang tiba-tiba hadir dalam benaknya.
Ia akhirnya hidup sebagai
malam yang agak hambar dan sebagai kopi yang agak pahit. Kata dirinya sendiri.
tentu definisi semua itu tak ia rasakan, hanya saja ia mengira-ngira seperti
yang ia tonton selama ini dalam televisi.
Dan sekarang ia sudah
hidup dengan beberapa kelengkapan yang ia bayangkan selama ini. Tapi ia harus
ketawa atau senyum agar tidak menjadi hambar. Maka pada suatu waktu yang luang,
ia putuskan berjalan. Melihat pusat pertokoan juga pasar. Ia datang pada suatu
gerai. Mendekat sambil mencari yang ia cari. Pemilik gerai akhirnya menanyakan
hal yang ia cari. Tapi sekilas pemilik gerai itu tersenyum kecut dan geli. “apa
yang salah dengan hal yang aku cari?” katanya. Hal itu juga terulang saben ia
memasuki toko laninnya.
Pada suatu gang ia temukan
iklan yang tak bergambar. Hanya tulisan. Dan ia membacanya perlahan.
Membayangkan dan mencoba mengenali huruf-huruf yang baru saja ia lihat. kami
menyediakan semua. Bunyi iklan itu. ia harus pergi kesana dan menemukan
yang ia cari. Kotak ketawa.
Ia harus berjalan
keterminal, menaiki bus ke arah barat sampai pada terminal selanjutnya. dan
turun menaiki andong atau becak, atau nyewa sepedah atau kalau mau lebih irit
kau boleh jalan kaki. Karena jarak tempat itu tak jauh dari terminal terakhir
itu. itulah yang ia dapatkan dari seorang ibu-ibu yang sedang menetek anaknya
di suatu toko yang sepi (pelanggan dan dagangan). Mungkin tokoh utama kita
membeli salah satu barang yang di jual disana sebagai ucapan terimakasih.
Dan ia sampai disana tanpa tanda tanya lagi. Ia sudah menemukannya dengan
mudah dan mendapatkannya apa yang ia butuhkan. Kotak ketawa dengan warna yang
ia sukai. Biru. Ia membelinya dengan murah. Dan sekarang ia membukusnya mirip
seperti kado.
Fikirnya mengembang
kembali saat mengingat penjelas penjual tadi “kotak ini bisa membuatmu
tersenyum dan bisa membuatmu ketawa”. Ia punya rencana sekarang. Ia harus
memberi tahu kekasihnya saat jamuan makan malam untuk memasangnya.
***
Dan malam itu tiba
sekarang. Ia menutup matanya sangat dalam dan mencium bau parfumnya. Ia
berfikir mungkin sudah waktunya untuk membuka mata. ia memulainya. Membuka mata
sanngat pelan, pelan dan akhirnya jelas. Bahwa ia tetap saja disana. menjadi
manekin yang tak pernah hidup seperti itu. Tetap dalam toko dan etalase.
.png)


0 komentar: